Oleh:

Mohamad Sobari

Budayawan

 

 

Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), tahun ini menyelenggarakan kongres ke-16, dan seminar dengan tema besar "Peran Penerbit Dalam Pengembangan Budaya Unggul". Saya pun diundang, dan bersama Prof. Dr. Komarudin Hidayat—maksudnya  Mas Komar—dipandu  Najwa Shihab dengan bagus, saya ikut membahas subtema "Peran Buku Dalam Pengembangan Budaya Unggul", pada sesi kedua.

Apa hubungan buku dengan budaya unggul? Bagaimana keunggulan itu ditentukan? Dimensi apa yang harus unggul dalam kebudayaan kita? Dan untuk apa kita mau menjadi unggul, dan atas siapa?

Panitia tidak memiliki jawaban. Maka, saya pun bebas mengembangkan pertanyaan-pertanyaan itu menjadi sebuah jawaban yang saya suguhkan pada para peserta seminar yang setengah mengantuk sehabis makan siang. Untuk para pembaca, sekarang saya merumuskannya lebih rapi, menjadi esei ini.

Peradaban modern, tampaknya berkembang, dan maju, karena buku. Bangsa Arab, pasca turunnya ayat pertama, "Iqra": bacalah, maju luar biasa, dan membikin gebrakan peradaban sangat modern, sesudah mereka memasuki dunia buku, dan meninggalkan tradisi lisan.

Para pujangga besar Islam menulis buku-buku babon, peletak dasar ilmu-ilmu, sesudah belajar, dan mengembangkan lebih lanjut, filsafat Yunani.

 Untuk zamannya, dan untuk kepentingan dirinya sendiri, tradisi lisan sesuatu yang luar biasa. Tapi memasuki peradaban modern, tradisi itu tampak melankolik, dan kesepian, karena tak mampu menjawab kebutuhan zaman, yang ditandai membaca, menulis, dan mengembangkan dunia ide secara tertulis. Tradisi lisan lalu dianggap kurang relevan.

Maka komunikasi tertulis pun. menjadi cara "Terkini" untuk menandai bahwa kita bagian dari modernitas, dan kemajuan, dan bukan lagi milik masa lalu, yang sengaja digagalkan di belakang sejarah, yang tak punya jawaban atas pertanyaan masa depan.

Kalau begitu, apa buku itu? Bagi saya, buku itu dunia ide, dunia gagasan. Saya mau menerima pendirian bahwa buku itu benda, yang oleh orang kantor pos disebut "barang cetakan", dan jadi barang dagangan di tangan para penerbit. Tapi jangan salah, peradaban berkembang karena dunia gagasan, dunia ide, yang bergerak, dan tak pernah berhenti bertanya tentang apa lagi dan apa lagi, yang bisa membikin manusia hidup enak, makmur dan sejahtera.

Isi, dan jiwa, atau dunia ide, yang tercetak di dalam buku-buku itu yang membuat peradaban berkembang. Buku, sebagai onggokan materi, hanya kertas, dan bisa berubah menjadi bungkus tahu pong, bungkus kacang tanah, cabai, atau trasi. Lalu dibuang. Tapi dunia ide, dunia gagasan, tetap hidup. Dan mentereng.

Negara, di mana warganya kaya akan gagasan, kreatif, selalu "baru'', dan otentik, menjadi negara kaya, dan kekayaannya dibagi relatif adil dan merata buat kesejahteraan semua warganya tanpa kecuali. ''Wellfare State" mungkin contohnya.

Bangsa seperti ini menjadi bangsa yang unggul, karena memiliki keunggulan. Barangkali ini yang dibayangkan panitia ketika mereka bicara kebudayaan unggul.

Tapi apa gunanya keunggulan? Cukupkah kebutuhan sebuah bangsa, yang bisa sekedar unggul, dan mampu membikin makmur dirinya sendiri? Cukupkah sebuah bangsa hidup makmur, dan merasa menjadi polisi dunia, yang ke sana kemari berkhotbah tentang moralitas, dan keadilan, dan kemanusiaan?

Ternyata tidak. Apa lagi terbukti, yang diajarkannya moralitas dan kemanusiaan palsu. Ini unggul dalam kemunafikan, dan bukan unggul macam ini yang kita cari. Kita tak ingin membikin panas suhu politik dunia.

Kita tak ingin menantang siapa pun, karena kita bangsa yang merdeka dan dengan merdeka pula membiarkan kemerdekaan dinikmati bangsa-bangsa lain. Meskipun·begitu kita tak bisa membiarkan watak gali berkembang dan menebar teror ke mana-mana dengan dalih moralitas palsu tadi.

Keunggulan macam ini akan menjerumuskan dunia ke dalam jurang kenistaan untuk berperang dan saling membunuh, sebuah keunggulan yang berjalan dalam gelap menuju kepunahan. Ini musuh peradaban, musuh keadilan, musuh kebenaran, dan kemanusiaan

Kita tak bisa menjadikan peradaban unggul macam itu sebagai kiblat. Kita mencari keunggulan bukan untuk unggul itu sendiri, melainkan untuk membangun wibawa, dan melarang agar tak ada satu pun bangsa di muka bumi ini, yang cenderung berwatak kolonialis, dan imperialis.

Ini penting dijaga karena watak kolonialis dan imperialis itu tak pernah hilang dari jiwa mereka yang pernah merasakan nikmatnya kekuasaan untuk berdiri di atas penderitaan bangsa-bangsa lain. Ringkasnya, kita tak bisa membiarkan mimpi keunggulan itu terwujud, kalau unggul hanya berarti menambah kacau tatanan dunia yang sudah sangat kacau.

Kita memerlukan keunggulan yang menenteramkan. Keunggulan kita hendaknya memiliki arti penyelamatan, dan pembebasan bagi mereka yang terinjak-injak, tidak selamat, dan tidak bebas. Keunggulan kita harus berarti rahmat bagi kehidupan.

Sumber : Kompas, 17 Agustus 2006

Kembali