Literasi Untuk Peradaban
Oleh:
Ahmad Sastra
Ketua Divisi Riset dan Literasi Forum Doktor Islam Indonesia
Perhelatan pameran buku Islamic Book Fair (IBF) 2018 adalah pintu gerbang bagi kesadaran literasi dan kebangkitan peradaban umat Islam di Indonesia. Sejarah kebangkitan peradaban umat dimulai dari kesadaran, pemikiran, dan ilmu pengetahuan.
Ragam buku yang dihadirkan dari hasil pemikiran anak bangsa menandakan adanya kesadaran akan urgensitas literasi sebagai pilar peradaban. Selain sebagai sumber ilmu pengetahuan, buku juga bisa menjadi media dakwah efektif dalam arus perubahan zaman.
Dalam istilah orang Arab, buku adalah teman duduk terbaik sepanjang masa. Seorang dai yang sehari-harinya menyeru kebaikan kepada masyarakat dan mencegah kemungkaran, harus memiliki mental kuat dan ilmu luas.
Sebab, selain menyerukan kebaikan, dakwah juga memiliki fungsi memberikan solusi atas problematika masyarakat. Literasi adalah salah satu cara membangun mental positif dai serta menambah kedalaman ilmu agama yang hendak disampaikan.
Dalam Islam, manusia yang beriman, berilmu, dan beramal saleh diapresiasi dengan derajat tinggi. Tidak ada agama selain Islam. dan tidak ada kitab suci selain Alquran yang sedemikian tinggi menghargai ilmu pengetahuan, mendorong umat untuk mencarinya, dan memuji orang-orang yang menguasainya. Termasuk di dalamnya menjelaskan ilmu dan pengaruhnya di dunia dan akhirat, mendorong untuk belajar dan mengajar, untuk mengenal diri dari kacamata keilmuan dan pengamalannya. Islam dengan tegas membedakan antara orang berilmu dan tidak berilmu.
Sejarah tradisi keilmuan dalam Islam sesungguhnya dimulai dari lahirnya Islam itu sendiri. Rasulullah, sahabat, dan para ulama pendahulu telah menancapkan tradisi ilmu.
Alquran mengandung banyak ayat yang menganjurkan umat Islam senantiasa menggali ilmu dengan cara berpikir atau bertafakur. Biasanya, Allah menyebut orang-orang beriman yang mau berpikir tentang segala penciptaan Allah dengan istilah ulil albab.
Hadirnya IBF seolah menemukan kembali tradisi ilmu di kalangan kaum Muslim yang selama ini sudah mulai luntur. Hal ini terbukti masih rendahnya tradisi literasi kaum Muslim atau bangsa Indonesia dibandingkan negara maju, seperti Jepang dan Jerman.
IBF adalah pintu gerbang bagi kebangkitan literasi sekaligus peradaban umat di negeri ini. Para ulama telah mengawali tradisi literasi ini sejak lama. Salah satu ulama yang bernama Ibnu Sahnun memiliki tradisi literasi yang patut jadi contoh. Dia membaca dan menulis kitab-kitab luar biasa. Suatu saat ketika dia sedang sibuk menulis sebuah kitab, sampai-sampai dia tidak sempat makan. Saat disuapi oleh pembantunya, bahkan dia menyatakan di pagi harinya, dia tidak merasakan suapan pembantunya itu karena konsentrasi tinggi saat membaca dan menulis.
Ibnu Sina pernah berkata, "Jika ada persoalan yang terlalu sulit bagiku, aku pergi ke masjid dan berdoa, memohon kepada Yang Maha Pencipta agar pintu yang telah tertutup bagiku dibukakan dan apa yang tampaknya sulit menjadi sederhana. Biasanya, saat malam tiba, aku kembali ke rumah, menghidupkan lampu dan menenggelamkan diri dalam bacaan dan tulisan."
Apa yang dilakukan oleh Ibnu Sina dalam bahasa sekarang disebut sebagai budaya literasi. Kemampuan untuk membaca dan menulis. Menurut Austin town local schools dalam literacy philosophy, literasi dimaknai sebagai kemampuan untuk berpikir kritis dan berkomunikasi secara efektif. Mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis dalam semua konten.
Literasi juga bisa dimaknai sebagai kemampuan seseorang dalam mengelola dan memahami informasi saat melakukan proses membaca dan menulis. Anjuran untuk senantiasa berpikir dan mengamati realitas dengan jelas disebutkan dalam Al-quran. "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." [QS Ali Imran: 190-191]
Bahkan, secara spesifik, budaya membaca dan menulis telah disebutkan dalam Alquran. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang mendapatkan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. [QS Al-Alaq: 1-5].
Budaya literasi merupakan sebuah kreativitas intelektual. Kreativitas sesungguhnya bersumber dari pola pikir seseorang yang positif. Alquran sebagai sumber ilmu pengetahuan telah memberikan peluang kepada umat manusia mengoptimalkan pemikirannya untuk mengeksplorasi alam semesta, kehidupan, dan manusia.
Budaya membaca dan menulis bukan hanya akan memajukan peradaban bangsa, melainkan lebih dari itu akan mampu menjadi media pembangun karakter bangsa itu.
Budaya literasi bisa dijadikan sebagai salah satu metode pembentukan karakter. Sebab, proses menjadi seorang pembaca dan penulis yang tidak mudah akan memberikan dampak intrinsik maupun ekstrinsik, baik secara mental, intelektual, maupun spiritual.
Dampak intrinsik budaya literasi adalah terjadinya kristalisasi karakter positif. Proses kreatif dalam budaya literasi bisa menjadi media pembentukan karakter semangat, cerdas, sabar, jujur, disiplin, dan selalu memberi manfaat bagi orang lain. Sebab, karakter positif di atas sangat dibutuhkan para dai yang sehari-harinya bergelut di bidang dakwah dan taklim.
Dampak ekstrinsik literasi adalah terbangunnya masyarakat yang cinta ilmu, cerdas, dan memberikan kontribusi positif bagi terbangunnya kemajuan peradaban. Kemajuan peradaban sebuah bangsa tidak bisa dilepaskan dari kualitas masyarakatnya yang cerdas, terdidik, dan selalu berpikir bagi kemajuan dengan landasan ilmu pengetahuan dan spiritualitas.
Secara konten, budaya literasi juga mampu membangun nilai-nilai etis dan estetis, semisal literasi sastra. Dengan karya-karya fiksi Islami akan mampu memperhalus rasa dan kesantunan, baik penulisnya maupun yang membacanya. Karya-karya semisal puisi, cerpen, dan novel akan memberikan dampak psikologis positif bagi penulis dan pembaca.
Bahkan, kini karya fiksi tidak lagi sekadar menghadirkan kisah kemanusiaan, tetapi telah lahir banyak fiksi saintifik, ekonomi, pemikiran, dan sejarah yang sarat dengan pengetahuan. Mengajarkan sains melalui karya sastra adalah langkah maju bagi budaya literasi di Indonesia. Maju terus IBF, semoga menjadi inspirasi peradaban masa depan di Indonesia dan dunia.
Sumber : Republika, 19 April 2018