Tangan Dingin Editor
Oleh:
Haris Priyatna
Editor Buku
Pada tanggal 18 November yang lalu di Bandung diselenggarakan deklarasi Forum Editor Indonesia (FEI). Inisiatif ini perlu disambut dengan gembira oleh dunia perbukuan Indonesia karena FEI, sebagai wadah berkumpulnya editor, bercita-cita meningkatkan kualitas editor, sosok yang berperan besar dalam penerbitan sebuah buku. Acara itu sendiri dihadiri oleh banyak editor dan para penggiat buku. Para peserta kemudian secara aklamasi memilih Bambang Trimansyah sebagai ketua FEI.
Oleh panitia acara tersebut, saya diminta untuk menjadi salah satu pembicara disamping Bambang Trim dan Hikmat Kurnia dalam talk-show Bincang Profesi dengan tema editor di balik sukses sebuah buku. Tulisan di bawah ini adalah intisari makalah yang saya sampaikan pada acara tesebut.
Di balik kesuksesan sebuah buku, ada sosok yang terkadang dilupakan oleh pembaca. Dia adalah sang editor yang telah bersusah payah menghadirkan buku itu, mengolahnya dari seonggok naskah yang mentah menjadi sebuah bacaan yang gurih dan bergizi. Editor yang bertangan dingin akan mampu mengasah naskah yang awalnya seolah batu kusam menjadi buku yang bak intan berlian, menghasilkan profit yang besar bagi penerbit dan penulisnya sendiri.
Memang sesungguhnya banyak pihak yang berada di balik kesuksesan sebuah buku di pasaran. Pihak pertama siapa lagi kalau bukan sang pengarang sendiri. Pihak yang lain adalah bagian promosi dan marketing. Namun, editorlah yang paling bertanggung jawab akan kesuksesan sebuah buku karena ia yang mengadakan sebuah naskah, mengolah dan meramunya sehingga siap naik cetak. Di dalam proses pengolahan ini, ada pula peran penting desainer sampul dan penerjemah (untuk buku terjemahan).
Editor adalah intinya penerbit. Sofia Mansoor dalam buku Pengantar Penerbitan mengatakan bahwa editor adalah tulang punggung penerbit. Aset terbesar sebuah penerbit adalah para editornya. Oleh karena itu, menurut hemat saya, penerbit harus menyayangi bahkan memanjakan para editornya. Seperti halnya para pilot pesawat yang dimanjakan dalam sebuah perusahaan airline. Atau seperti para dokter di sebuah rumah sakit.
Berikut ini adalah peran-peran utama editor dalam menghasilkan buku yang sukses. Pertama, mengadakan naskah. Editor harus mampu dan jeli memilih naskah potensial dari tumpukan naskah-naskah yang tersedia. Sepanjang pengalaman saya menjadi editor, saya menemukan bahwa banyak orang menulis naskah, banyak buku baru dalam katalog penerbit luar negeri, tetapi naskah yang bermutu itu memang jarang. Hanya editor yang jeli dan berintuisi tajamlah yang bisa dengan cepat mengendus sebuah naskah yang potensial.
Editor bisa juga salah dalam menilai naskah. Buktinya, banyak naskah yang awalnya ditolak puluhan editor, gagal diterbitkan penerbit tertentu, ternyata setelah terbit justru menjadi buku yang best-seller, bisa diterima publik dengan sangat baik dan dihargai dengan reputasi tinggi. Contohnya adalah naskah Harry Potter yang mulanya ditolak berbagai penerbit.
Kedua, menghasilkan teks yang enak dibaca, mengalir, logis, dan mudah dimengerti. Tentunya, untuk itu sang editor sendiri harus mampu menghasilkan teks semacam itu. Maksud saya, idealnya seorang editor haruslah juga pandai menulis. Tugas seorang editor adalah terus menjaga kualitas teks yang sedemikian dalam buku-buku yang diproduksinya agar gagasan yang ingin disampaikan dapat diserap dengan mudah oleh para pembaca. Dalam mengolah teks ini, editor tidak hanya dapat memperbaiki kalimat penulis, tetapi boleh pula mengubah struktur naskah. Termasuk dalam tugas ini adalah menyesuaikan konteks bacaan dengan kultur lokal. Pengalihan budaya ini tentu saja untuk naskah-naskah terjemahan. Peran ini penting karena sebuah teks yang tidak membumi tentu tidak akan disukai pembaca dan menjadi sia-sia. Memang ada buku yang bahannya sendiri sudah bagus, tetapi tetap saja editor memainkan peran besar dalam menghadirkannya ke hadapan pembaca.
Contoh buku terjemahan yang bahan awalnya sudah bagus dan potensial adalah The Da Vinci Code dan serial Harry Potter. Ada kesan bahwa dalam buku-buku semacam ini peranan editor tidak ada karena buku aslinya sendiri sudah best-seller di negara asalnya, judulnya tidak diubah, dan rancangan sampulnya pun tidak diganti.
Nanti dulu, jangan salah, editor tetap memainkan peran yang besar dalam buku seperti ini, utamanya dalam menghasilkan teks yang nyaman dibaca, juga dalam menyusun sinopsis Ketika bertemu dengan saya, Listiana Srisanti dari Gramedia mengatakan bahwa beliau betul-betul mencurahkan pikiran untuk menghasilkan terjemahan Harry Potter yang prima. Setiap penerjemahan nama dan istilah, betul-betul dicari padanannya dalam bahasa Indonesia yang tepat.
Ketiga, mengemas naskah menjadi buku yang menarik sehingga menghasilkan penjualan yang menguntungkan. Pengemasan ini meliputi antara lain penjudulan, perancangan isi dan sampul, pengayaan, penambahan pengantar dan endorsement. Ini adalah peran yang tidak mudah. Jarang ada editor yang mahir dalam merumuskan judul yang catchy sehingga membuat buku menjadi laris. Jarang pula kita temukan editor yang cukup memiliki jiwa seni sehingga mampu memberikan masukan yang tepat bagi desainer sampul.
Demikianlah peran-peran penting editor dalam mengantar buku ke tangan pembaca. Dari bahan yang mentah menjadi buku yang enak dan menarik dibaca. Jadi, jika nanti Anda membaca sebuah buku yang bagus, ingat-ingatlah bahwa sesungguhnya ada tangan dingin editor yang bermain di sana.
Sumber : Republika, 26 November 2006