Buku
Oleh:
Ahmad Baedowi
Pengalaman apa yang akan kita peroleh dari peristiwa membaca? Banyak hal dan sedikit hal, tergantung dari buku apa yang dibaca dan diminati. Petuah Joseph Joubert dalam hal ini bisa dijadikan sumber rujukan, bahwa kadang kala kita hanya bisa menemukan sedikit hal dari sebuah buku. Namun, jika buku itu baik dan bermutu tinggi, kita bisa menempatkan banyak hal, termasuk harapan dan impian kita sendiri. 'We find little in books, but what we put there. But in great books, the mind finds room to put many things'. Fenomena buku Laskar Pelangi yang meledak bak kacang goreng di pasar sebagai akibat dari Kick Andy's effect yang menandakan bahwa banyak orang mulai menaruh harapan pada kejernihan tujuan pendidikan yang diterapkan Pak Harfan Noor dan Bu Muslimah.
Bagaimana dengan buku pelajaran anak-anak kita di sekolah? Dapatkah buku pelajaran memberi inspirasi dan motivasi bagi setiap siswa yang membacanya? Untuk sampai pada tujuan tersebut rasanya masih jauh panggang dari api. Seorang teman Edu beserta istri dan tiga orang anaknya baru kembali setengah tahun lalu dari Amerika Serikat. Sesampainya di Indonesia, dengan amat susah payah dia mencarikan sekolah yang cocok buat anak-anaknya. Maklum, sebagai PNS yang baru selesai menjalankan tugas belajar, bukanlah mudah mencari sekolah yang sesuai dengan gaya belajar anak-anaknya yang terbiasa dengan fasilitas dan gaya belajar sekolah Amerika yang efisien dan menyenangkan. Putranya yang bungsu bahkan sempat tak mau pergi ke sekolah, dengan alasan kelasnya terlalu sesak dan pelajarannya terlalu banyak serta membosankan. Dia mengeluhkan sulitnya membaca buku yang terlalu banyak dan rata-rata materinya sama sekali tak menarik minat baca siswa untuk membacanya. Jika dilakukan survei, rata-rata anak SD di Indonesia pasti memiliki bahu yang bungkuk (udang) karena terlalu berat beban buku yang harus dibawa ke sekolah setiap hari. Belum lagi kalau anak itu belajar di Madrasah, pasti bukunya akan lebih banyak lagi karena pelajaran agama. juga memiliki banyak buku penunjang lainnya, seperti fiqh, sejarah Islam, dan hadis.
Jika kita perhatikan, buku-buku pelajaran di sekolah kita memang tak menarik. Bahkan isi buku SD yang seharusnya penuh dengan gambar dan alur penyampaian yang ringan dan menyenangkan, diisi dengan ragam teori dan struktur kalimatnya seperti buku-buku untuk mahasiswa. Entah apa yang ada di benak Pak Amich ketika anaknya, yang baru duduk di kelas 4 SD, bertanya padanya tentang arti kata hipokrit, depresi, dan keragaman sosial. Pak Amich membatin, pengarang buku SD di Indonesia memang layak masuk Guiness Book of Records karena gaya tulisan buku mereka ditulis layaknya skripsi, tesis, atau bahkan disertasi. Entah apa yang ada di benak para penulis buku SD dengan memasukkan kata-kata yang belum seharusnya dikenali anak setingkat SD. Bahasa Indonesia yang digunakan sangat jelek untuk tingkat buku SD, alih-alih bisa memahami logika psikologi kependidikan yang syarat dengan berbagai persoalan tumbuh kembang jiwa anak.
Teman Edu lainnya, dengan pengalaman yang kurang lebih sama, bercerita soal kebiasaan anaknya membaca setelah memiliki pengalaman belajar di luar negeri. Suatu ketika anaknya yang baru duduk di kelas 5 SD (fifth grade) pulang dari sekolah membawa sebuah buku yang cukup besar. Semacam ensiklopedi, tapi ternyata buku biologi yang baru dipinjamnya dari perpustakaan sekolah. Teman Edu tak berkomentar banyak, tapi cukup terhenyak karena begitu sampai di rumah, anaknya itu langsung menggumuli buku yang penuh dengan gambar anatomi manusia dan hewan. Dengan diam-diam teman Edu ini memperhatikan bagaimana asyiknya si anak membaca sambil memegang buku kosong dan pulpen. Setiap saat dilihatnya anaknya itu mencatat, membuka, mencatat lagi, dan seterusnya.
Karena penasaran, teman Edu ini diam-diam mendekati anaknya melihat apa yang dibuka, dicatat, dibuka lagi, dan seterusnya dicatat lagi. Ternyata anaknya sudah diajari sang guru untuk mencari materi tertentu di dalam buku tersebut, dengan cara melihat indeks buku pada bagian akhir. Sungguh tak terbayangkan, bahkan bagi pengalaman belajar Edu sendiri pun mengenal indeks di Indonesia bahkan baru dimulai ketika di perguruan tinggi. Itu juga dengan catatan jika bukunya memiliki indeks.
Dapat dibayangkan bagaimana kualitas buku-buku pelajaran kita, bahkan hingga saat
ini tak satu pun buku pelajaran di sekolah dasar hingga menengah di Indonesia memiliki indeks yang dapat memudahkan seorang anak mencerna materi dengan belajar mandiri. Ironis dan sangat menyebalkan!
Sumber : Media Indonesia, 27 Oktober 2003