Mengikat Ilmu Dengan Mencatat
Oleh:
Dyah Ratna Meta Novia
Ikatlah ilmu dengan cara mencatatkannya. Petuah bijak ini telah mengakar dalam diri kaum intelektual Muslim. Mereka yang masih dalam tahap berguru, melengkapi dirinya dengan bak tinta dan buku tulis. Mereka mencatatkan apa yang disampaikan pada lembaran buku catatan.
Pencatatan ini dilakukan oleh para penuntut ilmu dari berbagai disiplin baik sastra, hadis, dan lainnya. Goresan dalam lembaran buku catatan dari materi yang diajarkan oleh para kaum cendekia yang menjadi sumber ilmu, membantu para pelajar tetap mengingat apa yang mereka sampaikan.
Kisah tentang bak tinta dan buku catatan ini, diungkapkan sejumlah pelajar yang sedang mengikuti perkuliahan di luar rumah seorang sastrawan, Tsa'lab. Mereka melihat menantu Tsa'lab, Al Dinawari bergegas menuju ke tempat gurunya, Sibawayh dan Mubarrad, dengan bak tinta dan buku catatan.
Sosok lainnya, Abu Ali Ibnu Al A'la, dikenal memiliki banyak buku catatan yang sarat ilmu pengetahuan. Bahkan, buku catatan yang dimilikinya memenuhi kamarnya hingga ke bagian atap. Ini menunjukkan bahwa tradisi mencatat menjadi bagian penting dalam perkembangan peradaban Islam.
Seorang ahli filologi, Ibnu Faris, mengungkapkan, sejumlah benda yang menjadikan hatinya begitu bahagia. Menurut dia, pendamping setianya adalah kucing, teman karib jiwanya adalah buku catatan yang selalu dibawanya, dan kekasihnya adalah lampu penerang.
Pentingnya membuat catatan ini, ditegaskan pula oleh sastrawan bernama Ibnu Al Allaf, dalam sebuah eulogi, yaitu syair pujian untuk mengenang seseorang yang telah mangkat, Al Mubarrad. Melalui syairnya, ia mengingatkan pula kemungkinan kematian yang segera menjemput, Tsa'lab.
Dalam syairnya itu, ia mengingatkan agar setiap orang mencatat apa yang diucapkan Tsa'lab. Bahkan, ia mengatakan, kalau saja napas Tsa'lab bisa ditulis maka tulislah pula napasnya. Ia menilai, sangat penting untuk mencatat pengetahuan-pengetahuan yang diucapkan dari mulut-mulut para cendekia.
Ilmu mereka, jelas Al Allaf, sangat berharga. Ia pun menegaskan agar seorang pencari ilmu tak berhenti pada mencatat. Hal lain yang perlu dilakukan adalah mengingat apa yang ada di dalam catatan. Tak heran jika ia mencela orang yang hanya puas dengan catatan yang dimilikinya tanpa berusaha mengingatnya.
Dalam syairnya Al Allaf mengatakan, “Ia menyimpan ilmu di atas hela-helai kertas, ia kehilangan ilmunya. Memang, lembaran kertas adalah pemelihara ilmu yang buruk." Ia mengandaikan, kekayaan seseorang adalah hasil kerja keras tubuhnya. Sedangkan hafalan seseorang adalah hasil kerja keras jiwanya.
Dalam pandangan Al Allaf, langkah seseorang memelihara ilmu pengetahuan dengan cara menghafal memiliki arti bahwa orang itu telah memelihara jiwanya. Dan bagi Muslim, menghafalkan pengetahuan yang tergores dalam lembaran-lembaran buku catatan seolah sebuah kewajiban tak berkesudahan.
Bahkan, saat umur seseorang telah mencapai senja. Ini, terjadi pada sosok Tsa'lab. George A Makdisi dalam Cita Humanisme Islam, menyatakan, suatu saat Tsa'lab yang telah berusia 90 tahun, sedang dalam perjalanan pulang dari masjid selepas menunaikan shalat Ashar.
Tsa'lab menyusuri jalan pulang sambil membaca buku catatannya. Akibat tenggelam dalam bacaan pada buku catatan dan tingkat pendengarannya yang sudah banyak kurang, ia tak menyadari adanya sebuah kereta yang melaju ditarik keledai. Kereta itu pun menabraknya dengan keras.
Selain itu, buku catatan ini tak hanya untuk menuliskan apa yang didiktekan tokoh-tokoh besar dalam bidang ilmu pengetahuan. Buku catatan digunakan sebagai alat untuk mendokumentasikan pengamatan dan penelitian yang dilakukan para ilmuwan.
Bahkan, ada seorang cendekiawan yang dengan waspada menjaga catatan dari hasil penelitiannya itu agar tak disalahgunakan orang. Salah satunya adalah Abu Musa Al Hamid, pakar tata bahasa yang meninggal pada 918 Masehi. Sebelum meninggal, ia menuliskan wasiat terkait buku catatan yang dimilikinya.
Dalam wasiatnya, Al Hamid menginginkan agar buku-buku catatan miliknya itu diserahkan kepada Fatik Al Mu'tadidi, seorang budak yang telah dimerdekakan. Saat itu, Fatik telah menjadi panglima militer pada masa Khalifah Al Muktafi. Ternyata, Al Hamid ingin agar Fatik menghancurkan buku-buku tersebut.
Soal hasil penelitian yang di tuliskan dalam buku catatan, Tsa'lab pernah memberikan pujian pada catatan milik Ishaq Al Mawshili, mengenai makna-makna kata yang pernah didengarnya. Ishaq mendengarkan secara seksama dan mencatat ucapan para anggota suku-suku Arab tempat ia melakukan penelitian.
Menurut Tsa'lab, dia tak pernah melihat banyaknya dan ketelitian catatan selain yang ada di rumah Ishaq. Catatan mengenai bahasa-bahasa yang diucapkan suku-suku Arab itu sangat lengkap. Selain di rumah Ishaq, ia memuji pula berlimpahnya buku catatan yang ada di rumah filsuf Muslim ternama, Ibnu Arabi. Melalui buku-buku catatannya itu, Ibnu Arabi mendapatkan banyak ilmu dan mencatatkan pemikirannya. Dengan ilmunya yang berlimpah, Ibnu Arabi muncul sebagai figure sentral dan menjadi rujukan.
Sumber : Republika, 28 April 2010