Dicari, Buku-Buku Yang Mencerdaskan
Oleh:
Burhanudddin
Prof. Dr. Yohanes Surya punya pengalaman saat pertama kali menginjakan kaki di Physics Dapartement College Wiliam and Marry,AS, untuk melanjutkan studi pada 1988. Di perpustakaan jurusan fisika, dia dihadapkan pada begitu banyak deretan buku.
Sebagai orang yang hobi membaca, dia merasa menikmati pesta besar. Satu demi satu buku ia ambil, halaman demi halaman dilihat dan dibacanya sampai malam.
Dari ratusan buku, dia memilih buku-buku yang bagus dan dapat mendukung perkulihan. Dia menyebutnya sebagai buku pelajar yang mencerdaskan, buku yang dapat menyelesaikan berbagai soal dalam subjek yang dipelajari.
“Juga dapat memberikan dorongan dan motivasi untuk terus mempelajari dan mendalami subjek yang dipelajarinya, bias mengembangkan kreativitas pembacanya,” kata Pembina Tim Olimpiade Fisika Indonesia itu, dalam seminar di Jakarta.
Yohanes menyebut beberapa unsur dalam buku yang mencerdaskan. Antara lain, menyajikan konsep secara sederhana dan mudah. Bahasa yang digunakan tidak berbelit-belit dan kalimatnya sederhana. Konsep diberikan secara bertahap satu demi satu hingga mudah dipahami, meningkatkan kreativitas melalui pemahaman konsep atau teori dasar dengan berbagai cara, dapat melatih kreativitas melalui penerapan konsep atau percobaan-percobaan, menggunakan alat bantu yang mudah dan sederhana, membahas soal secara bertahap dari mudah hingga agak sulit, dan memberikan aplikasi dalam kehidupan nyata.
Bagaimana dengan buku-buku pelajaan di Indonesia ? Herwono. CEO Mizan Learning Center, melihat sebagian besar materi pelajaran yang diajarkan di sekolah-sekolah—seperti sejarah, kimia, fisika, bahasa, dan lain-lain—tidak banyak berubah, dari dulu hingga sekarang. “jika toh berubah, perubahan itu tidak sangat signifikan,” katanya pada seminar yang sama.
Menurut Herwono, salah satu medium penting yang digunakan untuk menyerap ilmu dari sebuah buku adalah bahasa. Baik-buruk dan menyenangkan–tidak menyenangkannya sebuah buku tidak akan mampu memberdayakan pembacanya. Bahasa tulis yang indah, mengugah, dan mencerahkan penalaranlah yang akan mampu memperkaya gagasan dan wawasan seseorang. Dalam konteks buku pelajaran, mau tidak mau harus memerhatikan penggunaan bahasa tulis.
Setelah bahasa kata, konteks yang perlu digarap secara total adalah bahasa rupa atau bahasa visual. Kemampuan seorang desainer dalam memfasilitasi grafis akan menjadikan buku dapat meningkatkan kekuatan komunikasinya. Sederetan teks yang disertai gambar lucu dan menyentuh bisa jadi akan lebih mudah dicerna dan dipahami.”Bahasa visual akan memungkinkan sebuah buku dapat didekati dari pintu yang lain” ujarnya.
Sekertaris Jendral Dapartement Agama, Bahrul Hayat Punya pandangan lain menganai buku yang mencerdaskan.”Sebuah buku yang jika anak membacanya terjadi proses dinamisasi di dalam kognisinya, maka itu benar sebuah buku yang mencerdaskan, “katanya.
Menurutnya, guru dan buku adalah dua kekuatan penentu. Guru lebih dahulu ada daripada buku. Guru menjadi agen yang paling penting dalam proses pendidikan. Makin modern sebuah bangsa berevolusi untuk makin maju, makin besar upaya untuk memasukan buku menjadi elemen terpenting kedua.
Secara evolusi, pendidikan untuk pembelajaran itu dari guru baru ke buku. Ketika pergerakan terjadi lebih jauh lagi, peran guru dan buku akan tergeser oleh peran learning research, yakni pemanfaaatan ICT. Buku dan media lainnya, pada sisi lain, adalah resource yang sangat statis.
Sekarang, muncul generasi ICT, yang mencoba menjadikan resource yang statis ini menjadi lebih interaktif. E-book atau e-learning akan terjadi, karena beberapa hal yang interaktif aka dibutuhkan. Ini menjadi tantangan dalam presisi buku konvensial untuk tetap memberikan fungsi yang sama dengan ICT. “Saya memperkirakan buku akan tetap punya peran penting, “ tuturnya.
Di Malaysia, anak-anak kini cukup menenteng laptop ke mana-mana karena semua bahan belajar sudah ada didalamnya. Itu artinya dia menggeser penuh fungsi buku konvensial menjadi elektronic book. “ Ini tantangan yang harus kita pahami ketika kita ingin mewujudkan sebuah buku yang mencerdaskan dalam konteks evolusi dari yang dulunya hanya ada guru, kemudian ada guru-buku, dan ICT,”ujarnya.
Menurut Bahrul, buku bukan hanya intellegent book, melainkan juga mindful textbook. Buku yang mindful menjadikan mind anak berinteraksi aktif dengan buku, Buku yang mindful member banyak persepsi lingkungan yang mungkin penting untuk anak.
Sumber : Republika, 5 November 2006