Lelaki Tua dan Buku
Oleh:
Atep Kurnia
Beberapa bulan lalu, saya terlibat percakapan cukup hangat dengan tiga penulis senior. Dalam percakapan yang terbilang maraton itu, pokok obrolannya berkutat di seputar koleksi buku. Mereka rata-rata memiliki buku di atas 1.000 eksemplar. Bahkan ada senior yang koleksi bukunya sudah tidak dapat ditampung di rumahnya sehingga harus disimpan dan ditatanya di teras rumah.
Namun yang penting, dalam percakapan-percakapan itu mereka mengemukakan masalah yang sama, mengkhawatirkan nasib buku-buku mereka di kemudian hari ketika mereka sudah tidak ada. Adakah anak-anak serta keturunannya meneruskan kebiasaan mereka, memanfaatkan buku sebagai wahana menambah dan mendalami pengetahuan? Ataukah buku-bukunya akan dibiarkan merana, tidak terpelihara karena keturunannya tidak suka membaca atau suka membaca tetapi berlainan minat.
Karena pengalaman membuktikan, dari lingkungan keluarga yang ayahnya atau ibunya gemar mengumpulkan dan membaca buku tetapi anak keturunannya tidak suka membaca, koleksi bukunya akan cenderung berakhir di ujung timbangan tukang loak. Buku-buku mereka akan dijual kiloan, dijajakan secara murah di pinggir jalan, di kaki lima, dan toko buku bekas.
Buktinya memang banyak untuk dituliskan. Di tingkat nasional, Adam Malik yang mempunyai koleksi buku ribuan akhirnya berujung di tukang buku loak di sekitar Lebakbulus, Jakarta. Di ranah lokal Jawa Barat, koleksi buku Mh Rustandi Kartakusumahjuga demikian. Buku-buku koleksinya dijajakan di kaki lima Jalan Cikapundung, Bandung.
Demikian pula nasib koleksi buku mendiang sang kuncen Bandung, Haryoto Kunto, hingga kini belum tahu pengelolaannya. Belum lagi koleksi buku almarhum para pengarang Sunda, seperti Kis WS, Ki Umbara, TB Roesjan, dan lain-lain. Sayang sekali bila dijual ke tukang loak. Di manakah kini koleksi buku mereka? Besar harapannya, memang, tidak sampai dijajakan di pinggir jalan.
Untuk didonasikan kepada lembaga pemerintahan, mereka juga agak kurang berkenan. Hingga kini lembaga-lembaga yang dibangun pemerintah dan ditujukan pada pemanfaatan bahan pustaka, belum sepenuhnya dapat dipercaya. Mungkin, bila nanti pengelolaan bahan pustaka oleh lembaga negara sudah membaik, mereka akan dengan senang hati menyerahkan koleksi buku mereka untuk dikelola.
Keadaan senior saya di atas momentum saya pada novelette Ernest Hemingway, The Old Man and The Sea (1952). Mungkin senior itu mirip tokoh Santiago, nelayan tua yang puluhan hari tidak bisa menangkap seekor ikan sekalipun. Namun kemudian, pada hari ke-85 Santiago bersusah payah berjuang untuk menangkap ikan marlin raksasa jauh di tengah arus Teluk Meksiko Perahu kecilnya justru ditarik sang ikan. Selama tiga hari dalam keadaan gawat, ikan itu akhirnya ditikam harpun. Malangnya, selama perjalanan pulang ke darat, bangkai marlin di sisi perahu kecilnya dikerubuti ikan hiu yang tertarikcjejak darah marlin di air.
Akhirnya dari perjuangan melawan ikan itu, Santiago dihargai. Para nelayan dan para turis mengagumi keberanian si lelaki tua. Namun yang lebih penting, laku Santiago itu mampu meyakinkan kawan kecilnya, Manolin, yang tadinya dilarang orang tuanya untuk berlayar dengan si lelaki tua dan disuruh mencari mentor yang lebih berhasil. Dalam keadaan demikian, Manolin tetap mengunjungi dan membantu Santiago. Bahkan setelah Santiago mengalahkan ikan, anak itu berjanji untuk pergi menangkap ikan bersama-sama lagi dengan lelaki tua itu.
Para senior saya barangkali seperti Santiago, si tua, yang berkarib dengan anak kecil Manolin itu, memperlihatkan upaya yang terus-menerus untuk menunjukkan eksistensinya bahwa dia ada dan layak diapresiasi keberadaannya. Bahwa tidak selamanya yang berasal dari tradisi lama itu bersifat terbelakang atau kuno. Masa penantiannya selama berpuluh-puluh hari untuk mendapatkan hasil tangkapannya yang maha dalam hidupnya, terbukti di hari ke-85 pelayaran ke lautnya.
Keadaan tersebut saya rasa paralel dengan yang dialami tiga senior saya di atas, juga dirasakan para orang tua di Indonesia umumnya, yang hendak memperkenalkan dan menanamkan tradisi membaca buku kepada anak cucunya. Mereka terus-menerus dengan keras berjuang menanamkannya. Sebagian ada yang berhasil, tetapi kebanyakannya, berujung pada harapan, kekecewaan, bahkan keputusasaan yang tak berkesudahan.
Bagi yang sebagian berhasil itu, tentu karena generasi tua mampu meyakinkan generasi mudanya. bahwa membaca itu sangat menyenangkan dan memberi manfaat. Orang tua yang berhasil itu bisa jadi mirip seperti Santiago yang mampu menunjukkan kepada Manolin kecil bahwa pada akhirnya mendayung, perahu, membelah lautan, mengapung, dan bertarung dengan marlin berhari-hari itu sangat penting dilakukan, bahwa bergelut dengan buku akan senantiasa bermanfaat nantinya. Dengan kata lain, segala usaha yang dibarengi kesabaran dalam melakukannya, meskipun menemui kesukaran di dalam prosesnya, akan berbuah manis akhirnya.
Sumber: Pikiran Rakyat, 26 Maret 2012