Oleh:

Ahmad Baedowi

 

Ada perbedaan substansif tentang inspirasi menulis dan menuliskan inspirasi. Inspirasi menulis lebih banyak datang dari sisi penulis karena memperoleh inspirasi pada saat yang dibutuhkan. Inspirasi bisa datang dari apa saja, seperti bahan bacaan, situasi, pengalaman, fakta, benda mati, hingga khayalan. Jika kita bertanya kepada para penulis, hal-hal apa saja yang biasanya menginspirasi mereka dalam menulis, jawabannya pasti sangat banyak dan beragam, sebanyak corak dan gaya berpikir seseorang. Pendek kata, inspirasi untuk menulis hanya bisa dikatakan inspiratif jika memang benar-benar ditulis.

Selain itu, ada keahlian tertentu dari para penulis tentang bagaimana sebaiknya menuliskan inspirasi. Menurut saya, menuliskan inspirasi bisa dilakukan oleh para penulis biografi tokoh tertentu. Dengan keahlian mengelola kata dan emosi, penulis jenis ini biasanya menjadi lebih terinspirasi dengan plot dan cerita yang dibangun berdasarkan kisah hidup sang tokoh yang akan ditulis. Mereka bahkan lebih pandai mendeskripsikan kisah menjadi lebih indah dari aslinya, bahkan dari yang dibayangkan oleh si tokoh. Pendek kata, inspirasi menjadi sumber: dan bekal utama bagi seorang penulis untuk melahirkan karya tulis yang menarik.

 

Menggali inspirasi

Cukup banyak yang bertanya kepada saya tentang bagaimana caranya menemukan ide, gagasan, dan inspirasi ketika membuat sebuah tulisan. Dalam kurun delapan tahun terakhir menulis kolom Calak Edu koran ini, saya menemukan banyak inspirasi untuk dibagi dalam bentuk tulisan justru dari beragam sumber, terutama bacaan. Kegiatan menulis bagi saya merupakan satu tarikan napas dengan membaca, sehingga sumber inspirasi memang tersedia dalam jumlah yang tak terbatas pada bacaan.

Saya juga diuntungkan dengan substansi penulisan yang saya pilih, yaitu bidang pendidikan. Bagi saya, masalah pendidikan merupakan masalah yang tak akan ada habisnya untuk ditulis karena pendidikan merasuki hampir semua aspek kehidupan manusia. Misalnya, jika kita ingin berbicara politik, dari sudut pandang Pendidikan tersedia begitu banyak bahan politik pendidikan. Demikian juga masalah hukum, ada banyak eksemplar kajian pendidikan hukum, mulai dari kurikulum hingga praktik-praktik hukum secara edukatif.

Jangan ditanya jika pendidikan dikaitkan dengan masalah sosial, ekonomi, budaya, dan agama, semuanya menyediakan referensi berguna tentang sosiologi pendidikan, budaya sekolah, pendidikan keagamaan, dan lain sebagainya. Pendek kata, bisa dipastikan bahwa pendidikan selalu memiliki keterkaitan dengan semua aspek kehidupan sehingga menyediakan begitu banyak inspirasi untuk ditulis.

Selain bahan bacaan dan pilihan tentang tema pokok tulisan, menggali inspirasi dalam menulis juga bisa berasal dari hal-hal sederhana. Saya teringat seorang penulis skrip andal di Hollywood, Alexandra Sokoloff, yang karyanya A Daughter of Mary Shelley dan Huntress Moon menjadi kekaguman banyak sutradara andal seperti Michel Bay. Ketika ditanya bagaimana Alexandra Sokoloff bisa menemukan inspirasi yang terus mengalir dalam menulis skrip dan buku dengan sama baiknya, jawabannya ada pada tiga kata kunci. Pertama, jangan ragu untuk menuliskan pengalaman pribadi (personal experience) kita secara jujur dan apa adanya. Banyak orang memiliki ketakutan ketika menuliskan pengalaman pribadi mereka, terutama pengalaman yang buruk dan tidak menyenangkan. Padahal, menurut Sokoloff, semakin dalam pengalaman pribadi ditulis dan dieksplorasi, akan terlihat begitu banyak kaitan antara satu kejadian dengan kejadian lainnya.

Berdasarkan pengalaman pribadinya tentang ketakutan-ketakutan masa kecilnya itulah kemudian Sokoloff bisa membuat script thriller yang sangat mengagumkan, bahkan jauh di luar imajinasinya sendiri. Pengalaman pribadi juga dapat membawa emosi pembaca jauh lebih dalam terlibat pada buku bacaan. Atau ketika divisualisasi ke dalam bentuk film, akan terlihat betapa hebatnya gambaran pengalaman pribadi seseorang dan memiliki efek emosional yang dalam bagi orang lain.

Menggali inspirasi untuk sebuah tulisan, menurut Sokoloff, bisa juga dalam rangka membela kepentingan masyarakat yang tertindas, baik secara hukum, politik, sosial, ekonomi, maupun budaya. Bentuk kemarahan kita terhadap ketidakadilan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat merupakan sumber inspirasi sebuah tulisan yang tiada matinya. Selama kehidupan terus bergerak dan ketidakadilan terjadi, di situlah dapat kita temukan ribuan inspirasi untuk ditulis dan disebarkan, sambil berharap akan ada banyak orang yang membaca dan kemudian secara perlahan melakukan perubahan ke arah yang lebih adil lebih baik.

Dalam banyak hal, aspek ketidakadilan sosial memang lebih mudah untuk dieksplorasi ke dalam sebuah tulisan, sambil tak lupa memberikan solusi sebijak mungkin. Beberapa kasus di bidang pendidikan, misalnya, masih terus menarik untuk ditulis karena aspek pemerataan dalam pendidikan setelah 70 tahun Indonesia merdeka belum sepenuhnya sempurna. Ada banyak kesalahan kebijakan yang secara sistemis justru merusak kondisi dunia pendidikan kita, dan itu masih berlangsung hingga saat ini.

Jika pengalaman pribadi dan ketidakadilan sosial merupakan sumber inspirasi tulisan yang berasal dari luar pribadi kita, menurut Sokoloff, penting juga bagi seorang penulis untuk mengeksplorasi impian-impian (dreams) masa kecilnya untuk ditulis. Tak banyak penulis yang berani mendeskripsikan mimpi-mimpi mereka karena kebanyakan mimpi biasanya  bersifat absurd dan di luar nalar kita. Namun, menurut Sokoloff, justru di situlah keindahannya mengeksplorasi mimpi ke dalam tulisan karena yang absurd sekalipun dapat kita gambarkan secara naratif dan kemudian bisa diterima akal sehat sebagai sesuatu yang nyata.

Begitu banyak inspirasi yang bisa digunakan sebagai bahan untuk menulis. Bahkan, setiap peristiwa kecil seperti melihat iklan televisi pun dapat menginspirasi kita untuk menulis tentang banyakhal. Mari menulis, mari berbagi dan menciptakan inspirasi untuk sesama.

Sumber : Media Indonesia

Kembali