Oleh:

Burhanuddin Bella

 

Pertumbuhan industri percetakan dan penerbitan buku di Indonesia masih memprihatinkan, tertinggal jauh dibandingkan dengan negara-negara lain. Ketertinggalan tidak hanya dari segi jumlah cetakan dan buku yang diterbitkan, tapi juga dari sisi peralatan pencetakan yang digunakan.

Kenyataan ini diungkapkan oleh Kepala Pusat Grafika Indonesia (Kapusgrafin), Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), Pudjo Sumedi AS dalam seminar grafika di Jakarta, akhir April lalu. Saat ini, kata Pudjo, terdapat sebanyak 7.760 industri cetak di Indonesia. Itu pun umumnya dalam kondisi yang tidak membanggakan. "Dari sekian banyak percetakan di Indonesia, sekitar 80 Persen memakai peralatan yang sangat tua," tuturnya.

Menurut Pudjo, walaupun industri percetakan di Indonesia sudah menunjukkan kecenderungan meningkat setelah mengalami stagnasi pada 1998 akibat resesi di berbagai bidang, tapi masih tertinggal dari negara-negara lain. Dia lalu membandingkan dengan Cina dan India, dua Negara berpenduduk terbesar di dunia. Di Cina, kata Pudjo, kini sedikitnya terdapat 90.000 industri cetak, sementara India sebanyak 45.000 industri cetak. 

Lalu, bagaimana dengan pencetakan buku? Kondisinya setali tiga uang. Pudjo mengatakan, Cina dengan penduduk 1,3 miliar jiwa mampu menerbitkan sekitar 140.000 judul buku baru setiap tahun. Vietnam dengan penduduk 80 juta jiwa menebitkan 15.000 buku baru setiap tahun. Malaysia yang: berpenduduk 26 juta jiwa menerbitkan sekitar 10.000 judul buku baru setiap tahun.

Dibandingkan dengan di negara-negara tersebut, pencetakan buku baru Indonesia masih tidak menggembirakan. Pudjo mengatakan Indonesia dengan penduduk 220 juta jiwa, hanya mampu menerbitkan kurang lebih 10.000 judul buku baru setiap tahun. Itu menunjukkan, "Betapa tertinggalnya kita dengan dunia luar."

Menurut Pudjo, dari sekitar 10.000 judul buku baru yang terbit di Indonesia setiap tahun, didominasi buku-buku umum, yakni 3.200 judul atau 32 persen. Lainnya, buku pelajaran sebanyak 2.500 judul atau 25 persen, buku anak-anak dan remaja sebanyak 1.900 judul (19 persen), buku agama 1.800 judul (16 persen), dan buku perguruan tinggi 800 judul (8 persen).

Jumlah buku-buku yang diterbitkan memang satu soal, masalah harga pun menjadi perkara lain. Dibandingkan dengan di berbagai negara berkembang lainnya, harga buku di Indonesia masih tergolong tinggi. "Di India, buku sangat murah," tutur National coordinator for Target MDGs (Millenium Development Goals) UNDP, Nasir Tamara saat berbicara dalam World Book Day 2007 di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Tidak hanya soal harga yang murah, menurut Tamara, jenis buku yang diterbitkan di negeri itu juga lebih meragam dan selalu up to date, mengikuti perkembangan perbukuan di dunia. ''Buku asing tidak cukup setahun sudah diterbitkan dalam bahasa India," ujarnya. Harganya pun bisa ditekan karena tidak perlu dicetak dalam bentuk luks.

Nasir mengakui, di Indonesia, tidak banyak penerjemah yang bagus. Tapi, itu bukan menjadi faktor penghambat. Dia menyatakan perlunya ada komite yang mengurusi masalah ini. ''Harus ada komite untuk terjemahan," ucap mantan wartawan Harlan Republika ini. Nasir juga mengusulkan agar bisa bernegosiasi membuat moratorium untuk hak cipta buku-buku asing.

Bambang Wasito Adi, kepala Pusat Informasi dan Humas, Depdiknas, mengakui, Indonesia memang belum bisa seperti di India. Negeri itu, kata Bambang, memiliki kertas yang murah, tinta juga murah karena diproduksi di dalam negeri.

Tidak hanya itu. Menurut Bambang, mesin-mesin cetak di India umumnya dibuat sendiri, sementara di Indonesia masih mesin cetak impor dari luar negeri. "Ini yang menyebabkan buku tidak bisa murah di Indonesia," tutur mantan Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Inggris ini saat berbicara dalam acara yang sama. Depdiknas, kata

Bambang, tidak bisa mengatur kertas, tinta, juga mesin cetak. ''Ini yang perlu diatasi."

Kalangan penerbit tidak menutup mata melihat kenyataan masih rendahnya perkembangan industri penerbitan buku di Indonesia. Berbicara dalam seminar grafika, Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Pusat, Setia Dharma Madjid mengatakan, ketertinggalan itu tidak lepas dari industri grafika dan industri toko buku. Grafika, toko buku dan penerbit merupakan tiga pilar yang disebutnya mendukung perkembangan industri penerbitan buku.

Setia juga menyadari, faktor yang memengaruhi prospek industri penerbitan adalah budaya baca. Namun, dia mengakui belum mengetahui seberapa tinggi atau rendahnya minat baca di Indonesia. Itu karena di negeri ini belum punya grand design untuk bisa mengukur berapa persen bangsa ini yang berbudaya baca.

Itulah yang mendasari keinginan untuk merancang grand design minat baca dan menuju budaya baca. Keinginan itu, kata Setia, dirancang oleh IKAPI Bersama-sama dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), dan Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI. Dari sini diharapkan ada tolak ukur persentase minat baca dan budaya baca di Indonesia.

Minat baca memang satu soal. Tapi, itu saja tidak cukup. Seperti dituturkan Bambang Wasito Adi, soal harga kertas, tinta, dan mesin cetak, pun tak kalah pentingnya. Andai semua ini bisa dibenahi secara besama-sama, bukan tidak  mungkin rendahnya pertumbuhan industri percetakan dan perbukuan di Indonesia, sebagaimana diungkapkan Pudjo Sumedi, bisa menjadi sebaliknya.

Sumber : Republika, 5 Juni 2007

Kembali