Membangun Budaya Baca
Oleh:
Hadi Purnama
Pemerhati Media, Ketua Stikom Bandung
T.S. Elliot, penyair masyhur Inggris yang hidup pada awal abad ke-20 pemah berucap, "Sulit membangun peradaban tanpa budaya tulis dan baca" Salah satu pilar yang menyangga budaya tulis dan baca adalah buku.
Budaya baca dan buku saat ini sangat penting ketika pamor media cetak dan buku pelan-pelan digerus budaya menonton televisi dan online. Apakah buku tetap dibutuhkan dan akan bertahan di tengah serbuan media elektronik dan online? Terlebih masih ada persoalan tingginya jumlah penduduk buta huruf di Indonesia saat ini, yaitu lebih dari 8 juta jiwa, serta rendahnya budaya baca masyarakat.
Secara statistik, budaya baca masyarakat Indonesia menempati posisi terendah dari 52 negara di kawasan Asia Timur berdasarkan data yang dilansir Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD). Padahal, Indonesia telah lebih dari setengah abad merdeka dari belenggu tangan kolonial yang sengaja membuat rakyat jauh dari budaya baca.
Namun, setelah hampir tujuh dekade merdeka, bangsa kita belum mampu membebaskan rakyatnya dari belenggu kebodohan, bahkan dibandingkan dengan negara-negara tetangga yang baru belakangan menghirup kemerdekaan.
Faktor penyebab
Ada banyak faktor yang menyebabkan terpuruknya budaya baca di masyarakat Indonesia umumnya. Pertama, sistem pendidikan dasar kurang memberikan ruang bagi tumbuh kembangnya minat baca. Rendahnya daya rangsang para pendidik melalui teladan membaca sebagai upaya membangkitkan "rakus" baca di kalangan anak didik dinilai sebagai salah satu faktor penyebabnya. Padahal, sebelum menganjurkan siswanya gemar membaca, para guru diharapkan menjadi suri teladan. Bila kita mau jujur, guru yang gemar membaca masih menjadi kelompok minoritas.
Fakta menunjukkan, hasil ujian nasional 20l0 untuk pelajaran Bahasa Indonesia menempati posisi paling bontot. Kecenderungan siswa kurang memahami pelajaran Bahasa Indonesia menjadi indikator ada yang salah dalam metode pembelajarannya. Ini berkorelasi terhadap rendahnya apresiasi minat baca di kalangan siswa.
Faktor kedua, rendahnya budaya baca ditengarai berkorelasi pula dengan rendahnya daya beli sebagian besar masyarakat. Sebagai conotha, saat ini lebih dan 4,9 juta orang Jabar (hampir12 persen dari jumlah penduduk) masih berada di bawah garis kemiskinan (data Badan Pusat Statistik Jabar 2009). Artinya, buku masih menjadi komoditas mahal dan bukan prioritas bagi kebanyakan warga di Tatar Sunda.
Kondisi tersebut diperparah dengan minimnya dukungan pemerintah terhadap industri perbukuan. Penerbit buku merupakan salah satu lokomotif yang mampu menarik tumbuhnya minat baca masyakat, terlebih saat pemerintah mampu memberikan insentif bagi industri perbukuan. Pemberlakuan cukai atas komoditas kertas sebagai bahan utama buku serta pengenaan pajak pertambahan nilai untuk buku dipandang sebagai faktor ketiga yarng telah mendongkrak harga buku sehingga tidak terjangkau masyarakat berpenghasilan rendah.
Mendorong industri buku
Bila kita meyakini buku sebagai salah satu lokomotif peradaban, diperlukan dukungan bukan hanya oleh pihak pemerintah, melainkan juga seluruh lapisan masyarakat. Pemerintah sejak awal diharapkan membantu industri perbukuan dengan mengurangi atau bahkan menghapus cukai atas buku sehingga harga buku lebih terjangkau. Secara makro diperlukan dukungan sekaligus keberpihakan terhadap industri perbukuan. Kini industri perbukuan di Indonesia belum sepenuhnya sehat. Dengan sekitar 476 penerbit di Indonesia saat ini, buku yang terbit pertahun hanya 12.000 judul. Bandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang lebih dari 220 juta jiwa Bandingkan dengan Amerika Serikat yang menerbitkan 75.000 judul buku per tahun dan India dengan 25.000 judul.
Bila diasumsikan setiap judul dicetak minimal 1.000 eksemplar, di AS beredar lebih dari 75 juta eksemplar buku baru setiap tahun dan di India beredar 25 juta buku baru. Adapun di negara kita hanya beredar 12 juta buku baru. Selain itu, andil pemerintah tidak kalah penting dalam memberikan insentif bagi para penulis buku. Tahun 2009 saja pemerintah melalui Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional telah menganggarkan bantuan finansial kepada penulis buku sebesar Rp 2 miliar untuk 500 judul buku. Bila mengharapkan lebih banyak penulis buku, sebaiknya anggaran untuk penulis buku baru ditingkatkan setiap tahun.
Di samping itu, perlu diperbanyak ajang penghargaan bagi buku- buku yang berkualitas dari berbagai kategori. Saat ini pemberian anugerah bergengsi oleh Ikatan Penerbit Indonesia dengan Ikapi Award perlu ditiru lembaga lain.
Budaya tandingan
Di sisi lain masyarakat sebagai konsumen diharapkan membangun budaya baca dengan kebiasaan membaca di lingkungan keluarga. Salah satu cara sederhana adalah menjadikan buku sebagai "komoditas" yang diprioritaskan dalam belanja rutin bulanan.
Berkaca dari keberhasilan kampanye sosial pada era Orde Baru, semisal Keluarga Berencana, tidak ada salahnya pemerintah daerah meniru cara menggelorakan kampanye budaya baca, misalnya dengan slogan "satu buku satu umpi setiap bulan" yang diharapkan mendorong tumbuhnya industri perbukuan.
Sementara program hibah buku akan menjadi pendorong tumbuhnya kesalehan sosial masyarakat dalam pemerataan ilmu dan pengetahuan. Di tataran lebih luas, pemerintah harus mendorong tumbuhnya taman bacaan masyarakat.
Keberadaan buku sebagai salah satu komponen yang turut membangun peradaban harus terus didorong. Buku bukan semata komoditas bisnis, melainkan dapat berperan aktif dalam membangun karakter anak bangsa yang belakakangan cenderung kian terpuruk. Bahkan keterpurukan kualitas pendidikan saat ini bisa jadi berkorelasi dengan rendahnya budaya baca masyarakat. Melalui buku tidak hanya disampaikan pesan secara verbal, tetapi juga berlangsung transformasi nilai-nilai budaya antargenerasi.
Mewujudkan masyarakat gemar membaca akan menjadi langkah awal menuju terbentuknya kebiasaan membaca. Dari sana akan terbentuk tuntutan dan kebutuhan membaca yang akan mendorong terbentuknya budaya baca. Hal itu akan berujung pada terciptanya masyarakat pembelajar.
Tidak berlebihan bila Paulo Friere, penulis buku Pendidikan Kaum Tertindas, mengatakan, "Buku ibarat lentera yang memberi cahaya kehidupan dan membebaskan manusia dari kebutuhan ilmu pengetahuan." semua hanya dapat diraih manakala terbangun budaya baca di kalangan masyarakat.
Bahkan di tengah kepungan media massa, baik radio, televisi, maupun internet, yang cenderung berisi "pesan sampah", budaya baca buku akan menjadi sebuah budaya tandingan bagi masyarakat. Semoga.
Sumber : Kompas, 06 Juli 2010