Menuju Ruang Kelas Global
Oleh:
Gesit Ariyanto
“Internet merupakan inovasi paling tak ternilai sejak penemuan media cetak"
(Sir Harold Kroto, peraih Nobel Kimia 1996)
Ungkapan Kroto ini terkait keyakinannya bahwa teknologi informasi dan komunikasi dapat mengubah masyarakat dan dunia, seperti halnya media cetak. Ia fokus pada masalah pendidikan.
Data Unesco dan Unicef, hari ini sekitar 70 Juta anak di dunia tak mencicipi sekolah di tingkat dasar (SD-SMP), sedangkan 28 juta anak hidup di negara-negara yang dirundung konflik yang menghancurkan sekolah dan komunitas. Pada saat sama, informasi dan teknologi (ICT) yang berkembang pesat menghilangkan batas-batas geografis, menghubungkan dunia melalui internet. Kejadian saat ini di Afrika, misalnya, seketika didengar di mana saja karena koneksi internet.
Karena internet pula, Justin Bieber menggemparkan dunia, Norman Kamaru menjadi idola baru. Kemenangan Barack Obama dalam pemilihan Presiden Amerika Serikat diketahui seketika (real time) di pelosok dunia. Di bidang pendidikan, berbagai temuan dan inovasi bisa dipelajari siapa pun, kapan pun, dan di mana pun.
Masyarakat dunia terus dan terus terhubung. Industri ICT sampai pada titik di mana ICT berpeluang membawa pendidikan dan pembelajaran untuk semua, di mana pun tempatnya. Inilah saatnya bertindak menutup jurang (gap) pendidikan", kata Presiden dan CEO Ericsson Hans Vestberg di NEST The Network Society Forum di Hongkong, 11 November lalu.
Forum yang diprakarsai Ericsson, perusahaan pengembang aplikasi teknologi informasi dunia itu, bermaksud mendorong revolusi pendidikan dan pembelajaran di dunia melalui ICT. Sejumlah akademisi, praktisi, pengusaha, dan tokoh dunia yang dianggap berpengaruh dikumpulkan untuk membahas dan merencanakan aksi bersama menghadirkan ICT pada dunia pendidikan.
Gambarannya, dunia pendidikan menjadikan internet sebagai bagian penting pembelajaran. Lewat internet, anak-anak di seluruh dunia terhubung untuk mengembangkan diri dan pengetahuannya. Didukung guru yang baik, sekolah menjadi tempat ideal membentuk calon pemimpin berwawasan luas.
Lewat internet pula, ceramah kuliah/pengajaran bisa dinikmati lintas ruang, bahkan lintas negara. Bisa diakses di kelas ataupun di luar kelas.
Guru tak lagi satu-satunya sumber informasi. Kelas yang terhubung internet memungkinkan siswa menanyakan apa pun tentang semua hal. Jawaban bisa diberikan guru, teman, atau dicari bersama. Cara belajar menjadi lebih kreatif dan hidup.
Daya magis internet dibuktikan di kawasan kumuh Kalkaji, New Delhi, India. Sugata Mitra, Guru Besar Teknologi Pendidikan di Sekolah Pendidikan, Komunikasi, dan Studi Bahasa di Universitas Newcastle, Inggris, memulainya tahun 1999. Saat itu, satu komputer dengan akses internet disiapkan gratis di permukiman kumuh Kalkaji.
Tanpa pendampingan intens, para pengguna mayoritas anak-anak usia sekolah tingkat dasar berjubel di depan komputer. Mereka aktif diskusi memecahkan kebuntuan ketidak tahuan mereka. Hasilnya, mereka paham cara mengakses dan menggunakan internet untuk memperoleh informasi.
"Hasilnya di luar dugaan saya. Internet menghidupkan diskusi dan memecahkan persoalan. Mereka sangat antusias," kata Sugata Mitra Program itu berkembang menjadi proyek Hole in the Wall yang diterapkan di banyak tempat, termasuk Kamboja. Internet terbukti menghidupkan diskusi dan memperbaiki perilaku anak di dalam kelas. Kini, Massachusetts Institute of Technology (MIT) juga mengembangkan peranti lunak
yang membantu anak-anak belajar secara mandiri.
Membuka sekat
Di tengah pesatnya teknologi informasi, penelitian McKinsey and Co menyebutkan, 25 persen guru di India tak hadir di kelas pada hari kerja karena berbagai alasan. Di dunia, setiap 10 anak, satu di antaranya tak mengakses pendidikan dasar. Studi BBC di Banglades, 88 persen anak tamatan sekolah tingkat dasar tak bisa membaca. Di Indonesia, lebih kurang menghadapi persoalan yang hampir sama.
Pada kondisi seperti itu, sejak ratusan tahun lalu pola mengajar di sekolah hampir tak berubah: guru berdiri di muka kelas dengan puluhan siswa duduk menyimak pelajaran. "Sementara informasi global berseliweran di luar sana setiap waktu," kata Tariq Krim, pendiri sekaligus CEO Jolicloud, institusi yang mengubah sistem operasi netbook dengan sistem operasi terbuka yang lebih ramah bagi para pengguna internet.
Kondisi itulah yang mendorong Ericsson menggelar NEST 2011 di Hongkong. "ICT menyediakan jawaban mengatasi permasalahan yang dihadapi dunia pendidikan saat ini," kata Hans Vestberg menjelaskan.
Soal penerapan di lapangan menjadi pertanyaan. Sebab, tak semua syarat mewujudkan "ruang kelas global” tersedia disemua negara. Harus ada penyedia layanan internet, operator telekomunikasi, dan pemerintah. "Keterlibatan pemerintah adalah keharusan," kata Vestberg.
Ericsson menginvestasikan tiga miliar euro per tahun untuk riset teknologi ICT. Dengan kerja sama, mereka menjajaki kemungkinan menghadirkan teknologi informasi dalam pendidikan secara masif.
Bagaimana membawa dampak positif teknologi informasi di sekolah-sekolah di Indonesia? Tampaknya, persoalan geografis dan jaringan internet masih jadi masalah serius di daerah, selain teknologi peranti kerasnya.
Sumber : Kompas, 16 Desember 2011