Oleh:

Garin Nugroho

 

 

Pameran buku murah? Apakah benar dijual buku-buku murah dan terjangkau masyarakat secara umum? Ini pertanyaan awal saya ketika diminta untuk menulis artikel berkenaan pameran buku yang selalu diadakan oleh PT Buka Buku Production. Buku adalah sesuatu yang bisa mengubah hidup.

Bagi umat manusia, buku menjadi sarana penting untuk memajukan peradaban. Dengan buku, manusia mengakumulasi ilmu pengetahuan hingga membentuk peradaban yang semakin sempurna. Bagi manusia Indonesia yang sering dikritik karena memiliki "ingatan pendek", buku akan sangat membantu kita mempelajari dan mengingat berbagai hal, agar kita bisa menjadi lebih cerdas, inklusif, toleran, dan produktif.

Sangat ironis memang, disaat kita hampir memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional harapan-harapan tersebut seakan hanya tinggal harapan. Peradaban yang seharusnya sudah bisa kita nikmati bersama dengan lajunya kemajuan negara lain di hiding budaya, teknologi, toleransi, dan keberagaman, justru kita terpuruk dalam simbol-simbol sektarian dan golongan. Seharusnya buku tidak hanya sarana untuk memperluas cakrawala ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai wahana manusia mengekspresikan diri dan mengidentifikasi diri. Bagi pembacanya, buku juga merupakan simbol gaya hidup (lifestyle) yaitu gaya hidup yang cerdas (smart), toleran, dan inklusif. Selain sebagai kebutuhan, membaca memang merupakan gaya hidup dalam masyarakat modern, yaitu masyarakat yang mempunyai karakter. Bangsa ini seharusnya mempunyai character building dalam keberagaman etnis, budaya, agama, dan golongan.

Geliat penerbitan dewasa ini, perkembangan industri perbukuan di Indonesia sedang mendaki menuju titik puncak. Indikatornya antara lain: 1) Tingginya jumlah judul baru, yang diperkirakan mencapai 15.000 judul per tahun. 2) Meningkatnya oplah rata-rata  per judul buku. 3) Semakin banyak dan luasnya jaringan pengecer buku. 4) Regenerasi penulis yang semakin cepat. 5) Munculnya penerbit-penerbit baru yang dikelola lebih rasional dengan manajemen lebih baik; serta 6) Semakin luasnya tema yang digarap untuk diterbitkan menjadi sebuah buku.

Semakin banyak segmen masyarakat yang mulai suka membaca buku. Di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda, buku juga menjadi sesuatu yang diburu. Mengapa? Alasannya, mereka telah mampu memosisikan buku sebagai referensi penting dalam pergaulan sosial mereka. Buku menjadi acuan bagi mereka yang ingin menggagas masa depannya sendiri. Buku telah menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka, baik di masa kini apalagi masa depan.

Namun sayangnya, masih ada keluhan tentang harga buku yang terlalu mahal. Bagi segmen masyarakat kelas atas buku seharga Rp 100.000,00 akan tetap diburu. Tapi bagi rata-rata masyarakqt kita, mengeluarkan uang untuk membeli buku (yang tidak enak dimakan) masih menjadi sesuatu yang absurd.

Pertanyaan besarnya, dapatkah harga buku jadi semurah mungkin, tanpa mengurangi kualitas? Menjawab pertanyaan ini, dibutuhkan dua langkah yang harus dilakukan secara simultan. Pertama, terus memberikan pencerahan kepada masyarakat mengenai pentingnya membaca buku. Masyarakat harus bisa mencerna logika bahwa enggan membaca erat kaitannya dengan kebodohan, dan kebodohan erat kaitannya dengan kemiskinan. Jadi, reading habit akan sangat bermanfaat untuk memperluas wawasan, pengetahuan, dan akhirnya meningkatkan taraf hidup serta kesejahteraan.

Kampanye perbukuan bukan  hanya tugas pemerintah (c.q. Depdiknas), LSM, akademisi, media massa, atau dunia penerbitan itu sendiri. Ini adalah tugas bersama. Yang dilakukan event organizer (EO) untuk menggelar rangkaian pameran di berbagai kota sudah merupakan bentuk kampanye perbukuan nasional agar masyarakat lebih menyadari manfaat membaca buku.

Kedua, upaya terus-menerus membuat harga buku agar lebih terjangkau. Penerbit dan EO pameran buku berperan strategis. Rata-rata oplah buku yang semakin meningkat tentu berpengaruh terhadap struktur biaya produksi, promosi, dan distribusi. Jika dikelola dengan baik, penerbit dapat mengompensasikan perubahan struktur biaya tersebut ke harga jual konsumen. Artinya, harga buku dapat  ditekan.

 

 

 

Minat baca

Pameran buku yang dilakukan PT Buka Buku Productiondi sekitar 24 kota/kabupaten di Pulau Jawa merupakan salah satu sumbangsih yang tidak kecil untuk meningkatkan minat baca di daerah. Masyarakat yang datang bisa mengenal beraneka macam buku. Masyarakat diberikan informasi lain bahwa ada buku yang menarik dan mungkin lebih menarik dari sekedar buku pelajaran yang selama ini mereka baca dan lihat. Dengan keanekaragaman bahan bacaan ini akan memacu minat baca masyarakat terlibat dalam memacu dan membangun minat baca lokal. Mereka dapat menggali ide-ide budaya lokal untuk ditulis dan diwacanakan ke dalam kancah nasional. Mereka dapat membentengi diri dari serbuan budaya hedonis yang merebak sampai ke desa-desa. Tentunya peran EO pameran adalah menggelar berbagai event sebagai sarana mendorong terciptanya masyarakat yang gemar membaca (reading society), masyarakat yang mau menghargai akar budayanya.

Untuk membeli buku murah, pameran buku adalah wahana ideal untuk bertemunya penerbit dan konsumennya secara langsung. Tanpa mengurangi profit margin, penerbit dapat memberi diskon besar bagi pembeli. Pengunjung pameran pun mendapat manfaat lebih bukan hanya membeli dengan harga murah, tetapi juga berkesempatan meraih doorprize dan aneka hadiah lainnya.

Yang lebih strategis lagi, frekuensi pameran yang semakin sering (apalagi jika diadakan di kota-kota kecil yang belum memiliki banyak toko buku) jelas menimbulkan dampak makro yang positif. Setidaknya, promo yang digenjot EO pameran akan membuka mata masyarakat tentang pentingnya buku dan aktivitas membaca. Dalam jangka panjang, masyarakat jadi sadar tentang makna buku. Katakanlah banyak di antara mereka yang sudah telanjur tak mau baca buku, namun mereka toh akan membeli buku juga buat anak-anak mereka.

Volume pasar (market size) buku secara nasional akan membesar sehingga penerbitan akan memasuki mass market industry. Ketika penerbitan memasuki skala industri massal, banyak yang bisa dihemat. Jadi, harga buku bisa turun secara signifikan, dan tidak ada lagi keluhan buku mahal. Akhirnya saya mengucapkan selamat berpameran kepada Buka Buku Production dan Pikiran Rakyat yang telah membantu terciptanya masyarakat baca.

Sumber: Pikiran Rakyat, 28 Juni 2007

Kembali