Diplomasi Buku
Oleh:
Muhidin M.Dahlan
“Subandrio with best whises James Dewey, Jan 1959.”
Litografi itu terdapat dalam buku koleksi P.M Subandrio berjudul Flowering Lotus: A view of Java karya Harold Foster (Longmans, Green and Co Ltd, 1958). Buku itu, bersama 200-an buku koleksi lainnya dari sang perdana mentri pada era senjakala kekuasaan Sukarno, ditemukan Newseum Indonesia/Warung Arsip tersebar di pasar-pasar buku loak di Jakarta.
Di satu sisi, kita berpikir bagaimana mungkin buku-buku penting dalam sejarah bacaan pejabat negara di sebuah era itu bisa terlempar di jalanan. Namun, menyimak sejarah ironi buku sudahlah kabar ini hanya menambah deretan panjang ironi koleksi buku tokoh bangsa tetrmasuk buku Soekarno, Hatta, Adam Malik hingga PK. Ojong. Saya tak membiarkan soal tercecernya koleksi serta sejarah panjang pengumpulan dan kedatangannya itu.
Yang pasti, menghadapi koleksi buku seseorang kita dipertemukan dengan bentangan khasanah sejarah pemikiran, kecintaan dan bahkan kegilaan dunia literer sang pemilik. Item koleksi buku juga menuntun kita mengenang sejarah persahabatan yang dibangun dari buah tangan bernama buku. Beberapa litografi yang tercetak dalam buku Mas Ban demikian P.M Subandrio dipanggil para sahabatnya menunjukan bagaimana buku menjadi alat diplomasi jembatan keramahan serta tentu saja kenangan yang tak mudah pudar.
Gagasan membuat buku menjadi bagian dari diplomasi yang bisa menyelesaikan banyak soal. Bayangkan saja, kita punya ratusan anggota legislatif, ratusan diplomat, ribuan pejabat baik di pusat maupun di daerah, dan dipimpin oleh seorang presiden yang peka terhadap kultur buku. Jumlah tersebut sudah lebih dari cukup untuk menjadi “penjual" terdepan khasanah daya-budi kita, bukan sekadar penjual daya-alam.
Kegairahan yang lain tentu saja menyibukkan kita untuk mengeluarkan 100 daftar judul buku setiap tahun, yang senantiasa menjadi alat diplomasi dan uluk-salam persahabatan. Ratusan buku terpilih dengan sampul yang dibikin artistik, baik klasik maupun kontemporer, biografi maupun sastra, yang diterjemahkan ke dalam bahasa lingua franca dunia.
Itu semua dikerjakan secara harian, reguler, dan tidak grasah-grusuh, tergesa-gesa, seperti ketika mengerjakan "proyek dadakan" yang umumnya menjadi bagian tak terpisahkan dari kultur kerja kita.
Bayangkan, pada setiap akhir kunjungan tamu penting negara, sang presiden merunduk untuk membubuhkan litografi pada sebuah buku yang menjadi perekat persahabatan. Bayangkan pula pembubuhan litografi itu dilakukan semua menteri bersama menteri-menteri antar-negara sepergaulannya, atau antar-anggota parlemen dunia dan antar-kedutaan besar yang terserak di semua ceruk buana ini.
Diplomasi buku adalah jalan menggairahkan bagi dunia buku kita yang lesu darah. Ini juga cara kita menunjukkan bagaimana pemangku negeri ini memiliki kepedulian yang nyata terhadap jalannya sejarah perbukuan Indonesia. Dengan demikian, buku tetap kita beri ruang sebagai kaki kebudayaan yang membawa isi kepala kita mengetuk pintu peradaban dunia lain lewat ritus diplomasi yang bermartabat.
Sumber : Koran Tempo, 27 November 2014