Buku dan Sebuah Mimpi
Oleh:
Asma Nadia
Novelis
Saya mengenal seorang gadis kecil yang tinggal di kontrakan kumuh di pinggir rel kereta api, yang mata sipitnya selalu berbinar setiap melihat halaman-halaman buku. Gadis kecil ini memiliki kakak yang juga suka membaca. Tetapi, mereka terlalu miskin untuk membeli buku. Meski begitu, kakak beradik selalu punya sesuatu untuk di baca, sebab ibu mereka rajin mengumpulkan kertas-kertas lusuh, bekas pembungkusan bawang, cabai, atau apa saja, sisa belanjaan dari pasar untuk mereka baca.
Ketika anak perempuan kecil itu sudah bisa melangkah lebih jauh, tak ada tempat yang membuat matanya dipenuhi bintang, kecuali sudut-sudut terminal atau stasiun di mana tumpukan berbagai buku disusun tinggi.
Dengan riang, tangan si gadis kecil dan kakaknya akan meraih buku dan majalah di sana Jika beruntung satu dua bab dari buku tersebut bisa mereka selesaikan. Labih sering imajinasi mereka dirampas saat lelaki penjual buku kesal, mengusir keduanya pergi. Menyisakan kepingan cerita yang harus mereka selesaikan sendiri.
Terkadang ia dan kakak memasuki toko buku besar. Ada kalanya mereka disambut tatapan satpam dan penjaga toko yang memandang lekat ujung kepala hingga sandal jepit lusuh yang mereka kenakan. Tatapan yang menyurutkan langkah kakak beradik hingga kemudian hanya berdiri di balik dinding kaca, denga mata tak beranjak menatap ribuan buku di dalamnya.
Suatu ketika, dia dan kakaknya tak hanya akan memiliki banyak buku, pikir si gadis kecil, tetapi juga menulis buku itu sendiri !, cinta anak perempuan berkepang dua itu terhadap buku terus tumbuh. Kadang ada perasaan sedih sebab lebih sering tak bisa membeli buku yang jadi mimpinya. Perasaan yang kemudian ia tahu, juga menjadi milik anak-anak lain yang tak mampu. Mereka hanya bisa menatap buku dengan bahagia, sebab harganya yang tak murah .
Proses panjang lebih dari dua puluh pajak yagn harus dilewati sejak masih bahan buku menjadi buku, menjelaskan itu. Meski berupa bahan baku kertas sebuah calon buku sudah terkena pajak. Barikutnya ketika buku mulai dicetak deret pajak lain harus dilewati. Pajak terhadap peroduser/importer tinta dan lem, pajak terhadap perusahaan percetakan, dan penerbitan. Belum lagi pajak masih ada pajak penjualan di toko buku dan lain-lain.
Beban pajak yang harus ditanggung membuat mustahil menjual buku denga harga murah saja masih sulit dijual pada masyarakat yang tidak suka membaca. Apalagi jika harganya mahal. Berbeda dengan televisi, untuk menontonnya masyarakat tidak perlu membayar sebab programnya dibiayai iklan.
Si gadis kecil ingat ceita gurunya dahulu. Di masa kejayaaan Islam, seorang khalifah berani membayar penulis dengan emas seberat yang mereka tulis, untuk selanjutnya ilmu tersebut disebarkan secara gratis ke masyarakat. Satu sejarah yang menunjukan betapa ilmu begitu dihargai dan karenanya bidang sains berkembang sangat pesat saat masa itu.
Bagaimana penghargaan terhadap penulis di Indonesia? Jika pada pekerjaan lain seseorang dikenakan pajak hanya bila penghasilan mencapai nominal tertentu, tidak demikian dengan penulis. Tak ada jumlah royalti minimum yang aman dari potongan lima belas persen, meski jika hanya lima puluh ribu rupiah. Situasi ini makin diperburuk dengan maraknya pembajakan buku.
Kenyataannya itu dimengerti si gadis kecil setelah dewasa. Ya, gadis cilik berkepang dua yang dulu tinggal di pinggir rel kereta api dan selalu haus akan buku, kini telah menjadi seorang ibu. Bersama si kakak, keduanya meulis puluhan buku. Belum lama ini ia dipilih sebagai tokoh perbukuan Islam, menyusul kakanya yang telah menerima penghargaan itu beberapa tahun sebelumnya.
Dibantu relawan yang memiliki kecintaan sama, ia menebar 40 perpustakaan sederhana untuk anak-anak tak mampu di Jawa hingga Papua. Bayangnya, masih setia saya temukan, dengan binar yang tak berubah setiap berbicara tentang buku dan anak-anak. Sosok yang diam-diam berharap lahir para pahlwan yagn akan menyederhanakan deret panjang pajak perbukuan. Mereka yang peduli betapa anak-anak, buku dan mimpi adalah sebuah jalinan yang memukau, yang tak seharusnya patah oleh angka-angka.
Sumber : Republika, 24 Maret 2012