Oleh:

Agus Dermawan T.

Penulis Buku Sosial Politik-Budaya Sihir Rumah Ibu

 

Pada 1980-an, saya beberapa kali bertemu dengan sastrawan Sutan Takdir Alisjahbana. Dalam sebuah percakapan, Sutan Takdir Alisjahbana menyatakan bahwa dia kurang suka namanya disingkat jadi STA. "Singkatan sering bermuatan hukum dan politis, jika tidak   menyepelekan dan menyiratkan kemalasan. Saya lebih suka dipanggil Sutan Takdir," kata dia. Pelopor Angkatan Pujangga Baru ini memang suka yang panjang-panjang. Simak novelnya yang terakhir, Grata Azzura serta Kalah dan Menang yang setebal bantal.

Persoalan penyingkatan tentu saja berkaitan dengan upaya pemendekan. Dan pemendekan selalu dikaitkan dengan pemudahan penyebutan. Namun di Indonesia, kegiatan pendek-memendekkan ini ternyata tidak sekadar diangkat dari urusan praktis itu. "Makna pendek itu sudah telanjur memikul mitos yang tinggi," kata Dullah, pelukis Istana Presiden Sukarno, yang mengaku tubuhnya kecil dan pendek. Lalu ia menegaskan mitos itu dalam ungkapan: "Orang pendek panjang akalnya".

Ini mengingatkan kita kepada Soemitro, Adam Malik atau B.J. Habibie yang kecil dan pendek, tapi sungguh mahir berkelit dan berpikir panjang kala menangani Indonesia. Prabowo Subianto, yang terbilang tidak tinggi dalam parameter militer, mampu menjadi tokoh yang meriuhrendahkan pemilu. Napoleon Bonaparte yang pendek bisa menguasai Eropa. Adolf Hitler, yang jauh lebih pendek daripada ukuran tubuh orang Jerman, bisa mengobarkan Nazi di sepanjang kemelut perang.

Sementara yang panjang (tinggi) sering dituduh kurang perhitungan dan lamban. Seperti Petruk yang pernah sesat kuasa jadi Raja. Ahok yang sering ngomong terlampau terang sehingga menstimulasi lawan urituk menyerang. Atau Mochtar Lubis, budayawan hebat bertubuh menjulang, yang dianggap suka kehilangan kewaspadaan sehingga beberapa kali masuk penjara. Bahkan sang tinggi besar Susilo Bambang Yudhoyono yang dianggap sebagai peragu dalam melakukan kecepatan tindakan.

Yang pendek itu lebih sering mengagetkan, kata banyak orang pintar Jawa lama. Ingat ungkapan yang berkait dengan batang bambu: "Dowo keno kanggo pikulan, cendhak keno kanggo penthungan". Bambu yang panjang bisa untuk memikul, sedangkan yang pendek bisa untuk memukul. Pikulan tidak banyak dilihat dan dibicarakan peranannya, namun pukulan akan mengentak mereka yang menyaksikan, dan diperbincangkan sabetannya. Pendeknya, yang pendek lebih sakti daripada yang panjang.

Mungkin itu sebabnya sejak tahun 2000 majalah dan surat kabar di Indonesia, bahkan di seluruh dunia, ramai-ramai melakukan pemendekan dalam segala hal. Artikel-artikelnya dipersingkat, format medianya diperpendek atau diperkecil. Dengan begitu, waktu untuk membacanya pun semakin pendek. Dampak dari kebiasaan memburu yang pendek ini adalah, masjid dan gereja sering ditaburi keluhan ketika sang ustad atau pendeta terlampau panjang membacakan doa. Umat yang cerewet dan selalu ingin tergesa saling menoleh sambil berbisik, "Panjang amat... Bukankah Tuhan sudah tahu isinya?"

Dalam dunia sastra, cerita yang panjang kini semakin langka. Dulu hampir setiap koran dan majalah memuat cerita bersambung. Kini sungguh jarang. Yang muncul bertubi adalah cerita pendek atau cerpen. Bahkan dalam satu edisi majalah atau koran Minggu bisa berisi tiga cerpen. "Kini novel yang ratusan halaman kehilangan ruang," kata Remy Sylado, empu feuilleton yang terus berjuang menggubah cerita panjang.

Apabila benar sastra novel sedang berjumpa dengan takdir kesepiannya untuk sementara waktu, tentu itu adalah hal yang niscaya. Namun, tatkala ada manusia yang bernama Novel seolah juga ikut terimbas fenomena pilihan sastra, pastilah hadir sebagai hal yang ganjil. Apabila ada orang yang bernama Novel seolah dipaksa untuk ikut terseret-seret takdir murung prosa panjang (yang dihegemoni sastra pendek), harus ditatap sebagai hal luar biasa.

Kita tahu, betapa pada minggu-minggu terakhir ini bangsa Indonesia dihebohkan dengan penangkapan ahli sidik KPK, Novel Baswedan, oleh Bareskrim Polri. Terlepas dari seluk-beluk perkara dan kebenaran kasusnya, sosok Novel oleh Bareskrim tentulah akan direduksi peranannya. Selanjutnya, bagai pembredelan isi novel, paparan panjang Novel akan dipendekkan, sehingga tidak banyak berkata-kata. Dalam analogi sastra, Novel akan dipaksa jadi cerpen. Ibaratnya, kitab yang 700 halaman akan diringkus jadi 7 halaman saja.

Novel pastilah sadar bahwa nama yang diberikan oleh orang tua adalah doa, harapan, modal kekuatan, sekaligus beban. Dengan begitu, nama Novel yang disandang harus dijunjung dengan cara mengkonkretkan makna nama dalam kenyataan kehidupan.

Novel Baswedan tentulah tahu bahwa kata novel berasal dari novella (Italia) yang artinya cerita panjang berbentuk prosa, yang di dalamnya menyimpan kelengkapan. Dalam batasan umum, berbagai cerita panjang seperti hikayat dan roman (yang mengisahkan secara detail kebaikan hati, kepahlawanan, serta percintaan) juga dikategorikan sebagai novel. Novel Baswedan juga mengerti bahwa sebuah novel harus digubah dengan didasari pemahaman patientia vincit omnia, landasan kesabaran untuk menaklukkan kesulitan, demi teranyamnya kisah dan kata. Dengan begitu, makna novel memiliki muatan yang luas, lebar, dan dalam. Makna budaya inilah yang berusaha diselami oleh Novel, dan ingin dielaborasi dalam kehidupan yang dijalaninya.

Dengan begitu, ketika ada pihak yang akan meringkus makna namanya,  dengan memangkas novel menjadi cerpen, ia akan mati-matian melawan untuk mempertahankan takdirnya. Dan orang-orang yang memahami itu akan ramai-ramai membelanya. Meskipun Novel tahu, dan banyak orang juga tahu, bahwa cerpen juga bisa menusuk tajam dan dalam, seperti jarum suntik yang menancap eli urat darah. •

Sumber : Koran Tempo, 21 Juni 2015

Kembali