Oleh:

Muhidin M Dahlan

 

Setiap masa memiliki penanda khas pameran buku. Pada era pemerintahan Sukarno, pameran buku berpanglimakan politik. Karena itu, namanya "Gelanggang Buku". Ketika masa Sukarno digulung oleh sejarah, wajah pameran buku menjadi book fair, tempat perniagaan menjadi panglima. Buku adalah semata urusan bisnis dan cash flow. Niaga yang menjadi tujuan utama, sedangkan yang lain-lain sekadar ikutan.

Fajar reformasi datang, tapi semangat pameran buku tak berubah, buku tetap sekadar benda niaga, semen tara peristiwa pemuliaan buku hanyalah sampingan belaka. Label best seller menjadi sirkuit paling digandrungi oleh penerbit-penerbit pemuja laba ketimbang mencari secara intens pikiran-pikiran besar. Wajah penerbit yang tampil kemudian di pameran buku nyaris seragam dan menurut saya sangat menakutkan.

Situasi seperti itu sudah berjalan begitu sistematis, rutin, dan bahkan menjadi sangat wajar. Mereka yang memuliakan buku tentu sangat terganggu oleh semangat niaga yang sudah bekerja selama puluhan tahun ini. Karena pameran buku tak dianggap sebagai ruang pemuliaan buku, komunitas-komunitas literasi mencoba membuka perhelatan baru.

Tak selalu besar memang. Tapi ritual dilakukan dengan semangat mandiri mencari pola untuk "menegur" secara perlahan pameran buku yang baku dan kini sudah mengalami stagnasi itu.

Maka, dalam lini masa perbukuan kita dapatkan Festival Pembaca Indonesia, yang merupakan acara tahunan khusus untuk pembaca buku dari pelbagai selera. Dalam festival yang digelar pertama kali pada 2011 itu, pembaca merayakan bacaannya secara gembira. Di sini, perniagaan menjadi anomali.

Sebelum festival ini muncul, lahir festival pembaca dan penulis dengan mengambil skala yang luas, yakni internasional. Namanya Ubud Writers and Readers Fest (UWRF), yang diselenggarakan pertama kali pada2004 di Ubud, Bali. Penulis dan pembaca yang berbeda-beda berjumpa setiap tahun dalam satu tujuan untuk udar gagasan, rualog, dan bertukar pengalaman antarnegara.

Dalam UWRF, buku kemudian menjadi sebuah rekreasi. Buku adalah sebuah wisata baru yang dibentuk dan diciptakan secara kontemporer, bentuk yang sangat lain dari pariwisata.

Di Magelang dan Yogyakarta, pemuliaan buku serupa digelar lewat musyawarah yang diikat oleh tema tertentu. Borobudur Writers and Cultural Fest (BWCF) mengambil cakupan yang lain melalui UWRF di Bali, yang lebih dulu diselenggarakan. BWCF berfokus pada gagasan besar tentang Nusantara, Seperti cerita silat, budaya maritim, maupun ratu adil. Pada tema-tema khusus itulah penulis-penulis Indonesia ataupun peneliti asing dari pelbagai bidang studi dipanggil untuk mendedah kajiannya di hadapan penulis lain serta pembaca dari berbagai selera secara intim dan intens.

Dalam BWCF, niaga buku nyaris tak terjadi. Jika pun perlu, hanya penerbit-penerbit tertentu yang sekiranya tema terbitannya merniliki korelasi dengan tema besar musyawarah yang berhak menggelar bukunya.

Pada simpang pencarian ini, kita mendapati buku perlahan-lahan kembali dijadikan subyek dari mana gagasan dieram dan tersimpan. Buku bukan lagi obyek dalam sirkuit laba pameran- pameran buku yang diselenggarakan secara rutin dengan pamor yang hampir habis itu.

Sumber: Koran Tempo, 7 Desember 2013

Kembali