Oleh:

Romi Satria Wahono

Dosen, Peneliti dan Technopreneur, Founder & CEO PT Brainmatics dan Braindevs

(Perusahaan Rintisan Bidang Teknologi Informasi)

 

Suherman

Analis Data dan Dokumentasi Ilmiah  Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)

 

 

Mitos dapat diartikan sesuatu yang dianggap benar padahal khayal. Mitos bukan hanya populer di kalangan orang awam, akan tetapi ironinya sering juga terjadi di dunia pendidikan, yang mestinya mengedepankan rasionalitas. Berikut tujuh mitos pendidikan yang sering dijumpai dan sudah dianggap kebenaran oleh sebagian besar masyarakat. Padahal kenyataannya itu semua bukanlah sebuah kebenaran dan bahkan mungkin sesuatu yang menyesatkan.

Mitos Pertama, sekolah tempat mencetak anak pintar. Faktanya tidak semua sekolah dapat mencetak orang-orang pintar bahkan ada yang sebaliknya menjadikan anak bodoh. Sejatinya setiap anak terlahir sama, memiliki otak seberat 1000 gram, yang menurut beberapa penelitian ini setara dengan hardisk 1000 TB. Menurut Adam Khoo, sepintar-pintarnya manusia hanya menggunakan kurang dari 1 persen kapasitas otaknya. Yang berbeda adalah kodrat atau talentanya dan inilah yang mesti dibimbing atau di-emong oleh para pendidik supaya berkembang dan berbuah. Ki Hajar Dewantara (1928) mengatakan, “Kodrat lebih kuasa dari pada pengajaran”, dan talenta tidak berkembang itulah yang kemudian kita sebut sebagai “bodoh”. Hal ini disebabkan oleh penerapan sistem pengajaran yang sama  untuk semua anak, diperparah oleh adanya pemeringkatan atau ranking di sekolah yang membuat makna mendidik manusia ini jadi sedikit hilang. 

Anak-anak bagaikan binatang yang hidup di hutan. Aada burung yang pintar terbang,  gajah yang besar dan kokoh, harimau yang larinya kencang, dan ikan  yang pandai menyelam. Apabila binatang-binatang itu diranking siapa yang paling pintar dari nilai rata-rata semua kemampuan di atas?

Hentikan sistem ranking! Didiklah anak sesuai dengan kecenderungan, passion, dan potensinya masing-masing.  Jangan paksa burung untuk menyelam atau monyet supaya terbang.  Aaron Stern mengatakan bahwa jenius tidak dilahirkan, jenius itu diciptakan karena kecerdasan manusia bisa dilatih untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi. “ It takes 5000 hours to turn a novice into an expert” kata Donald Norman mengamini.  

Mitos Kedua, soal ujian terbaik adalah multiple choice.  Soal ujian adalah cara kita menguji anak didik, apakah berbagai pengetahuan yang kita ajarkan bisa digunakan untuk penyelesaian masalah kehidupan atau tidak. Soal benar-salah dan multiple choice akan merusak otak anak didik, karena solusi kehidupan disangka hanya benar-salah atau a-b-c-d. Padahal solusi dalam kehidupan perlu berbagai kreativitas dan inovasi untuk mendapatkan jawaban, bahkan ada persoalan dunia yang memang tidak ada jawabannya.

Memahami konsep dan menceritakan dengan bahasa sendiri (essay), jauh lebih baik daripada menghafal. Apabila  kita perhatikan, gaya soal ujian pendidikan di negara-negara maju, soal essay lebih dominan. Essay menuntut anak didik untuk memberikan jawaban dengan berbagai kreativiats dan alternatif solusi dari pemikiran.Di Jepang ada konsep yang disebut shippaigaku (ilmu kegagalan), yang juga diterapkan dalam soal ujian dan penugasan yang memang sengaja didesain untuk mengajarkan ke siswa bahwa di dunia ini, kadang masalah memang tidak ada solusinya.

Hentikan kerusakan otak anak didik, mari kita buang soal multiple choice dan tinggalkanlah hafalan yang tidak penting. Biarkanlah anak didik menguraikan jawaban dengan merdeka berdasarkan kreativitas dari pengetahuan yang sudah kita ajarkan.

Mitos Ketiga, kejarlah nilai IPK tinggi supaya hidup sukses. IPK tinggi tidak menunjukkan kecerdasaran akan tetapi  enunjukkan portofolio  dalam pengelolaan waktu di kampus.  IPK tinggi menunjukkan nilai kompetensi hardskill (kognitif dan psikomotorik), bukan softskill atau afektif (sikap), padahal kedua terakhir ini yang akan menentukan kesuksesan.  

Dunning-Kruger (1999) menjelaskan mengapa mahasiswa yang ranking akademiknya rendah banyak yang sukses ketika kuliah lanjut atau berbisnis. Menurut Dunning-Kruger kesalahan dalam menilai orang yang inkompeten berawal dari kesalahan menilai diri sendiri, sedangkan kesalahan dalam menilai orang yang sangat kompeten berawal dari kesalahan menilai orang lain.  Bisnis butuh kepercayaan diri, akan tetapi sayangnya semakin paham pengetahuan terkadang orang semakin tidak percaya diri.  

Bukan pengetahuan, justru ketidaktahuanlah yang cenderung menghasilkan kepercayaan diri, meskipun ini sebenarnya bias kognitif yang menyebabkan superioritas ilusif seperti dikemukakan oleh Charles Darwin. Seseorang bisa memiliki ide hebat, tapi akan sia-sia jika tidak bisa meyakinkan banyak orang kata Gregory Berns.  Dari hasil riset kepemimpinan juga diperoleh fakta bahwa para pemimpinan hebat bukan mereka yang memiliki IQ (intelligence quotient) tinggi akan tetapi yang memiliki EQ (emotional quotient) tinggi. Banyak pemimpin perusahaan atau negara membawahi anak buah dengan IQ lebih tinggi sehingga muncul istililah “when smart is dumb”

Didik dan bangkitkan mentalitas anak-anak muda supaya  kuat ilmu pengetahuannya, lebih kuat keyakinannya,  percaya diri, dan memiliki softskill yang bagus.  Mereka yang kurang serius bidang akademiknya supaya lebih banyak belajar, membaca, dan bekerja keras karena superioritas ilusif itu berbahaya dan akan menghancurkan integritas pribadi

Mitos Keempat, anak akan cepat pintar dengan menambah mata pelajaran atau mata kuliah. Bila dibandingkan dengan negara-negara maju—seperti  Korea Selatan, Jepang, Cina, Rusia, Finlandia, Perancis, dan Inggris—Indonesia  memiliki jam pelajaran yang lebih lama serta buku pelajaran lebih banyak. Buku yang harus dibaca oleh siswa kelas 3 sampai kelas 6 SD dalam setiap kuartal, apabila ditimbang beratnya mencapai 43 kg. (Kompas, 17 Agustus 2003).  

Kurangi pembelajaran kognitif dan psikomotorik, perbanyak pendidikan afektif (sikap, karakter, dan softskill)

Mitos Kelima, semakin banyak membaca semakin pusing. Kepala jadi pusing bukan karena banyak membaca, tapi karena yang dibaca belum banyak. Sudah banyak hasil riset nasional dan internasional seperti INSEP, PIRLS, PISA, OECD (UNESCO), dan World Bank yang menunjukan bahwa budaya literasi bangsa Indonesia rendah. 

Terpuruknya budaya literasi bukan hanya terjadi di pendidikan dasar dan menengah, akan tetapi juga terjadi di perguruna tinggi. Abdul Mu’ti (2011) mengakui bahwa sikap malas membaca buku bukan hanya di kalangan mahasiswa tingkat sarjana (S1), tapi juga pada kelompok mahasiswa pascasarjana (S2). “Mereka tak mau menelaah buku, kalaupun ada tugas menulis mereka melakukan download saja dari internet”. Ki Supriyoko menuturkan bahwa buruknya budaya literasi juga terjadi di kalangan dosen.

Apabila ingin meningkatkan kualitas tugas akhir (skripsi/tesis/disertasi), maka wajibkanlah pada mahasiswa untuk lebih banyak membaca, membaca dan membaca. Adagium di dunia pendidikan bahwa jumlah minimal paper ilmiah yang harus dibaca setiap level pendidikan untuk penyelesaian penelitian tugas akhir dengan baik adalah: S1: 20-70 paper, S2: 70-200 paper dan S3: 200-700 paper.

Mitos Keenam, tugas guru atau dosen adalah mengajarkan buku teks. Tujuan pendidikan menurut taksonomi Bloom adalah membangun kognitif, psikomotorik, dan afektif. Di perguruan tinggi diejawantahkan dalam bentuk tridarma perguruan tinggi: Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian dan Pengembangan, dan Pengabdian kepada Masyarakat

Idealnya pengetahuan yang diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan adalah; pertama, explicit knowledge (berupa teks tercetak maupun elektronik) sebagai bahan pembelajaran  atau referensi yang bisa dipakai oleh orang lain. Kedua, tacit knowledge: pengetahuan yang berbentuk know-how, pengalaman, skill, pemahaman maupun rules of thumb yang melekat pada individu. Kata Michael Polyani, “pengetahuan kita jauh lebih banyak daripada yang kita ceritakan.” Tugas pendidik adalah mengajarkan kognitif, psikomotorik dan afektif, serta menyampaikan pengetahuan yang seimbang antara explicit knowledge dan tacit knowledge.

Mitos Ketujuh, jadilah the good boy. Jadilah orang baik, jangan nakal, jangan melakukan kesalahan, jangan sembrono, jangan ambil risiko, jangan, jangan dan jangan! Terlalu banyak larangan dan ancaman yang kita berikan ke anak muda kita. Dalam sejarah kita membaca bahwa orang-orang besar atau sukes adalah justru mereka yang menjadi bad boy, dalam arti menjadi pemberontak pada aturan-atauran yang dirasakan menindas dan membelenggu bagi kemajuannya. Mungkin kita tidak akan meyaksikan kebesaran Bung Karno kalau dia bersikap nriwo dan sumuhun dawuh terhadap kolonialisme. Karl Marx tidak akan menjadi ideolog hebat bila menuruti orang tuanya yang menginginkan Marx menjadi pendeta. Mao Zedong kabur dari rumah karena orang tuanya menginginkannya menjai petani.  Bill Gates, Steve Jobs, dan Elon Musk adalah para pemberontak yang meninggalkan univesitas karena merasa bosan.

Indonesia telah berpengalaman dipimpin orang-orang baik yang santun dan selalu patuh pada regulasi dan rekomendasi internasional, akibatnya kita kehilangan industri pesawat terbang (1998), kita tidak pernah bisa mengubah Toyota menjadi Kijang, seperti Malaysia mengubah Mitsubishi menjadi Proton. Salah satu prinsip hidup sukses adalah “lebih baik minta maaf dari pada minta izin,” terlebih dengan banyaknya regulasi dan legislasi serta birokrasi yang menghambat mobilitas dan kemajuan.    

Kurangi mengatakan “jangan” kepada anak didik kita, kecuali untuk hal-hal yang benar-benar prinsip, fundamental, dan sakral. Indonesia membutuhkan para pemimpin yang “patriotic assholes”

Itulah tujuh mitos yang akan menghambat konsepsi merdeka belajar yang bertujuan mencetak manusia merdeka. Salah satu upaya untuk menghancurkan mitos-mitos di atas adalah dengan membangun budaya literasi sains, yaitu literasi yang dilandaskan kepada nilai-nilai ilmiah pada masyarakat. Literasi sains adalah sebuah kecakapan dalam menggambungkan antara observasi, intuisi, teori, hipotesis, eksperimen dan analisis—komponen-komponen penting proses pembelajaran.  

Tujuan utama literasi sains adalah untuk membangun sikap atau karakter ilmiah (scientific attitude). Ciri-ciri utama masyarat berbudaya literasi sains adalah: pertama, terbiasa berpikir rasional dalam mengambil keputusan secara objektif yang didasarkan kepada fakta dan data. Kedua, berbicara dan bekerja berdasarkan ilmu pengetahuan.. Ketiga, gemar berdiskusi dan proaktif dalam mengembangkan wacana atau ide. Keempat, menyenangi hal-hal yang baru dan menikmati tantangan serta perubahan. Kelima, menerima argumen berdasarkan pada fakta dan analisis bukan pada otoritas.

Literasi sains bukan semata-mata mengajarkan sains akan tetapi juga membangun pola pikir yang bernalar. Cara terbaik membangun literasi sains adalah dengan melakukan kegiatan sains atau pengalaman empiris, bukan hanya pengajaran yang berupa hafalan.  

Literasi sains, selain mengikis mitos, merupakan fondasi utama untuk membangun manusia merdeka yaitu “manusia yang hidupnya lahir atau batin tidak tergantung kepada orang lain, akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri” (Ki Hajar Dewantara, 1928).

Kembali