Ketika Buku Jadi Tirani
Oleh:
Utomo Dananjaya
Menghadapi kerisauan guru karena tidak adanya buku teks pelajaran yang berkualitas, Mendiknas menyerukan untuk tidak gamang dan risau. Justru keadaan ini merupakan kesempatan bagi guru untuk lebih kreatif (Kompas, 2 Agustus 2005).
Setelah ditemukannya mesin cetak oleh Johannes Gutenberg (1440), dunia percetakan berkembang sedemikian rupa sehingga khazanah ilmu pengetahuan ikut terbantu dengan adanya buku sebagai media untuk berkomunikasi dan menyampaikan berbagai hasil penemuan ilmiah. Kemudian media cetak menerbitkan temuan ilmu dan disebarkan menggunakan buku.
Lalu ilmu menjadi buku, kitab suci menjadi buku. Dengan media cetak, mudah memperoleh ilmu pengetahuan. Itu adalah hal-hal yang positif, dunia ini menjadi sebuah kesatuan dengan bermacam informasi tercetak atau buku. Dengan demikian, informasi dapat disimpan, pengalaman dapat dibuat buku yang dipelihara di perpustakaan. Pengaruh hasil karya Gutenberg ini tidak selamanya bernilai positif karena pada perkembangan berikutnya menimbulkan ketergantungan manusia pada buku dan tidak peduli pada pengalaman. Citra direndahkan menjadi kata.
Tirani buku
Yang terjadi selanjutnya, buku mengubah pengalaman menjadi sekadar kata-kata atau mengubah ilmu, eksperimen, dan eksperien menjadi kata-kata. Munculah tirani kata-kata sehingga sekarang orang tidak akan berarti tanpa buku.
Ketergantungan orang terhadap buku mengubah proses pembelajaran (belajar) menjadi proses membaca. Ketika pengalaman diubah menjadi buku, orang bukan lagi belajar dari eksperimen dan mengalami, tetapi orang belajar cukup dari membaca. Maka, orang yang tadinya bekerja di laboratorium sekarang bekerja di meja. Yang semula pembelajaran kaya pengalaman dan perasaan, kemudian diganti dengan kata-kata saja. Yang semula sebuah citra hanya menjadi cerita. Yang tadinya kaya imajinasi kini terjerat kisi-kisi. Semua itu disebabkan pengetahuan telah diubah menjadi"mantra" kata-kata.
Tragis lagi, buku bacaan di sekolah tidak selengkap ketimbang buku bacaan di tempat lain. Orang-orang menyusun buku bukan dari hasil percobaan, tetapi dari buku sumber. Pengalaman di alam yang sudah direduksi menjadi kata-kata di dalam buku direduksi lagi menjadi buku-buku ringkas yang diterbitkan atau menjadi buku-buku di Indonesia.
Situasi ini menjadikan orang-orang Indonesia bergantung pada buku yang mutunya sangat rendah, yang kedalaman dan keluasannya tidak ada. Dan yang lebih memprihatinkan, jarang terdengar para pendidik membicarakan kualitas buku, apalagi melakukan penelitian tentang hal itu. Sementara pengalaman telah direduksi sedemikian rupa dalam bentuk buku, ada guru mengajar hanya membacakan buku, menyalinkan buku, bukan mengajak anak untuk terjun ke pengalaman. Inilah kemudian yang dimaksud bahwa buku menjadi penghambat, bahkan Dave Meier menyebut buku sebagai setan bagi pendidikan.
Di Indonesia, tirani buku betul-betul menjadi sebuah kenyataan yang membebani rakyat, sekolah, dan orangtua karena harus membeli buku untuk anak. Guru-guru bekerja sama dengan kapitalis buku menjualnya kepada murid sehingga pendidikan (sekolah) menjadi pasar buku dan lahan empuk bagi kapitalis buku yang bermula dari teknologi Gutenberg.
Kapitalis penerbit buku telah mendikte guru dengan buku yang diterbitkannya. Tiap semester ganti buku dengan alasan ilmu berubah. Guru menerima saja dan menjadi corong informasi masa bodoh tentang ilmu berubah cepat. Mengapa guru dengan mudah diperalat kapitalis penerbit? Inilah salah satu ciri rendahnya mutu guru.
Andai kata guru IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) memahami prinsip-prinsip sains, ia tidak mudah ditipu. Kalau guru matematika menghayati prinsip-prinsip matematika, guru tersebut akan menolak berganti buku setiap semester. "Kapan ilmu berubah", mungkin ilmu sosial? Fenomena sosial barangkali berubah cepat misalnya, Gubemur DKI Jakarta sekarang bukan Wiyogo, tetapi proses pemilihannya sama. Baru akan berbeda ketika menjadi pilkada. Apakah dengan begitu buku perlu diganti setiap tahun?
Buku pelajaran di Indonesia adalah buku yang disusun dengan meringkas dari buku sumber yang lebih tebal. Buku diringkas menjadi buku, yang selanjutnya mengakibatkan pembonsaian ilmu. Mengapa hal ini bisa terjadi dan aman saja? Karena di Indonesia ada ujian nasional (UN) yang dahulu berbernama Ebtanas, di mana soalnya dibuat berdasarkan buku yang bersumber GBPP. Soal ujian dengan model menguji hafalan. Bahkan buku ringkasan pun akan disisihkan oleh buku kumpulan soal ujian.
Jadi, artinya, anak-anak itu didorong untuk menghafal (lagi-lagi) kata-kata, bukan untuk memahami kenyataan atau pengalaman. Ini semua akibat ketergantungan pada buku (yang tidak bermutu) yang dikokohkan dan didukung oleh kapitalisme buku dan dibakukan oleh GBPP dengan dikontrol oleh ujian nasional. Inilah konsekuensi dari sistem pendidikan yang berpusat pada materi pelajaran (subject matter based), yang menghasilkan lulusan dengan kekuatan berpikirny a terpangkas. Miskin pikiran.
Jalan keluar
Buku pelajaran sebaiknya diganti dengan buku-buku teks perpustakaan sekolah. Di Singapura, buku-buku yang diperlukan kan sudah ada di perpustakaan. Anak-anak sekolah di Singapura bukan belajar membeli buku tetapi belajar memilih buku di perpustakaan. Apa yang ingin dan patut dia baca, itulah yang dan patut dia baca.
Anak-anak akan membaca apa yang dia inginkan dan apa yang ingin dia kuasai. Guru tidak akan mengawasi apalagi melarang dengan ketentuan harus membaca buku ini dan tidak boleh membaca buku itu. Anak akan dengan sendirinya memilih di perpustakaan, mana buku yang dia suka dan mana yang cocok dengan kebutuhannya.
Menghadapi kondisi ketiadaan buku teks pelajaran dan kerisauan guru, Mendiknas menyerukan untuk tidak gamang dan tidak risau. Inilah kesempatan bagi guru untuk lebih kreatif mengajak anak belajar dari pengalaman. Tanpa buku yang membatasi informasi menjadi sekadar kata, guru kreatif lebih dominan dari faktor lain dalam kurikulum.
Sumber : Kompas, 2 Agustus 2005