Ketaksaan Masyarakat Digital
Oleh:
Pungkit Wijaya
Sebagai alat komunikasi, media sosial di jagat digital membentuk jaringan kebersamaan. Ini suratan bahwa strategi kebudayaan berkembang seiring keinginan dan harapan umat manusia. Dua slogan, keinginan dan harapan yang memudahkan "kebudayaan" sebagai fungsi, yakni ketika kata, tubuh (tangan, kaki, mata) sudah tergantikan dengan suatau alat yang lebih praktis.
Inilah buah dari perjalanan dan dinamika peradaban manusia yang salah satunya dimunculkan lewat kemajuan dan perkembangan dari aspek kultural, yang juga menyentuh aspek teknologi.
Tak dapat disangkal, media sosial itu sedang gandrung abad ini. Media di mana mata yang jauh bisa saling menatap, tubuh yang jauh masih bisa tetap "bersama" dengan saling mengirim informasi dalam realitas yang baru, yakni realitas virtual, gadgetism, dsb. Bahkan dengan cepat, perihal demokrasi, politik, ekonomi, pendidikan dan budaya menjadi bagian lain yang harus dicermati dalam medan realitas virtual. Contoh sebagian misalnya, demokrasi digital, politik digital, ekonomi digital.
Semua alat penghubung komunikasi itu kini gegar. "Revolusi" yang mengguncang, saya ingin menyebutnya "bawah tanah" atau bisa jadi dalam "bawah sadar" masyarakat. Memang berlebihan, tapi menimbang kemunculan surat kabar, radio, telefon, dan televisi. Lalu akun jejaring sosial Friendster, Facebook, Tweet, dan Yahoo, yang membuat "kebudayaan" semakin memudahkan tubuh manusia, yang akhirnya ketaksaan membentuk "manusia massa".
Pada sisi lain, teknologi media sangat berpengaruh dalam terbentuknya masyarakat. Dalam arti kumpulan manusia yang kurang lebih bermiripan dan bersamaan. Sebab kehadiran surat kabar, radio dan gambar hidup (termasuk televisi) mengubah gagasan dari kata-yang-dituliskan menjadi kata-yang-dilihat dan kata-yang-didengar dan yang dipertontonkan. Apabila di media jejaring sosial, seseorang pemilik akun mengetik status, hanya pikiran perasaan yang membaca, meski tubuhnya tiada.
Menariknya, dari pergantian itu, Susan Buck-Morrs mengurai terkait tranformasi peran kata dalam bukunya Dream World and Catastrophe. Ia menyebut "huruf dan desain grafis memberi massa sebuah identitas, dan identitas itu merupakan cara baru mengorganisasikan massa. Orang menjadi bagian dari satuan kolektif dengan mengikuti tanda itu. Mimesis menggantikan argumentasi yang dituliskan (1978;156).
Bagi Susan, identitas itu secara tak sadar atau sadar sudah tergantikan dalam pergerakan dunia digital. Tak pelak, sangat terkait apa yang disuratkan mengenai identitas. Mungkin tafsir lain mengatakan, dalam perkembangan abad virtual, mengharuskan manusia lahir dan hadir dalam medan dan kerumanan masyarakat dalam rimba digital.
Goenawan Mohamad berkata "ada sosok dalam kata yang menerjemahkan gagasan, ada 'tubuh' dan tidak ada hanya itu: kata yang seakan-akan hadir secara fisik itu melalui fotografi, desain visual, radio dan gambar hidup-menjangkau manusia sekaligus. Apa yang disebut sebagai budaya massa adalah hasil produksi dan penyebaran bentuk simbolik dan ditujukan dengan niat menjangkau orang ramai itu" (2002;216).
Ketaksaan
Ada yang menarik dari perkembangan jagat digital. Galibnya, subjek individu sebagai pengguna mau tak mau sudah menjadikan usia informasi yang lebihnya masuk dalam rimba digital. Relasinya, sebut saja masyarakat digital. Kebersamaan yang tercipta dari individu dalam realitas digital.
Dengan itu tak bisa dilepaskan antara pertautan dari "manusia massa" itu dengan masyarakat digital, yang cenderung dalam kondisi menjadi masyarakat informasi. Kecenderungan ini mejadikan kita masyarakat yang sadar informasi (melek media).
Dari itu, masyarakat digital memang menyelubung ketaksaan. Di satu sisi ada dalam posisi objek informasi atau di bawah agen pengendali informasi. Namun ihwal masyarakat digital, sudah seharusnya berarah menjadi subjek informasi, agen pencipta informasi (jurnalisme warga).
Masyarakat digital, jangan sampai terjebak dalam skenario informasi. Pengaturan dari pergantian tubuh dan kata-kata sebagai "wujud" virtual. Selanjutnya, dalam menumbuhkan kesadaran informasi, dalam setiap lapisan masyarakat digital, bukan hanya penting tapi dapat menumbuhkan sikap analitis serta kritis terhadap semua yang datang (informasi). Seperti halnya dalam mengunyah dan menanggapi setiap persoalan sosial, politik, dan budaya.
Sangat disayangkan, apabila dalam perkembangannya, masyarakat digital ini terjebak dalam mayoritas yang diam (the silent majorities). Seharusnya bisa berarah pada yang bersifat proaktif. Terutama dalam menangkal, menandingi, menyaingi, melawan, atau bahkan menyaingi informasi yang ada. Dalam medan menumbuhkan kreativitas informasi. Kreativitas menciptakan,
memproduksi, menganalisis dan mengolah.
Maka, seyogianya, setiap perkembangan harus direspons kritis. Misalnya gegar demokrasi digital tidak direspons dengan "reaksioner". Bahwa sebagai masyarakat digital, kita harus kritis terhadap perkembangan informasi digital. Ketika suara, data dan tubuh sudah tergantikan oleh kerja mesin dan lembaga survei. Bukankah itu suatu kebersamaan dalam lingkungan yang subjektif, yang apabila kita buat (creative) akan hasilnya berbeda dengan sebuah lembaga kolektif.
Apakah kita sebagai masyarakat digital akan selalu berada dalam suara kolektifitas atau dalam medan kreativitas? Ini memang cenderung mengambit ketaksaan, tapi kita sebagai masyarakat sekaligus individu digital lebih tepat untuk belajar kritis dan analitis. Mari!
Sumber : Pikiran Rakyat, 8 April 2013