Oleh:

Erwan Juhara

Pengurus IKAPI Jabar

 

Apa guna buku bagi satu bangsa? Buku juga tidak hanya menjadi kekayaan ilmu belaka, tapi buku juga akan menjadi cermin sebuah bangsa. Kualitas satu bangsa bisa tercermin dalam sebuah buku. Ada nilai budaya dan berbagai persoalan bangsa dalam makna buku-buku yang telah ditulis para penulis. Buku dengan demikian menjadi harkat dan martabat bangsa yang dipertaruhkan eksistensinya dalam percaturan kehidupan satu bangsa dengan bangsa lainnya.

Lalu, apa guna buku untuk peradaban suatu bangsa? Ini bukan persoalan sederhana bagi pemilik peradaban, yakni manusia. Peradaban adalah segala bentuk fisik, gerak, dinamika, dan keyakinan akan suatu filosofi hidup manusia yang dapat ditingkatkan kualitasnya menjadi sesuatu yang agung, bernilai, dan bermakna.

Pada tataran fungsi seperti itulah buku yang pada awalnya dikenal dalam bentuk yang lebih sederhana, baik berupa kayu, daun, atau kulit binatang/perkamen, kini telah mengalami revolusi bentuk yang lebih indah dan berkualitas. Pada akhirnya, buku itu maknanya lebih dari sekedar tempat menuliskan sesuatu. Namun, isi dan maknanya lebih mencuat sebagai salah satu bentuk filsafat kehidupan manusia untuk mengukuhkan statusnya sebagai makhluk paling mulia di atas bumi (khuntum khoiro ummatan).

Kehidupan manusia melalui perantaraan buku, menjadi lebih tercatat dan beradab. Tetapi, selalu menjadi gelisah dan kreatif karena refleksi filosofis sebuah buku mampu membuat manusia untuk terus maju dan berkembang dalam gerak dan pemikiran akan kehidupan yang lebih berbudaya. Artinya, buku bisa menjadi alat kontrol sosial pula kepada manusia agar tidak berpuas diri dalam satu status quo. Hal ini, mengindikasikan bahwa peradaban manusia melalui buku harus terus kreatif menjalankan peran kehidupan di alam nyata dan fana kelak.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kehidupan, akhirnya mau tidak mau menjadi ciri penanda bahwa peran buku untuk peradaban memang ada dan sangat penting untuk terus menjadi sarana perubahan dan kreativitas menjalani kehidupan manusia. Idealnya, buku kemudian menjadi bagian tak terpisahkan dalam segala kegiatan fisik, aktivitas dinamis, dan perubahan pemikiran manusia ke arah kualitas peradaban positif. Dampaknya, sesuatu yang wajar apabila buku mendapat tempat untuk selalu dilihat perkembangannya pula, baik dalam skala kebutuhan akademis, bisnis, hingga desain kualitas melalui berbagai bentuk pendidikan dan pameran dunia perbukuan.

Begitulah selayaknya buku diperlakukan sebagai benda adiluhung, tempat segala peradaban, harkat dan martabat suatu bangsa diletakkan; tempat inspiratif dan harapan suatu bangsa digambarkan. Buku menjadi kubu bangsa berilmu. Buku menjadi khasanah budaya bangsa beradab. Buku menjadi cermin futuristik harapan dan masa depan suatu bangsa.

 

Melahirkan peradaban besar

Buku, saat ini, berada di persimpangan jalan menghadapi gempuran teknologi. Teknologi seperti pisau bermata dua. Dimana pada satu sisi dapat meningkatkan kualitas hidup kita, tapi di sisi lain juga terikat dengan teknologi dalam segala gerak kehidupan. Pun demikian dalam dunia perbukuan. Buku dan teknologi saling mengisi, menguatkan, dan melemahkan, khususnya dalam pemenuhan informasi dan pengetahuan umat manusia.

Sebenarnya, semua peradaban tinggi dunia dimulai dari buku. Puncak kejayaan Islam di masa Dinasti Abbasiyah dimulai dari penerjemahan buku-buku Yunani ke dalam Bahasa Arab. Pengaruh Helenesia ini sangat kentara sekali dalam pemikiran filsuf Islam seperti Al Kindi, Al Farabi, dan Ibnu Rusyd. Selanjutnya, gantian Eropa yang berhutang budi kepada Islam dengan penerjemahan buku-buku ilmu pengetahuan dari khazanah berbahasa arab ke dalam bahasa-bahasa Eropa. Dari sinilah, zaman pencerahan Eropa (Renaissance) bermula. Maka tidak aneh, jika Ibnu Rusyd begitu dikenal oleh dunia Eropa dengan nama Averrous, dan Ibnu Sina dikenal

dengan Avicena.        

            Setelah ditemukan mesin cetak oleh Johan Guttenberg di Jerman, maka. dimulailah era buku cetak seperti yang kita nikmati saat ini. Bersama dengan itulah, kebudayaan Eropa berhasil mendominasi dunia hingga kini. Sejak saat itu pula, peran buku mendapat tempat tak tergantikan dalam kehidupan manusia meskipun tekonologi digital atau e-book mewabah di 2000. Namun, walau bagaimana pun, nilai sensasi memiliki buku dalam bentuk cetakan belum bisa digantikan oleh e-book. Memang, saat ini, sudah mulai banyak buku yang beredar dalam bentuk e-book, bahkan via telepon genggam, tapi penetrasinya memang sangat lambat selain nilai praktis yang sangat relatif.

            Artinya budaya membaca buku tetap tidak tergantikan posisinya di berbagai era kehidupan manusia. Pemeo 'buku jendela ilmu’ yang sudah diakui publik dimana pun mencerminkan kekayaan ilmu akan menjadi cermin sebuah bangsa. Kualitas satu bangsa bisa tercermin dalam sebuah buku. Ada nilai budaya dan berbagai persoalan bangsa dalam makna buku-buku yang telah ditulis para penulis. Buku dengan demikian menjadi harkat dan martabat bangsa.

 

Membaca membangun martabat bangsa

Buku jendela ilmu. Sebuah pemeo yang sudah diakui publik di mana pun. Namun, buku juga tidak hanya menjadi kekayaan ilmu belaka karena buku juga akan menjadi cermin sebuah bangsa. Kualitas satu bangsa, bisa tercermin dalam sebuah buku. Ada nilai budaya dan berbagai persoalan bangsa dalam makna buku-buku yang telah ditulis para penulis. Buku dengan demikian menjadi harkat dan martabat bangsa yang dipertaruhkan eksistensinya dalam percaturan kehidupan satu bangsa dengan bangsa lainnya.

Dr. Muhammad Adnan Salim, seorang pemikir Muslim mengatakan, "Bangsa yang tidak mau membaca tidak bisa mengenali dirinya sendiri dan tidak mengetahui orang lain. Bacaan akan berkata: di sinilah orang-orang terdahulu berhenti. Di sinilah dunia bergerak saat ini. Jangan mengulangi kegagalan orang lain, jangan mengulangi kesalahan yang pernah mereka lakukan."

Pengarang Joni Ariadinata dengan nada humor malah mengumpamakan membaca itu candu, seperti rokok. Pertama pahit, batuk-batuk, tak enak, lama-lama ketagihan. Bagi orang yang tak pernah memaksa diri untuk membaca, tentu saja tidak akan tahu enaknya membaca.

Melalui buku, satu bangsa bisa mengubah stigma dan cara pandang bangsa lain melihat harkat martabat suatu bangsa. Jadi, penerbitan buku memegang peranan penting bagi bangsa lain untuk saling mempelajari harkat dan martabat suatu bangsa. Jadi, membaca buku adalah tradisi positif yang harus dimiliki bangsa besar di dunia mana pun. Sebab, buku akan melahirkan peradaban dan kebudayaan besar. Semoga Indonesia sedang menuju ke sana.

Sumber : Republika, 23 Mei 2012

Kembali