Oleh:

Abdul Qodir Shaleh

 

Kondisi sosial, ekonomi, politik, dan stabilitas di negeri ini telah menciptakan sebuah kondisi yang tidak menentu bagi kehidupan masyarakat. Ada sebuah kegamangan yang memilukan akibat realitas hidup dijalani masyarakat. Indikasinya jelas: degradasi moral di berbagai lini kehidupan dan tingkatan sosial membuat stabilitas dari keyakinan masyarakat akan kehidupannya kian merosot. Akibatnya, masyarakat berada dalam kondisi terhimpit dan mengalami kuldesak atau kalau masih mampu bergerak tetjebak ke dalam labirin tiada ujung. Sejauh itukah?

Kehidupan modern yang serba pragmatis dan menunjukkan "arogansi" kehidupan membuat masyarakat seakan terbuai. Di satu sisi, modernitas membuat jiwa-jiwa manusia memburu waktu dan kesempatan, serta menjanjikan kesenangan, sehingga yang tidak kuat akan terdepak, sedang yang kuat akan terus melaju menggilas di jalan sempit memburu berbagai kepentingan.

Akibatnya, banyak yang menghalalkan segala cara dan kemudian tidak mengindahkan moral dan spiritualitas. Namun, di sisi lain, efek modemitas membuat banyak orang mulai gerah, karena modernitas ternyata telah menghampakan dan mengerdilkan jiwa mereka, hingga kemudian banyak yang tersadar akan jati dirinya dan kemudian kembali kepada fitrahnya sebagai manusia. Kemudian muncullah keinginan untuk kembali kepada nilai-nilai spiritualisme untuk memperkuat dan menyeimbangkan nilai-nilai kehidupan.

Dalam dunia buku, fenomena spiritualisme semakin terasa beberapa tahun terakhir. Dengan kondisi kemasyarakatan dan kebangsaan negeri ini  yang masih labil dan terjebak krisis multidimensi, masyarakat merindukan sesuatu yang sejuk dan menenangkan. Karena itu, dunia buku pun terkena imbas yang cukup signifikan dengan kesadaran spiritualitas masyarakat ini. Buku sebagai jendela informas yang sangat luas menjadi pilihan strategis. Mereka menganggap buku merupakan media yang pas untuk memuaskan dahaga jiwa mereka. Selain karena akan mendapatkan banyak informasi dalam satu kemasan yang utuh, mereka juga akan mendapatkan sebuah pencerahan batin yang akan mempersuasi jiwa-jiwa mereka untuk beranjak menuruti pitutur buku yang mereka baca.

 

Dua Varian

Secara kategoris, umumnya dunia buku menyediakan dua varian bagi para pencari ketenangan batin ini. Yang pertama, buku yang bersifat psikologi-spiritual atau manajemen spiritual. Varian ini adalah buku pandu kejiwaan yang berusaha mempersuasi dan mengarahkan pembaca menuju arah spiritualitas yang akan menjanjikan ketenangan batin. Biasanya, buku -buku corak ini adalah buku-buku yang mempunyai sistematika bahasan jelas, mempunyai gerak pandu yang teratur, disertai berbagai teori atau dalil serta logika berpikir yang valid dan menggerakkan, serta ditulis dengan nada yang persuasif dan empatik sehingga memudahkan pembaca untuk meyakini dan mempraktikkannya.

Ada juga buku yang sengaja dibuat unttik menjadi panduan seminar penjernihan jiwa yang dilakukan penulisnya. Contoh jenis buku ini adalah ESQ Power yang ditulis Ary Ginandjar dengan berbagai seminar dan pelatihan pribadi yang dikembangkannya. Juga buku-buku sejenis yang beredar di pasaran seperti SSQ: Solution Spiritual Quotient,  Step Spiritual Quotient, atau bisa juga buku Lentera Hati: Mata Air Ketenangan dan Kebahagiaan Hidup di Dunia dan Akhirat karangan Ali Umar dan btiku La Tahzan (Jangan Bersedih) karya Dr 'Aidh Al-Qarni yang bestseller beberapa waktu silam.

Varian kedua bersifat spiritual praktis. Yang masuk dalam kategori ini adalah buku-buku yang menyajikan secara langsung berbagai hal berkenaan dengan ibadah secara praktis. Biasanya buku-buku ini mengetengahkan panduan beribadah disertai dengan berbagai rahasia dan sesuatu yang patut untuk dihayati dan diamalakan sehingga akan meningkatkan kualitas hidup dan keberagamaan seseorang, yang pada tataran selanjutnya akan membuat jiwa-jiwa gersang mereka terpuaskan. Beberapa buku yang masuk dalam kategori ini, di antaranya Shalat Khyusuk Pemenang Hati, Mukjizat Gerakan Shalat, Terapi Shalat Tahajud, Doa dan Dzikir Lengkap Ajaran Nabi, hingga yang bestseller saat ini, Misteri Sholat Subuh, yang menurut penerbitnya sudah terjual 150.000 eksamplar.

Apa yang ingin disampaikan adalah pergeseran minat baca masyarakat sekarang yang mulai kembali kepada nilai-nilai spiritualitas. Setidaknya ini ditunjukkan dalam beberapa tahun terakhir dengan bestseller-nya beberapa buku-buku yang mengusung nilai-nilai itu. Di tengah terpuruknya masyarakat akibat realitas hidup yang sulit, mereka butuh pegangan untuk menjalani kehidupan dengan kuat dan mampu menjadikan kehidupan mereka tenang dan damai. Pada akhirnya, mereka berharap bisa menjalani kehidupan ini dengan seimbang, tanpa harus berpihak kepada salah satu sisi. Duniawi harus seimbang dengan ukhrawi, profanitas harus seimbang dengan spiritualitas.

Pada kenyataannya, spiritualisme yang menjadi respons bagi modemisme yang "mengerdilkan" manusia juga merambah dan memengaruhi dunia perbukuan di negeri ini. Paling tidak, dari fakta-fakta di atas, dunia buku menjadi semarak dan mendapatkan eksistensinya dalam memberikan pcncerahan dan pemberdayaan yang sebenarnya bagi kehidupan masyarakat. Karena memang seperti itulah tugas utama buku. Karena itu, produsen buku tidak boleh terpaku kepada logika menyenangkan pasar dengan memberikan ulasan-ulasan yang menghibur semata, tanpa disertai dengan upaya melakukan pendidikan dan pembelajaran. Menghibur boleh, tapi harus disertai unsur pemberdayaan, sehingga masyarakat tidak hanya membeli utopia imajinatif tapi juga membeli kecerdasan dan pencerahan yang akan meningkatkan kualitas hidup pembacanya.

Jadi, biarkan kejujuran dan idealism berbicara. Kalau pragmatisme yang dikedepankan terus, akan seperti apa kita nanti ?

Sumber : Radar Bandung, 10 Desember 2006

Kembali