Oleh:

M. Fauzi Sukri

 

Yang menakjubkan dari buku pelajaran sekolah atau buku kurikulum pendidikan dalam biografi/otobiografi, hampir tidak ada seorang cendekiawan, intelektual, sastrawan, penulis, bahkan guru dan ilmuwan Indonesia, yang menyatakan bahwa buku pelajaran sekolah adalah buku favorit mereka yang layak dikoleksi, apalagi akan dianggap sebagai buku yang benar-benar berpengaruh dalam hidup (intelektual) mereka. Tragis-ironis?

Setiap tahun ajaran baru, hampir setiap orang tua murid harus mencari dan membelikan buku baru, meski terkadang cuma ada sedikit revisi atau sekadar ganti sampul. Ini semacam perintah sekolah atau perintah lembaga pendidikan negara. Siswapun sedih jika tidak memiliki buku pelajaran sekolah., karena malu kepada teman-temannya

 

Pembudayaan literasi

Dalam sejarah pembudayaan literasi bangsa Indonesia, barangkali baru pada tahun ajaran barulah banyak orang tua membelikan buku untuk anak-anaknya. Tragisnya, itu adalah buku pelajaran yang akan dilupakan oleh anak-anaknya. Buku pelajaran sekolah (juga buku LKS) hampir tak pemah mengajarkan kecintaan pada memiliki buku dan pembudayaan membaca buku.

Dalam membaca buku pelajaran sekolah atau LKS, membaca adalah sebuah perintah yang sering dianggap tak menyenangkan dan menyakitkan, bukan sebagai kecintaan yang datang dari keingintahuan yang besar, hasrat akan ilmu pengetahuan. Di sekolah hampir-hampir tak ada pelajaran tentang cara-cara membaca, katakanlah dari membaca secara reseptif, membaca kritis, membaca secara komparatif, hingga membaca pada tahap otoritatif. Di rumah, sebagian orang tua akan menganggap anaknya tidak belajar jika membaca bukan buku pelajaran, apalagi buku sastra atau filsafat. Bagi seorang pelajar atau mahasiswa, membaca dua buku terakhir ini oleh orang tua sering tidak dianggap sebagai belajar. Padahal, kita harus jujur, membaca adalah jalan ilmu pengetahuan yang paling dasar dan awal.

Sejak awal, pembudayaan literasi tidak didasarkan pada perkembangan atau penambahan referensi yang semakin mengarah pada buku-buku otoritatif-referensial, melainkan lebih pada buku-buku yang sudah sejak awal dipersepsikan (dan diajarkan) untuk segera ditinggalkan dan dilupakan. Akibat yang tragis-ironis dari sistem pembudayaan literasi ini, setiap cendekiawan, intelektual, atau pemikir bangsa ini harus memulai sendiri dari awal, membaca dari awal lagi buku-buku yang didasari bidang keilmuan yang ingin ditekuninya, meski sudah sangat terlambat.

Pembelajaran dan pembacaan buku pelajaran di sekolah, bisa dibilang, tak memberikan dasar atau membimbing ke arah buku yang bersifat berjenjang, dari pengantar awal sampai membaca buku yang otoritatif dalam satu bidang keilmuan atau transkeilmuan. Padahal, tanpa hal itu, Indonesia tak bisa mengembangkan dan melahlrkan pemikir, intelektual, ilmuwan yang kuat. Dan itu artinya, bangsa Indonesia susah menghasilkan inovasi pemikiran, teknologi atau terobosan keilmuan yang baik atau berkelas internasional. Ini disadari betul oleh mereka yang sudah sampai pada pendidikan tingkat doktoral, terutama yang kuliah di universitas luar negeri yang bereputasi secara ilmiah.

 

Tradisi humanistik

Semua itu tidak mengherankan. Menurut sosiolog Ignas Kleden (dalam Idi Subandy Ibrahim, 2007:318), persoalan membaca buku, perlakuan terhadap buku, dan penggunaan buku dalam kehidupan sehari-hari adalah persoalan sosial-budaya. Dalam kehidupan sehari-hari, hampir bisa dipastikan bahwa sebagian besar kehidupan masyarakat kita adalah kehidupan tanpa ada bimbingan, percakapan, atau gurauan yang terkait disandarkan pada buku. Sebagian besar masyarakat hidup tanpa buku, berumah tanpa buku, melakukan pergaulan kemasyarakatan tanpa buku. Tak ada ruang bagi kehidupan berbuku. Dari awal sekolah dan dari rumah, kehidupan masyarakat tak disertai tradisi penghormatan pada buku. Di sekolah atau di rumah, tak ada pemupukan tradisi humanistik.

Maka, menurut sejarawan Taufik Abdullah (1997), dalam merumuskan strategi mengembangkan pembudayaan membaca di kalangan masyarakat Indonesia, salah satu aspek yang tak bisa dilupakan adalah pemupukan tradisi humanistik. Tradisi ini membentuk hasrat untuk memasuki dunia teks—wilayah  the written words—bukan  sebagai suatu keharusan kerja atau mengisi pertanyaan ujian, melainkan sebagai sebuah kenikmatan yang memperkaya wawasan intelektual dan kultural. Tradisi humanistik adalah undangan untuk melibatkan diri dalam wacana intelektual dan menjadikan perilaku membaca sebagai keharusan inspiratif, yang datang dari dalam, bukan dari luar diri.

Tapi, tradisi humanistik ini barangkali hanya dinikmati dan dialami oleh generasi pertama Indonesia yang masih mendapatkannya saat mereka bersekolah dalam naungan kolonialisme Belanda dan generasi awal kemerdekaan yang masih sangat berbau humaniora dalam pendidikan-pengajarannya. Di Eropa dan Amerika Serikat (juga Jepang), sebagaimana kita tahu, pada awal perkembangan pendidikan-pengajaran kebudayaan mereka, tradisi humaniora menjadi fondasi pendidikan-pengajaran, yang melahirkan banyak temuan-temuan ilmiah dan teknologi.

Tapi, sejak Soeharto berkuasa, perlahan tradisi humaniora dalam pendidikan mulai dihilangkan. Pengajaran berbasis verbalisme-literasi yang menjadi fondasi tradisi humaniora digantikan dengan realism (empirisme) yang menghasilkan pemisahan IPA dan IPS (tentu saja IPS akhirnya direndahkan). Peralihan ini, maunya, hendak menghasilkan ilmuwan (alam) yang terlatih observasional-lingkungan (alam), meski dalam praktek pengajaran-pendidikannya, siswa hanya mendengarkan, bukan melakukan penelitian. Alasan politisnya sederhana untuk mengatasi ketertinggalan ekonomi dan anutan ideologi pembangunanisme, Soeharto harus menghasilkan teknolog-teknolog, ahli-ahli berbagai teknik (hal yang memasyhurkan ITB), atau manusia-manusia yang lebih cakap dalam teknik, bukan manusia yang memiliki daya imajinasi-kreatif, meski dalam hal teknologi.

Pada masa kepemimpinan Fuad Hasan(1985-1993), dalam dunia Pendidikan-pengajaran, tradisi humaniora pernah menjadi wacana publik, tapi hanya sebagai selingan ia tak mampu menggeser apalagi meruntuhkan bangunan struktural pengajaran-pendidikan yang sudah berakar. Dan, beberapa waktu yang lalu, salah satu pendidik-pengajar terbaik Indonesia, Yohanes Surya, memperkenalkan kembali tradisi humaniora dengan menerbitkan novel sains-ilmiah (ingat novel ilmiah populer Stephen Hawking?). Tampaknya disadari bahwa membaca, yang menjadi fondasi tradisi humaniora, tidak mungkin dilepaskan untuk pengembangan sains teknologi. Ah, betapa terlambatnya.

Maka, yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana memulai semua itu dari sekolah dan rumah?

Sumber : Koran Tempo, 6 Januari 2013

Kembali