Oleh

Habib Ziadi

 

Generasi salafus shalih pernah menguasai dunia berkat keimanan mereka yang kokoh bagai gunung dan keilmuan mereka yang mendalam bagai lautan. Kecintaan mereka terhadap iman, ilmu, dan amal melebihi cinta manusia biasa pada harta, anak, dan istri.

Dalam konteks kecintaan terhadap ilmu, Imam lbnu Qayyim menyatakan, "Adapun pecinta ilmu, kecintaannya pada ilmu melebihi kecintaan seseorang kepada kekasih. Dan, banyak di antara mereka tidak tergoda melihat manusia tercantik di dunia sekali pun ."

Simak pula pernyataan Muhammad bin Marwan Ad-Dimasyqi. "Sungguh, aku lebih memilih ditemani tinta sepanjang hari daripada seorang kawan. Aku lebih suka seikat kertas daripada sekarung tepung. Tamparan ulama di pipiku lebih terasa nikmat daripada minuman lezat.”

Seseorang tidak bisa menjadi pecinta ilmu sebelum buku atau kitabnya lebih berharga daripada bajunya. Konon ada orang melihat seseorang duduk di atas kitabnya, lalu dia ditegur, "Apakah pakaianmu lebih berharga bagimu dibanding kitabmu?"

Hal itu karena orang tersebut duduk beralaskan kitabnya agar pakaiannya tidak terkena debu. Salah satu tanda cinta ilmu, yaitu menangis ketika kehilangan seorang syekh yang mulia dan sedih ketika kehilangan buku berharga.

Diriwayatkan, Abul Hasan al-Fali (448 H), salah seorang ahli nahwu dari Baghdad, Irak, pernah memiliki kitab Al-Jamharah karya lbnu Duraid yang sangat bagus. Akibat terdesak oleh kebutuhan, dia terpaksa menjual kitab tersebut seharga 60 dinar.

Kehilangan kitab itu membuatnya berduka hingga kematian menjemputnya. Menurut al-Jahidz, orang yang belanjanya untuk membeli buku tidak lebih nikmat daripada belanjanya pecinta biduan dan penggila bangunan maka dia tidak akan sampai pada tingkat ilmu yang memuaskan.

Orang tersebut tidak akan memperoleh manfaat dari belanjanya sampai dia mau memprioritaskan pembelian buku sebagaimana orang badui memprioritaskan kudanya untuk diberi susu daripada keluarganya.

Selain itu, dia mau menaruh harapan besar terhadap ilmu sebagaimana orang badui menaruh harapan besar kepada kudanya. Sikap al-Jahidz sangat mendasar. Pecinta ilmu akan memprioritaskan apa pun untuk memuaskan dahaga keilmuannya .

Seperti kisah unik seorang syekh penggila buku yang rela melepas sebagian pakaiannya untuk membeli buku yang dipandangnya berharga. Sebab, pada saat itu dia tidak memiliki uang.

Warisan terbaik kita kepada generasi berikutnya, yaitu kecintaan kepada ilmu yang dilengkapi referensi yang memadai. Sebab, itulah warisan para nabi dan ulama-ulama terdahulu. Sesungguhnya mewariskan buku-buku berikut ilmu yang terkandung di dalamnya dapat memberikan manfaat bagi orang hidup maupun orang mati.

Karena, anak-anak kita akan belajar dari apa yang mereka baca dari buku-buku tersebut. Sementara kita yang berada di kubur, akan mendapatkan kiriman pahala selama mereka memanfaatkan warisan kita dengan baik. Lestarinya pemanfaatan ilmu berupa buku tersebut, lestari pula amal jariyah bagi pemiliknya.

Sumber : Republika, Selasa, 15 April 2014

Kembali