Oleh:

D. Suryadi

 

Perang antara kaum pribumi (natives) dan pendatang (immigrants) telah berakhir. Kaum natives yang memenangi peperangan. Demikian prolog yang ditulis kolumnis Henry Jenkins dalam artikelnya, Reconsidering Digital Immigrants.

Perang itu adalah konflik tidak berdarah tanpa peluru ataupun tombak tajam, melainkan dengan iPhone dan disket. Sekarang yang mulai berlangsung adalah pertempuran antara si kaya (the haves) dan si miskin (have nots)

Digital native, terminologi di era pasca-millennial, diperkenalkan pertama kali oleh penulis AS Marc Prensky pada 2001 dan muncul sebagai demografi dominan dunia ini, sedangkan digital immigrant menjadi peninggalan dari waktu sebelumnya.

Konsep digital native-immigrant menggambarkan peralihan generasi dimana orang didefinisikan oleh budaya teknologi yang mereka kenai. Prensky mendefinisikan digital native sebagai mereka yang lahir menjadi bawaan ''budaya baru" sedangkan digital immigrant adalah warga dari dunia lama yang sebelumnya merasakan hidup di era analog dan ''berimigrasi" ke dunia digital.

Pengarang buku Teaching Digital Natives yang sukses di pasaran dan mendorongnya tampil di berbagai seminar teknologi komunikasi dan informasi ini mengatakan, ledakan teknologi selama 10 tahun terakhir adalah hanya awal dari dunia simbiosis baru. Komputer dan handset menjadi perpanjangan dari tubuh dan pikiran sehingga menciptakan populasi cyborg-like.

Prensky mengutip contoh seorang atlet lari 100 meter yang cacat sehingga harus berkaki palsu. Prencky menunjuknya sebagai contoh bagaimana teknologi digunakan untuk meningkatkan kehidupan kita. Dia mengatakan,"Bagi manusia, apa yang digunakan untuk menjadi inti tubuh dari daging dan tulang, semua itu sekarang hanya pusat. Menjadi manusia di saat ini adalah target bergerak."

 

Kemiskinan digital

Seiring tersaringnya teknologi ke setiap sudut dunia dan kota teknologi bermunculan di beberapa tempat mungkin dari Bangalore ke Tel Aviv. Jurang baru muncul untuk memisahkan mereka yang masuk kelompok "cerdas digital" dengan mereka yang terputus dari jaringan (disconnected), yakni kemiskinan.

Menurut Bank Dudia, di India lebih dari dua pertiga dari penduduk hidup dengan kurang dari 2 dolar per hari. Namun, laporan PBB masih mengatakan bahwa telefon seluler justru lebih umum dimiliki alih-alih toilet, dengan hampir setengah dari 1,2 miliar penduduk India "mempersenjatai diri" dengan handset.

Nishant Shah, Direktur Pusat Internet dan Masyarakat India sebagaimana dikutip situs CNN mengatakan bahwa  mendefinisikan perbedaan antara kelompok natives dan immigrants adalah "keprihatinan yang sangat serius". Menurut Shah, pandangan Prensky itu terbentuk dari posisi "istimewa" warga yang hidup di AS. Ia mengesampingkan fenomena kehidupan masyarakat di wilayah pinggiran atau kantong-kantong kemiskinan dunia.

Menurut Shah, pengamatan (Prensky) memang bisa menggambarkan kesenjangan generasi yang dihadapi AS, tetapi jika Anda menggunakan definisi yang sama ke bagian lain dari

dunia, tidak bisa serta merta kita mendikotomikan mereka sebagai kelompok natives dan satu lagi immigrants. "Kenyataannya tidaklah sesederhana itu," kata Shah.

Kekhawatiran nyata bagi Shah adalah hierarki baru yang diciptakan oleh literasi digital dan sistem kelas yang akan dibentuk oleh akses ke teknologi digital. Di sisi lain, Shah berpendapat "membombardir" suatu negara dengan teknologi dan infrastruktur bukanlah solusi yang mujarab bagi masalah kemiskinan digital.

India, misalnya, memiliki keberlimpahan konektivitas dan akses, tetapi negara tersebut tetap memunculkan generasi "kelas miskin digital". Dia berpendapat bahwa hanya menyediakan peralatan tidak akan membantu kaum muda memahami bagaimana teknologi yang dapat memperbaiki kehidupan mereka tanpa adanya pendidikan dan pelatihan. "Hanya karena orang-orang muda memiliki akses teknologi di India, tidak bisa serta merta membuat mereka menjadi digital natives. Alih-alih, justru akan menciptakan terminologi barn yakni digital outcasts, yaitu

orang-orang yang masih memiliki masalah pada akses terhadap infrastruktur teknologi," kata Shah.

Konklusi yang disampaikan Shah adalah bahwa teknologi informasi saat ini menjadi faktor penting bagi masalah kemiskinan di negara-negara berkembang. Sebab utamanya, suatu masyarakat dapat memanfaatkan teknologi informasi yang ada sehingga kemiskinan sedikit demi sedikit dapat teratasi. Hal ini ternyata tidak terjadi karena infrastruktur teknologi yang menjadi kunci bagi akses yang sama terhadapnya, tidak atau belum menjadi garapan serius pemerintah di negara-negara berkembang tersebut.

Indonesia pada beberapa hal paralel dengan kondisi seperti di India, sebagaimana dipaparkan oleh Nishant Shah. Setidaknya ada beberapa hal yang mendukung hal tersebut. Pertama, masih minimnya infrastruktur teknologi, utamanya di kawasan perdesaan. Fasilitas akses internet masih sangat sedikit. Meskipun di sisi lain, dalam hal kepemilikan telefon seluler masyarakat di perdesaan kini juga sebagai hal yang lumrah. Hal ini jelas menunjukkan bahwa dari sisi "gaya hidup" masyarakat sudah mulai bersentuhan dengan teknologi. Akan tetapi, dalam segi yang lebih substansial yakni memanfaatkan teknologi untuk kesejahteraan, masih sangat jauh.

Kurangnya sumber daya manusia dalam bidang teknologi informasi, sehingga penggunaan internet yang masih didominasi oleh mereka yang terdidik. Dalam konteks kebijakan pendidikan yang belum merata serta merebaknya fenomena komersialiasasi pendidikan, kesenjangan teknologi informasi justru semakin nyata.

Sumber : Pikiran Rakyat, 1 April 2013

Kembali