Gunung, Buku, dan Imajinasi
Oleh:
Qaris Tajudin
Wartawan Tempo
Pertengahan November lalu saya diundang menyampaikan makalah di Kongres Bahasa. Di tengah-tengah dialog, seorang bertanya tentang sebab rendahnya kemampuan mengarang anak-anak sekolah di Indonesia. "Imajinasi mereka amat miskin," kata penanya. Tentu saja, saya tidak tahu jawaban pastinya. Saya bukan pendidik dan belum pernah meneliti soal itu. Makalah yang saya sampaikan juga tidak ada hubungannya dengan hal itu.
Tapi, sepintas lalu saya dapat mereka-reka penyebabnya. Pertama, sistem pendidikan kita memang tidak memberi ruang bagi murid untuk berimajinasi. Semua pelajaran adalah jawaban pasti yang harus dihapal seperti mantra. Bahkan untuk pelajaran seni yang butuh imajinasi seperti menggambar. "Coba minta anak sekolah dasar dari Sabang sampai Merauke untuk menggambar bebas. Apa yang mereka gambar?" tanya saya. Dan seluruh ruangan pun memberikan jawaban yang sama: "Dua gunung yang mengapit matahari terbit, dengan jalan yang diapit sawah di depannya." Entah dari mana kesepakatan itu datang. Bahkan anak pantai yang tidak pernah melihat gunung sekalipun, akan menggambar pemandangan yang sama.
Hal ini juga terjadi pada sastra yang hanya mendapat jatah 20 persen dari keseluruhan jam pelajaran bahasa Indonesia. Kita diminta menghafal nama-nama pengarang, judul buku, tahun terbit, dan sinopsisnya. Tapi kita tidak diminta membaca buku-buku itu. Yang ditransfer adalah data, bukan pengalaman. Yang dituju adalah angka, bukan rasa. Berapa banyak buku sastra yang kita baca dari SD sampai SMA? Mungkin tak ada sama sekali. Kalau beruntung, kita diminta untuk membaca novel-novel seratus tahun lalu dari masa Pujangga Baru. "Urusan membaca kan tanggung jawab orangtua," kata almarhum Fuad Hassan saat menjadi Menteri Pendidikan. Bayangkan, cendikiawan sekaliber dia berpikir seperti itu. Tapi itu dapat dimaklumi, karena Fuad mungkin memang berasal dari keluarga yang rajin membaca. Padahal, kebanyakan keluarga Indonesia tidak seperti itu. Di sinilah sekolah berperan.
Berbeda dengan Malaysia. Di sana ada kewajiban untuk membaca buku sastra Melayu yang sebagian adalah sastra Indonesia dari sekolah dasar hingga SMA. Mungkin ada yang menganggap, ini adalah soal ekonomi. Malaysia mewajibkan itu karena mereka mampu mengadakan buku tersebut. Indonesia? Bagaimana mau meminta anak sekolah membaca buku sastra, jika buku pelajaran saja mereka tak punya? Tentu saja, kalau kita membandingkan dengan Malaysia yang lebih makmur, masalahnya menjadi soal ekonomi. Tapi coba bandingkan dengan Mesir yang memiliki GNP di bawah Indonesia. Masalahnya bukan lagi soal ketidakmampuan ekonomi, tapi soal kemauan.
Juli lalu ibu negara Mesir, Suzanne Mubarak, kembali menyebarkan sejuta buku dalam program Baca Untuk Semua. Ini adalah program tahunan yang digelar setiap musim panas. Kenapa musim panas? Karena di saat inilah anak sekolah libur dan bebas dari pelajaran sekolah. Novel-novel dari sastrawan dunia seperti Old Man and The Sea-nya Ernest Hemingway, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, dan disebar ke seluruh negeri. Tidak semuanya gratis, bahkan lebih banyak yang harus dibeli. Tapi harganya jauh di bawah harga toko. Kita bisa membelinya di pinggir jalan, di lapak-lapak koran, dengan harga yang tak jauh beda dengan harga koran harian.
Kenapa bisa murah? Pertama, soal kualitas cetak. Buku-buku itu memang memiliki kualitas kertas dan cetak yang paling rendah. Jelek dan lusuhnya setengah mati. Tapi itu tak penting untuk anak-anak dari keluarga kelas menengah ke bawah. Bagi yang peduli dengan penampilan (biasanya anak keluarga kaya), bisa membeli versi mengkilapnya di toko buku dengan harga yang sepuluh kali lipat atau lebih. Kedua, jika sebuah buku dianggap terlalu tebal, maka akan diterbitkan dalam beberapa jilid. Mirip cerita silat Khoo Ping Ho. Ketiga, ada kebijakan pemerintah agar setiap penerbit, selama satu tahun, "mengikhlaskan" hak cipta beberapa judul buku untuk program ini. Pembebasan tagihan hak cipta ini memang hanya temporer. Tapi itu cukup untuk memotong salah satu ongkos terbesar dalam penerbitan buku. Sekadar informasi: di Indonesia, harga buku yang kita bayar ke kasir adalah lima kali lipat harga cetak.
Apakah ini tidak merugikan penerbit dan toko buku? Tentu tidak (kalau mereka pintar). Dalam teori pemasaran, ini bisa disetarakan. dengan sampling, membagi sebuah produk secara gratis untuk menumbuhkan minat masyarakat pada produk itu. Anggaplah program buku murah ini sebagai sebuah stimulus untuk merangsang minat baca masyarakat. Jika ini berhasil, maka ketika musim panas berakhir, pada sembilan bulan yang lain, mereka mendapat pelanggan baru. Sebaliknya, menjauhkan orang pada buku (dengan alasan apa pun, termasuk soal mahalnya kertas) hanya berujung pada ketidakpedulian mereka akan buku.
Dan saat minat itu tumbuh di masyarakat, kita bisa terkejut oleh apresiasi mereka. Di suatu siang musim panas Kairo yang amat terik. Di sebuah bus kota yang sudah seperti oven pemanggang roti, saya duduk di samping seorang anak SD. Mungkin umurnya sekitar 11-12 tahun. Wajahnya tengil, sama sekali tidak seperti seorang kutu buku. Bahkan ia lebih mirip preman cilik yang selalu mengerjai kutu buku di sekolah. Tapi dia tampak asyik membaca sebuah buku. Bukan buku anak-anak, tapi Awlad Haaratna (Children of Gebelawi) yang mengantar Naguib Mahfouz mendapat Nobel Sastra. Dia tidak sedang berlagak, karena ternyata dia lancar menjawab pertanyaan saya soal cerita novel itu dan novel-novel Mahfouz lainnya. Dan, dia membeli novel-novel itu dari tukang koran di samping halte bus. Novel generik yang murah itu dia beli saat menunggu bus yang mengantarnya ke tempat latihan bola.
Meski program buku murah itu tidak pernah ada di sini, tapi saya dan generasi sebelum saya mungkin lebih diuntungkan dari generasi sekarang. Kami dulu masih dapat menemui taman-taman bacaan partikelir. Perpustakaan amatir yang "komersil". Meski koleksinya bukan novel dan karya sastra, tapi taman bacaan membuat kami tidak begitu terasing dari buku. Pergi ke taman bacaan apa pun yang dibaca adalah hiburan. Membaca buku adalah menyenangkan. Kita bisa menjumpai taman bacaan hampir di tiap desa. Di kota besar atau kecil. Tapi, kini, tak ada lagi yang mau membuka taman bacaan. Lebih menguntungkan jika membuka penyewaan mainan digital yang membuat jempol anak-anak kapalan.
Lalu kenapa anak-anak itu harus membaca buku, terutama buku sastra? Bukankah tak semua orang menjadi sastrawan? Memang tidak. Sama seperti kita belajar geometri, meski tidak semua akan menjadi insinyur. Jawaban pertanyaan ini terkait dengan soal gambar gunung dan matahari di atas. Soal imajinasi. Ada yang bilang membaca buku sastra itu seperti menciptakan dunia sendiri. Meski penulis kerap mendeskripsikan begitu detil suatu hal, setiap pembaca tetap memiliki imajinasinya sendiri. Yang membaca Lord of The Rings pasti punya gambaran sendiri tentang Arwen yang cantik. Mungkin Anda membayangkannya seperti Liv Tyler, seperti dalam film. Tapi mungkin juga seperti Natalie Portman atau Penelope Cruz. Meski dituntun, tetap ada ruang bagi kita untuk berimajinasi. Sedangkan menonton film, kata orang, itu seperti masuk museum dengan pemandu yang menjelaskan secara detil apa pun yang Anda lihat. Saat keluar, seluruh rombongan turis memiliki pengalaman yang sama. Plek!
Lalu, apa guna mendidik orang bisa berimajinasi? Apa tidak hanya menciptakan generasi pengkhayal? Apakah tidak baik uang untuk membeli buku yang terbatas itu dibelikan buku-buku ilmu pengetahuan (sains)? Ini, tentu saja, pertanyaan bodoh. Ilmu pengetahuan tak akan maju tanpa tuntunan imajinasi dan buku fiksi. NASA tidak akan mendaratkan Neil Armstrong di bulan jika Jules Verne tidak menulis From the Earth to the Moon. Imajinasi dan fiksi akan membimbing kita ke dunia yang berbeda. Dan ketika semua anak SD sudah membaca novel fiksi, saya yakin, yang mereka gambar tak lagi hanya gunung dan matahari yang malu-malu di tengahnya.
Sumber : Koran Tempo, 5 November 2008