Buku dalam Kebudayaan Romantis
Oleh:
Setyaningsih
Sering kali buku tidak berkesempatan mengisi ruang-ruang kehidupan. Buku sebagai pemberian, hadiah, dan kejutan jarang terjadi untuk mempresentasikan diri sebagai tanda romantisme atau kasih sayang. Sekalipun ada, itu hanya dilakukan oleh mereka yang memang menjadikan buku sebagai sesuatu yang ajaib. Tidak sekadar dari hobi membaca atau pengisi waktu luang yang dibuktikan dengan menghabiskan waktu di toko buku Bersama, entah oleh pasangan kekasih, suami istri, atau sahabat.
Kita bisa melihat bunga, cokelat, perhiasan, mobil, sepeda motor, perangkat-perangkat teknologi, atau makan malam bercahaya lilin sebagai sebuah persembahan yang banyak didamba dan direncana. Buku tidak masuk daftar barang yang dicari, dikejar, dan disakralkan. Buku hanya dibutuhkan untuk memenuhi agenda bersekolah, berkuliah, dan bekerja. Itu pun hanya buku-buku tertentu. Dapat dipastikan, buku akan segera dihapus keberadaannya ketika masa sekolah berakhir. Buku hadir demi kepentingan.
Begitu pula saat menghadapi undangan pernikahan. Buku jarang dilirik untuk dijadikan kado atau bingkisan. Album foto, seperangkat alat makan, atau perabotan rumah tangga lebih mendominasi. Demi alasan perhatian kepada mereka yang akan membangun rumah tangga. Terkadang juga alasan kepatutan. Banyak pula orang berpikir bahwa memberikan buku tidak memberikan kebahagiaan bagi mereka yang baru menikah, melainkan malah memberikan beban berat karena harus membaca buku.
Dalam pernikahan pun, buku tidak banyak dipilih sebagai mas kawin atau seserahan oleh pihak laki-laki kepada pihak perempuan. Kita bisa melihat di meja-meja acara pernikahan. Bingkisan-bingkisan yang manis tidak tampak berisi buku. Bahkan di abad ke-21 ini, seseorang dengan prestisius akan memajang sepeda motor lengkap dengan hiasan pita-pita di panggung acara sebagai mas kawin. Bayangkan jika bingkisan yang berisi alat salat, sepatu, atau kosmetik diganti dengan buku, orang tua atau tetangga akan menghela napas melihat hal yang tidak biasa. Buku bukan barang mentereng untuk hadir dalam pernikahan.
Adalah mendiang Wakil Presiden Muhammad Hatta, si manusia buku, pernah menjadikan buku sebagai mas kawin. Dalam buku Hatta, Jejak Yang Melampaui Zaman (2010), diceritakan bahwa buku Alam Pikiran Yunani dipersembahkan sebagai mas kawin untuk Rahmi, yang dilamarnya pada November 1945. Buku itu ditulis sendiri oleh Hatta saat pembuangan di Digul pada sekitar 1934. Begitu cintanya Hatta kepada buku, sampai-sampai buku menghantarkan pada perjalanan asmaranya. Sebuah buku menjadi bekal untuk melanjutkan dan menjalani hidup bersama sang pujaan hati. Sepanjang waktu, kehidupan Hatta tak terputus dari buku. Buku tidak menyendiri di jalan sunyi.
Ingatan
Buku sejatinya tak putus merekam pijar-pijar kenangan. Ada letupan-letupan ingatan di masa lampau yang menggetarkan tubuh saat melihat buku yang pernah didapat lewat teman, kekasih, orang tua, atau orang-orang yang pernah ditemui dalam hidup, entah sebagai hadiah, pemberian, atau tanda pertemanan. Atau, buku yang didapat dengan kepayahan dan pencarian yang melelahkan, Sering kali peristiwa yang berlalu akan direkam di halaman awal sebuah buku, baik di pojokan atas maupun di bawah pada kertas. Kita menuliskan tanggal saat pertama kali mendapatkan buku, beserta kejadian yang mengiringinya. Setiap kali buku dibuka, ada senyum yang hadir. Mungkin juga air mata yang mengalir.
Sama seperti cerita dari Sinta Nuriyah Wahid yang dihimpun dalam buku Kembali ke Jati Diri, Ramadhan dan Tradisi Pulang Kampung dalam Masyarakat Muslim Urban (2013). Sebuah cerita yang juga adalah jeda. Nuriyah Wahid tidak hanya membagi cerita seputar Gus Dur, Ramadan, puasa, dan Idul Fitri, tapi juga ingatannya akan Gus Dur, buku, dan romantisme. Setelah Gus Dur wafat pada akhir 2009, Nuriyah Wahid menemukan sebuah buku dari sekian buku yang dibawa Gus Dur dari Bagdad, Irak.
Di sampul depan buku itu tertulis beberapa kalimat dalam bahasa Arab dan Inggris yang ditujukan Gus Dur kepada Nuriyah Wahid. Ma'a al-hubb wa al tahanniyl with love and compliment (Teriring rasa cinta dan penghormatan), begitu bunyi kalimatnya. Buku itu rupanya dikirim Gus Dur untuk sang istri tercinta pada 1966, tapi baru diketahui setelah Gus Dur wafat. Ada ingatan romantisme dalam keterlambatan selama bertahun-tahun lewat sebuah buku dan bacaan yang syahdu.
Nuriyah Wahid juga menceritakan kebiasaan Gus Dur yang sering membelikannya buku-buku tentang mode bordir dan merangkai bunga mengingat kebiasaan sang istri yang suka menjahit dan merangkai bunga. Gus Dur berharap bahwa buku-buku yang dibawanya tidak hanya menambah pengetahuan yang luas dan matang, tapi juga kebahagiaan. Maka, buku pun tidak sekadar menjadi oleh-oleh. Buku juga menjadi bagian dan ingatan keseharian dalam peristiwa-peristiwa di kehidupan. Salah satunya ingatan dalam berumah tangga.
Buku bukan pengisi kekosongan waktu, melainkan pengisi kebermaknaan waktu. Buku menghadirkan diri dalam hujan, pedesaan, halte, kamar, rumah, toko buku, bangku di rindangnya pohon, rumah kayu, dan ingatan manusia. Buku membuka ruang dokumentasi akan penantian, perenungan, kepekaan perasaan kerinduan, dan asmara. Buku mesti hadir dalam ruang-ruang romantisme. Membawa yang pergi untuk sejenak kembali. Membawa yang lupa untuk berkeras mengingat. Penulis buku, Jostein Gaarder dan Klaus Hagerup (2011), pernah mengatakan, "Sebuah buku adalah dunia ajaib penuh simbol yang menghidupkan kembali si mati dan memberikan hadiah kehidupan yang kekal kepada yang masih hidup."
Sumber: Koran Tempo, 22 September 2013