Oleh:

Tiasno Sudarto

 

Ketika mantan presiden Indonesia ketiga B.J. Habibie menerbitkan buku ''Detik-Detik Yang Menentukan" jagat perpolitikan Indonesia cukup hangat. Ingatan kolektif bangsa ini tentang kerusuhan Mei 1998 pun kembali diputar ulang. Sebagai sebuah buku, karya mantan Menristek era Pak Harto menimbulkan pro-kontra. Prabowo dan Wiranto, dua jenderal yang dibicarakan dalam buku tersebut memberikan komentar dan reaksi yang berbeda-beda

Terlepas dari perbedaan memaknai peristiwa tersebut, dalam perspektif dunia perbukuan terbitnya buku karya Habibie dan reaksi dari Prabowo dan Wiranto memberi pelajaran yang baik. Ketika orang besar bangsa ini telah menemukan gagasan, pandangan, dan kesaksian terhadap peristiwa Mei lewat buku. Sebelum buku karya mantan menristek era Pak Harto ini terbit, kedua jenderal itu sebelumnya telah mengeluarkan buku juga.

Pelajaran yang baik itu adalah masyakarat diberi ruang yang cukup untuk berdiskusi dan mempunyai pandangan sendiri terhadap peristiwa Mei. Artinya, ketika ruang untuk berdiskusi cukup, kebenaran sejarah tidak didominasi oleh satu pihak. Karena sejarah yang didominasi oleh satu pihak bisa menimbulkan pengaburan atas peristiwa sejarah itu sendiri. Jika ini yang terjadi, penulisan sejarah akan berhenti. Padahal, kebenaran atas sejarah bersifat sementara. Ketika sejarah ditulis ulang, pasti akan muncul data, fakta, dan interpretasi baru atas peristiwa yang sama.

Munculnya hal-hal baru dalam penulisan sejarah akan menyuburkan dunia perbukuan. Bangsa ini jadinya kaya akan bacaan dan semakin banyak bacaan akan semakin baik bagi kemajuan bangsa ini. Sejarah membuktikan bangsa-bangsa yang maju selalu mempunyai jumlah terbitan buku yang banyak. Alasannya, bacaan yang baik akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Bangsa Jepang yang bisa keluar dari keterpurukannya setelah kalah dalam perang dunia kedua, menerbitkan setidaknya 100.000 judul buku baru per tahun. Di kereta-kereta api di Tokyo kita dengan mudah menemukan para penumpang asyik membaca bukunya masing -masing.

Contoh lainnnya.adalah India. Negara yang kini sangat maju dalam bidang IT (information technology) menerbitkan setidaknya 6o.ooo judul buku baru per tahunnya. Industri perbukuan India sangat maju. Peristiwa pameran buku di Calcuta India termasuk pameran buku yang ditunggu-tunggu industri perbukuan dunia. Pameran di Calcuta ini setidaknya menjadi sepuluh besar pameran buku di dunia.

 

Milik semua

Kalau bangsa ini mau maju, salah satu cara yang bisa menjadi pendorongnya adalah menggairahkan dunia perbukuan selain dunia pendidikan. Celakanya, dunia pendidikan sangat membutuhkan bacaan yang baik. Selama ini dunia perbukuan Indonesia berjalan di tempat. Bahkan, lebih sering muncul keluhan-keluhan tentang tidak berkembangnya dunia perbukuan Indonesia.

Coba tengok alasan yang seringkali dikemukakan atas tidak berkembangnya dunia perbukuan Indonesia: rendahnya minat baca, kurangnya daya beli, susahnya mendapatkan buku, kurang pedulinya pemerintah, tidak mudahnya mendapatkan penulis, dan alasan-alasan yang sepertinya benar, padahal hanyalah bersifat pembenaran.

Alasan-alasan tersebut tentu saja melemahkan motivasi dan semangat kita untuk menghadirkan bacaan yang baik bagi masyarakat. Kita seolah-olah dihadapkan pada kondisi yang sangat buruk dan sama sekali tidak bisa diperbaiki. Dunia perbukuan pun seolah-olah tidak punya peluang untuk berkembang. Sikap mencari kambing hitam inilah yang menyebabkan dunia perbukuan Indonesia hanya mampu menghasilkan buku baru kurang dari 10.000 buku per tahun.

Di luar faktor eksternal yang memang perlu waktu untuk mengubahnya, sebenarnya keinginan untuk menghadirkan bacaan yang sehat bisa dimulai oleh setiap orang. Jika setiap orang dari bangsa ini mau berbagi pengetahuan, pengalaman, pandangan, atau gagasannya lewat buku, perbukuan Indonesia akan meningkat.

Jika kita perhatikan buku-buku yang terbit dan beredar di toko buku, sebenarnya kita patut prihatin .Mayoritas buku yang tersedia ternyata hasil terjemahan dari karya penulis luar, sangat sedikit yang merupakan karya anak bangsa. Artinya, kita selama ini cenderung menjadi konsumen. Padahal, kita tahu dari setiap buku yang terjual penulisnya mendapatkan royalti. Tentu kita masih ingat, bagaimana seorang penulis seperti J.K. Rowling mampu menghasilkan uang dan royalti buku Harry Potter melebihi kekayaan Ratu Elizabet.

Kondisi ini tentu bisa menjadi gambararan bagaimana seharusnya kita memperlakukan buku. Kalau selama ini kita menganggap bahwa buku harus selalu merupakan karya masterpiece dari penulisnya, tentunya kita perlu prihatin. Karena hanya kalangan tertentu juga yang bisa mengonsumsi buku tersebut. Padahal, konsumen buku itu macam-macam. Kebutuhan anak dan remaja tentu berbeda dengan kalangan ibu-ibu.

Perbedaan kebutuhan itu seharusnya mendorong kalangan perbukuan untuk menghasilkan buku yang macam-macam. Di luar fungsinya sebagai sumber ilmu pengetalman, temyata buku bisa menjadi sarana hiburan, guru tanpa kelas, sumber motivasi dan inspirasi, juga sebagai panduan menyelesaikan berbagai persoalan. Kalau itu yang terjadi, buku akan menjadi milik semua orang dan dampaknya tentu sangat baik bagi kemajuan bangsa ini.

Supaya buku bisa menjadi milik semua orang, lantas apa yang perlu dilakukan? Salah satu kelemahan bangsa ini adalah kemalasan untuk menulis berbagai  hal yang dialaminya. Itulah sebabnya budaya Indonesia sangat miskin dengan tradisi menulis dibandingkan dengan tradisi lisan. Dalam konteks ini, langkah yang dilakukan B.J. Habibie untuk menuliskan pengalaman dan pendapatnya lewat buku patut mendapat acungan jempol.

B.J. Habibie memberi pelajaran berharga bahwa perbedaan pendapat adalah  keniscayaan dalam hidup. Setiap orang berhak mempunyai pendapatnya rnasing-masing. Habibie sadar betul bahwa pendapatnya yang diungkapkan lewat buku akan memunculkan pendapat lain, dan ini sah-sah saja.  Dengan adanya buku Habibie, peristiwa Mei kembali menjadi sorotan. Berbagai opini, artikel, tulisan, dan buku kembali muncul ke permukaan. Prabowo Sang Kontoversi, Kontroversi 'kudeta' Prabowo,  Wiranto, Prabowo, dan Habibie Bersaksi, sampai Perang Panglima adalah contoh-contoh buku yang muncul pasca terbitnya buku "Detik-Detik Yang Menentukan".

Kejadian itu membuktikan bahwa banyak sisi lain dari sejarah Indonesia yang sejajar dengan belum diungkap, dan  ternyata banyak orang yang bisa menjadi penulis. Orang boleh saja tidak setuju dengan pendapat orang lain, tetapi bisa diungkapkan dengan cara yang lebih elegan dan intelektual. Dalam asumsi ini, “berperang” ternyata tidak harus melulu dengan senjata, tetapi juga lewat buku.

 

Peperangan lewat selain tidak membawa korban jiwa dan kerusakan materiil yang banyak, ternyata juga menggairahkan tradisi menulis bagi bangsa ini. Dengan asumsi bahwa untuk menulis satu buku seseorang harus membaca setidaknya lima buku sebagai bahan referensi tentunya bangsa ini akan kaya dengan berbagai bacaan. Pepatah Cina mengatakan, jika kita ini hidup puluhan tahun, tanamlah pohon, jika kita ini hidup seratus tahun, maka menikahlah. Namun, jika kita ingin hidup seribu tahun, maka buatlah buku. Pepatah ini menjadi relevan karena lewat bukulah kita mengenal pemikiran orang-orang hebat yang telah meninggal puluhan, ratusan, bahkan ribuan tahun lalu. Lewat bukulah kita mengenal Jalaluddin Rumi, Kahlil Gibran, Soekarno, Hatta, Syahril, dan tokoh-tokoh lainnya.

Bapak-bapak pendiri bangsa ini tentu sadar akan manfaat buku bagi generasi penerusnya. Soekarno kita kenal dengan baik·karena karyanya Di Bawah Bendera Revolusi yang dapat kita baca hingga kini. Sayangnya, bangsa ini tidak banyak mempunyai tokoh sekaliber Soekarno, yang selain politikus, negarawan, juga penulis andal.

Kadang-kadang penulis malu kalau mau mengetahui sejarah Indonesia. Buku-buku tentang sejarah Indonesia, justru banyak ditulis oleh orang asing. Para mahasiswa tingkat doktoral di berbagai negara termasuk mahasiswa Indonesia yang mengambil studi sejarah Indonesia untuk menghasilkan disertasinya justru harus pergi ke Leiden Belanda, bukan ke Jakarta atau ke Yogyakarta. Walaupun alasannya sangat logis, karena di Leidenlah bukti-bukti tertulis bisa ditemukan. Namun, sebagai rakyat Indonesia kondisi ini tentu kurang kondusif

Kini saatnya bangsa Indonesia menulis sejarahnya sendiri dan mari "berperang" dengan buku. Semakin banyak buku yang bisa ditulis dan dihasilkan bangsa ini semakin tinggilah kemungkinan bangsa ini mencapai kemajuan dan layak sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Sumber: Pikiran Rakyat,  29 Juni 2007

Kembali