Mengarang Buku Best-Seller
Oleh:
Haris Priatna
Menghasilkan buku-buku yang menjadi best-seller tentu adalah dambaan setiap pengarang. Pengarang yang idealis sekalipun sesungguhnya juga ingin buku yang ditulisnya laku keras. Betapa tidak!? Setelah menghabiskan banyak waktu dan tenaga untuk menulis naskah buku, tentu sangat menyakitkan jika ternyata setelah terbit karya itu tak laku. Predikat best-seller menjadi idaman karena di samping menggemukkan pundi-pundi, sebuah buku yang best-seller juga berarti diterima dan diapresiasi oleh banyak kalangan.
Ada tema-tema tertentu yang biasanya menjadi best-seller. Saya mencoba menyebut beberapa di sini. Kalau Anda ingin menelurkan buku yang best-seller, cobalah menulis naskah dengan tema-tema tersebut. Kaidah umum: tulislah buku dengan topik yang menarik perhatian banyak orang. Kalaupun ada pengarang lain yang telah menulis topik semacam itu, karya Anda tetap bisa menarik perhatian. Namun, janganlah menulis pornografi, Anda akan kehilangan audiens Anda, dan karya-karya Anda akan mendapat stigma.
Orang selalu ingin tahu bagaimana menjaring uang yang banyak. Tak heran buku-buku tentang menjadi kaya laris manis. Buku Rich Dad Poor Dad karya Robert T Kiyosaki dan 9 Steps to Financial Freedom karya Suze Orman terjual jutaan eksemplar. Dari dalam negeri, ada buku Financial Revolution karya Tung Desem Waringin dan Jangan Mau Jadi Orang Gajian Seumur Hidup yang ditulis oleh Valentino Dinsi. Buku yang terakhir ini seolah dibalas oleh Safir Senduk dengan Siapa Bilang Jadi Karyawan Nggak Bisa Kaya? Ketiga buku ini memikat banyak pembeli.
Buku tentang kesuksesan adalah jalan lain menuju bestseller. Tentu saja, siapa sih yang ingin gagal? Memang, buku-buku bertema sukses selalu tinggi permintaannya. Orang-orang tidak percaya diri, mereka frustrasi, membutuhkan panduan untuk sukses. Dan penulis seperti Anthony Robbins, dengan bukunya Awaken The Giant Within, telah menjadi ikon. Penulis Indonesia pun banyak yang terjun ke tema yang basah ini, antara lain Ary Ginanjar, Andrias Harefa, dan Rhenald Kasali.
Jika Anda ingin bergabung dengan rombongan penulis-penulis sukses ini, tulislah kiat-kiat untuk membantu orang-orang mencapai puncak. Katakanlah bahwa mereka hebat, katakan bahwa kesuksesan mereka sudah dekat, katakana bahwa kegagalan hanyalah kesuksesan yang tertunda. Ceramah anda ini niscaya akan menjadi penjualan yang besar.
Orang juga butuh dihibur dan dimotivasi. Itu sebabnya buku-buku semacam La Tahzan dan Chicken Soup for the Soul' begitu diminati. Tema buku-buku ini merupakan bagian dari sebuah tema besar, yaitu kebahagiaan. Karena, sekali lagi, semua orang ingin sukses, semua orang ingin kaya, semua orang ingin bahagia. Selain itu, orang menunggu-nunggu panasea untuk penyakit-penyakit yang sulit disembuhkan. Buku-buku dengan tema ini tentu akan cepat disambar pembeli. Contoh yang terbaru adalah buku-buku tentang khasiat Buah Merah dari Papua dan VCO (Virgin Coconut Oil).
Buku-buku misteri adalah resep andalan yang lain. Tiba-tiba semua orang ingin tahu tentang alien, penyihir, naga, dan sebagainya. Banyak pengarang menjadi kaya dengan mengarang kisah-kisah misteri. Lihatlah betapa lakunya seri Harry Potter.
Anda juga bisa mencoba mengarang sebuah buku yang kontroversial. Jika sebuah karya memicu perdebatan, daya tarik buku itu akan meroket. Para pembaca ingin mengetahui apa yang membuat karya itu kontroversial. Buku kontroversial mudah ditulisnya. Tanyalah Salman Rushdie, pengarang Satanic Verses. Tapi, perhatikanlah bahwa buku yang kontroversial tidak perlu menghina atau memfitnah orang lain. Tanpa bermaksud mengecilkan kualitasnya, buku-buku karangan Pramoedya Ananta Toer laris antara lain karena kontroversial. Buku-buku Pram sebelumnya dilarang selama masa Orde Baru. Ketika Orde Baru tumbang, orang-orang penasaran dengan buku-buku Pram: Kenapa sih buku-buku itu dilarang? Da Vinci Code menjadi mega-best seller karena setidaknya mengandung dua faktor best-seller: ia adalah kisah misteri, sekaligus kontroversial. Buku-buku yang mengungkapkan fakta-fakta kontroversial bisa kita golongkan pula dalam kelompok ini, seperti Confession of an Economic Hit Man dan buku kisah pengalaman James Yee di penjara Guantanamo.
Buku-buku spiritual dan religius tentu saja laku. Lihatlati penjualan buku-buku karya Aa Gym, Quraish Shihab, dan ustadz-ustadz kondang lainnya. Fenomena yang terbaru adalah larisnya buku Panduan Shalat Khusyu karya Abu Sangkan.
Terakhir, kalau mau menciptakan buku best-seller, jangan melupakan remaja. Mereka adalah pembeli yang emosional. Mereka bisa berbondong-bondong membeli sebuah buku hanya karena trend. Tengoklah fenomena teenlit yang melibatkan perputaran uang milyaran rupiah. Di akhir tahun 1980-an, ada seri Lupus yang juga laris-manis.
ltulah sederet tema buku yang lazimnya best-seller. Namun, yang patut jadi pertanyaan adalah apakah sebuah buku best-seller adalah buku yang bermutu? Dan kalau ia adalah buku terjemahan, apakah terjemahannya bagus? ltulah yang perlu diselidiki. Bisa jadi sebuah buku menjadi best-seller karena promosinya yang gencar dan orang menjadi latah ikut-ikutan membeli. Seolah menjadi ketinggalan zaman kalau mereka tidak ikut membeli. Padahal, kalaupun sudah dibeli, belum tentu dibaca. Dan kalaupun dibaca, belum tentu mengerti.
Lalu, sebaliknya, mengapa banyak buku bermutu tidak menjadi best-seller? Inilah pertanyaan-pertanyaan abadi dalam dunia perbukuan.
Sumber : Republika, 4 Juni 2006