Oleh:

C W Watson

Adjunct Professor SBM ITB, Emeritus Professor

School ofAnthropology, University of Kent, UK

 

Belakangan ini terdapat banyak tulisan mengenai perlunya kita meningkatkan literasi masyarakat Indonesia. Kalau murid-murid Indonesia tidak diajar membaca dengan kritis untuk memperoleh higher order thinking skills (HOTS), keterampilan berpikir pada tingkat kecerdasan, katanya mereka tidak akan siap menghadapi tantangan zaman, apalagi bersaing dengan tenaga kerja negara-negara lain.

Sebetulnya, penerapan pengajaran HOTS ini sudah mulai dilakukan, melalui penyelenggaraan kurikulum tiga belas dan Ujian Nasional. Akan tetapi, ternyata sarana dan prasarana belum siap, guru-guru belum cukup terlatih, bahan ujian pun tidak sesuai dengan mata pelajaran di sekolah. Baik murid maupun orangtuanya merasa serba bingung. Kini suasana galau dan gelisah menghantui gedung-gedung sekolah dan aula-aula perguruan tinggi.

Tentu, dalam memikirkan keadaan ini, tidak ada orang yang menyangkal pentingnya membaca. Akan tetapi, satusatunya tarekat yang diketengahkan untuk mencapai sasaran ini, seolah-olah ia menjadi mujarab, ialah penyediaan perpustakaan. Akan tetapi mendirikan perpustakaan saja tidak memadai.

Kalau sungguh-sungguh ingin mendorong anak-anak supaya suka membaca, kita perlu menciptakan satu kebijakan yang menyeluruh, tersusun dengan lengkap, yang mencakupi semua hal yang bersangkutan dengan dunia bacaan: dari latar belakang kemasyarakatan (social context), sarana-sarana penunjang, peranan keluarga dan metode pedagogi di sekolah dan perguruan tinggi.

Contoh sederhananya, berhubung dengan soal sarana, beberapa hari silam seorang pejabat dari Dinas Pendidikan menyatakan bahwa ia melihat banyak perpustakaan sekolah. Akan tetapi, ketika memeriksa buku-buku yang tersedia ia hanya menemui buku teks saja. Tidak ada buku yang isinya bakal merangsang minat murid. Jelaslah, katanya, kita harus mengisi rak perpustakaan dengan bahan yang sesuai.

Akan tetapi, selain memilih buku-buku yang cocok untuk perpustakaan, masih banyak langkah lain yang harus kita tempuh. Di bawah ini, tercatat beberapa contoh yang barangkali dapat menjadi bahan renungan di kalangan keluarga dan sekolah.

 

Obat mujarab

Sebenarnya ada obat mujarab untuk mendorong anak membaca, tetapi sayang sekali obat ini sangat pahit, terlalu pahit bagi orangtua yang harus minum obat ini bersama-sama dengan anaknya. Inilah dia singkirkan televisi dari rumah dan batasilah jam-jam anak-anak boleh memakai gawai gim.

Akan tetapi, toh kita harus cukup realistis. Sedikit sekali keluarga yang mau berbuat ini. Apa ada jalan lain yang dapat kita ikuti? Ada. Dalam memikirkan hal ini, jangan sekali-sekali kita lupa betapa penting contoh yang diberi orangtua pada anaknya. Kalau, umpamanya anak-anak melihat kedua orangtuanya rajin membaca, mereka juga akan ikut-ikutan.

Demikian kita harus menyediakan bacaan buku dan komik anak-anak yang menjadi milik mereka. Kemudian kita harus membaca buku-buku itu bersama-sama mereka, membuka halaman demi halaman memperlihatkan gambar—persis  sebagaimana dianjurkan oleh Ibu Neti Supriati (Mangle Nomor 2726, hlm 26). Terdorong oleh rasa ingin tahu, anak-anak pasti tertarik mengetahui isinya, dan hasrat membacanya akan timbul.

Lantas, sesudah anak kita masuk SD, dia akan semakin tertarik pada dunia di sekelilingnya. Pada umur ini dia suka melihat surat kabar dan majalah. Apalagi kalau dia melihat gambar-gambar dari dunia yang mulai memikat perhatiannya. Di sinipun orangtua harus bertindak.

Menyaksikan anaknya mulai tertarik pada dunia binatang, misalnya, bacalah berita di mana ada gambar gajah, atau orang utan, terangkan bagaimana habitatnya sedang terancam oleh kerakusan manusia. Tanamlah kesadaran dan sikap kritis mereka. Ajak mereka berdiskusi. Tentu

saran-saran ini hanya dapat berjalan kalau ada koran dan majalah di rumah.

Sayang sekali, zaman kini banyak orang tidak suka membaca berita di koran tetapi mau membaca online (daring) saja. Mungkin lebih praktis begitu, tetapi cara demikian, dengan membaca diam-diam apa yang ada di layar handphone kita, tidak akan merangsang anak membaca.

Namun yang dianjurkan ini pun mungkin dianggap terlalu muluk. Sebagian besar dari orangtua tidak ada waktu untuk memperhatikan bacaan anak. Dan, banyak orangtua kurang berpengalaman sehingga kewalahan bagaimana melatih anaknya. Penelitian Basil Bernstein, yang namanya pasti terkenal di kalangan ahli pendidikan kita, membuktikan keadaan ini pun terdapat di Inggris, di mana anak-anak dari kelas menengah yang dididik oleh orangtua yang berpendidikan tinggi dapat banyak kelebihan ketimbang anak dari kelas buruh.

Oleh karena itu, kebijakan Kementerian Pendidikan di Inggris selalu berusaha bagaimana supaya anak-anak dari keluarga yang kurang mampu dapat menerima pelayanan tepat di sekolah, sehingga mereka tidak lagi kekurangan dibandingkan dengan temannya. Dalam ikhtiar ini, yang diutamakan ialah pemberian dorongan dan perangsang supaya siswa belajar membaca dengan kritis.

Pelajaran bahasa dan sastra sangat penting dan tidak dianaktirikan—seperti  sering terjadi di negara-negara lain. Di samping sarana-sarana mustahak—tentu buku-buku dan bahan-bahan digital—guru-guru  bahasa diberi latihan bagaimana menarik perhatian murid ke hal-hal yang bersangkutan dengan dunia modern: ekonomi, keragaman budaya, masalah lingkungan, perubahan cuaca dll.

Semoga di Kementerian Pendidikan Indonesia hal-hal ini sudah mulai dibahas, dan contoh-contoh yang dapat kita pelajari dari negara-negara lain yang rajin bekerja sama dengan Indonesia dalam bidang pendidikan.

Seperti Australia dan Finlandia, akan membawa manfaat bagi pengubahan sistem pengajaran dan akan melahirkan angkatan murid yang tidak lagi ketinggalan dari pantarannya di negara-negara lain.

Sumber : Pikiran Rakyat, 10 Mei 2019

Kembali