Oleh:

Ali Usman

Kolumnis dan Pemerhati Pendidikan

 

 

Indonesia sesungguhnya pernah dipimpin seorang presiden yang gemar membaca dan menulis sebuah buku. Pengalaman melahap banyak buku dan menjadi seorang penulis, yang di kemudian hari rupanya mengantarkan mereka menjadi orang nomor satu di negara ini, tentu saja berpengaruh terhadap wawasan kebangsaan serta pola kepemimpinannya. Siapa saja gerangan?

Pertama, Presiden Soekamo yang terkenal dengan buku monumentalnya, Di Bawah Bendera Revolusi (1959) atau yang lazim disingkat DBR. Membaca DBR dan beberapa buku Bung Karno yang lain (di antaranya terdapat pidato-pidato yang dibukukan) memberikan kesan bahwa ia memang seorang. pejuang kemerdekaan yang hebat, pemersatu, dan seorang humanis sehingga memang layak menjadi presiden RI pertama.

Kehebatan Bung Kama bukan semata-mata disebabkan menjadi juru kunci dalam mengarsiteki basis epistemologi negara, seperti perumusan Pancasila beserta arti atau makna yang terkandung di dalamnya, melainkan juga wawasan kebangsaannya yang tertulis menjadi sebuah buku. Itu tentu dapat menginspirasi dan bahkan sebagai pedoman kenegaraan bagi sebagian masyarakat.

Bung Karno, yang menurut pengakuannya telah terlibat dalam penggalang perjuangan kemerdekaan sejak usia 18 tahun, mampu mencerap pengetahuan di luar pengetahuan mainstream, seperti yang terlihat dalam siding BPUPKI. Ketika tokoh-tokoh lain mengajukan konsep ideologi negara yang bercorak modern, Negara Islam dan atau Negara Integralistis (Soepomo), Bung karno, ia justru mengajukan konsep Pancasila sebagai ideologi negara pada sidang BPUPKI I pada 1 Juni 1945. Pancasila, menurut Bung Karno, bukanlah hal baru bagi masyarakat Indonesia, melainkan sudah menyejarah ratusan tahun silam.

Itulah sebabnya, Bung Karno menolak predikat yang diberikan Prof Mr. Notonegoro saat pengukuhan Doctor Honoris Causa di UGM sebagai ‘pencipta Pancasila’. Pasalnya, ia lebih setuju sebagai ‘penggali Pancasila’. “Aku bukan pencipta Pancasila. Pancasila diciptakan bangsa Indonesia sendiri. Aku hanya menggali Pancasila dari bumi bangsa Indonesia. Pancasila terbenam di dalam bumi bangsa Indonesia 350 tahun lamanya. Aku gali kembali dan aku persembahkan Pancasila ini di atas persada bangsa Indonesia kembali,” ungkap Bung Karno di depan Kongres Rakyat Jawa Timur, 24 September 1955.

Kedua, Presiden BJ Habibie. Pegalaman Habibie dengan buku sbenarnya tidak ada yang istimewa untuk diceritakan. Pasalnya, aktivitas menulis baginya merupakan tuntutan dan panggilan batin akademik sebagai seorang dosen. Gelar professor yang diraihnya merupakan puncak apresiasi kepenulisan di jalur akademis. Ketokohannya lebih dikenal sebagai seorang ilmuwan atau lebih tepatnya ahli teknologi penerbangan yang mengantarkannya menjadi presiden RI ke -3.

Namun, sebagai pengalaman hidup, BJ Habibie ialah orang pertama yang bergelar professor yang pernah menjadi presiden RI. Gelar professor diperoleh pada usia yang relatif muda, berusia 41 tahun (dari ITB, 1967). Jadi, BJ Habibie ketika menjadi presiden telah berstatus sebagai guru besar atau professor. Inilah kehebatan BJ Habibie. Ia berbeda dengan presiden setelahnya, sebut saja Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang memperoleh gelar kehormatan professor dari Universitas Pertahanan Indonesia (Unhan) pada 2014 dan saat itu masih sebagai Presiden RI ke -6.

 

Antara Soekarno, Habibie dan Gus Dur

            Ketiga, mantan presiden Abdurahman Wahid. Kepopuleran intelektual kiai yang menjadi presiden ke-4 ini di jagat kepenulisan tidak diragukan lagi. Pasalnya, ia memang melahirkan banyak buku jauh sebelum dan bahkan setelah menjadi presiden. Ada titik pembeda dan sekaligus persamaan antara Soekamo, Habibie, dan Gus Dur (panggilan akrab Abdurahman Wahid) sebagai seorang penulis buku.

Satu di antara dapat dilihat pada karakter muatan tulisannya. Kekuatan tulisan Soekarno ada pada penguasaan ilmu sejarah yang sangat kuat. Terbukti dengan ide Pancasila yang ia cetuskan sebagai warisan leluhur sejak 350 tahun dan  orientasi pemikirannya yang berdimensi masa lalu, kini/sekarang, dan esok. Sementara itu, karya-karya Habibie hanya berorientasi pada masa kini dan esok, sedangkan Gus Dur serupa dengan Soekamo banyak memuat sejarah kolosal kebangsaan dalam karyanya, seperti yang tampak pada buku Membaca Sejarah Nusantara (2010).

Kalau boleh disimpulkan, dalam konteks dunia buku dan kepenulisan, Soekarno ialah generasi awal sebagai 'pemantik buku', Habibie ialah 'periset yang menghasilkan buku', dan Gus Dur ialah 'penulis sekaligus penggila buku'. Pasalnya, gangguan penglihatan yang didapat Gus Dur disebabkan mempunyai hobi fanatik baca buku.

Pengalaman Gus Dur dengan buku bahkan sering pula dijadikan autokritik bernuansa humor yang memang menjadi kekhasannya. Presiden AS Bill Clinton pemah terheran-heran kepada Gus Dur dari mana dia tahu cerita tentang perpustakaan Eisenhower. "Saya baca di buku Ted Sorrensen", kata GusDur.

"Lo, jadi presiden Clinton sendiri tidak tahu cerita itu?", Tanya Jaya Suprana. ''Ya mungkin enggak tahu, sebab dia enggak baca buku. Mana mungkin Presiden Amerika baca buku? Kalau dia baca buku berarti kelihatan dia enggak punya kerjaan. Nah, kalau Presiden Indonesia, justru harus baca buku sebab enggak ada kerjaan”,  timpal Gus Dur.

Keempat, ironis. Pasalnya, memang tidak ada lagi presiden RI setelah Gus Dur yang menulis secara serius dan simultan dalam rentan waktu yang lama, baik sebelum maupun setelah

menjadi presiden.

 

Iklim Menulis

            Terlepas dari semua itu, kecintaan presiden kepada buku dan bahkan sampai menulis sebuah buku dapat memberikan inspirasi berharga bagi generasi bangsa. Di dunia pendidikan, seorang guru atau murid mestinya bisa menangkap inspirasi. Misalnya, saat belajar bahasa Indonesia, kita pernah dipimpin seorang presiden yang tidak hanya cakap berbicara lisan, tapi juga fasih menuangkan ide atau gagasan lewat karya tulis.

            Seorang penulis, termasuk presiden yang gemar menulis, tentu tidak bisa diremehkan soal wawasan yang digelutinya. Menulis membutuhkan kerja intelektual seperti membaca, meneliti/mengamati, dan menorehkannya ke dalam sebuah tulisan. Budaya membaca sangatlah penting digalakkan, apalagi minat baca masyarakat Indonesia, menurut survei beberapa penelitian, terbilang sangat rendah karena indeks membaca kita hanya 0,001. Artinya, dari seribu penduduk, hanya 1 orang yang punya minat baca tinggi. Bandingkan dengan indeks minat baca di Singapura yang mencapai 0,45 yang artinya dari seratus penduduka ada 45 orang yang memiliki minat baca buku.

            Kegiatan menulis boleh dibilang gampang-gampang susah. Disebut demikian karena tidak semua orang bisa menulis kendati ia berprestasi dengan IPK berkepala tiga. Menulis tidak hanya mengandalkan pengetahuannya secara lisan, tetapi juga membutuhkan keterampilan jari untuk memegang pena atau menekan tombol keyboard komputer untuk menyusun huruf demi huduf dan merangkai kata hingga menjadi kalimat yang bisa dipahami diri sendiri dan orang lain.

            Hal tersebut perlu direfleksikan dalam iklim akademik, baik di lingkungan kampus maupun sekolah. Sejauh ini, iklim kepenulisan dosen di kampus sangat minim. Kalaupun ada, orientasinya berbeda. Yang banyak ialah dosen ‘menulis’ (baca: melaporkan penelitian) demi mendapat ‘kum’ (cumulative credit point) yang berguna bagi kenaikan jenjang akademik mereka.

            Padahal, menurut pengalaman beberapa mahasiswa/dosen yang pernah kuliah di ‘Negeri Paman Sam’ (Amerika Serikat), di kalangan perguruan tinggi di sana, ada dua pemeo yang diyakini benar, yaitu publish or perish (publikasikan atau minggirlah) dan all scientist are the same until one of them writes a book ( semua ilmuwan ialah sama sampai satu diantara mereka menulis buku)

Sumber : Media Indonesia, 26 Oktober 2015

Kembali