Gadget-Gadget Yang Mengubah Dunia
Oleh:
T. Ali Taufik
Dunia terus berubah, baik karena proses evolusi (perlahan tapi pasti) maupun karena revolusi (cepat). Ada banyak faktor yang berandil dalam menciptakan perubahan dunia, salah satunya adalah inovasi teknologi.
Sepanjang sejarah, inovasi yang benar-benar revolusioner dan mendasar telah mengubah cara kita (umat manusia) dalam bekerja, bermain, dan berinteraksi. Berkat inovasi, lahirlah sejumlah alat, gawai, atau dalam bahasa kerennya gadget. Di era modern seperti sekarang, amatlah sulit kita membayangkan kehidupan tanpa kehadiran gadget.
Ada banyak penemuan dan teknologi yang telah memengaruhi kehidupan umat manusia sepanjang sejarah hidupnya. Untuk meyakinkan publik bahwa gadget sangat penting, beberapa perusahaan sering menyebut produk gadget baru mereka sebagai produk revolusioner. Tak hanya
Itu, mereka juga masih perlu menambahkan kata "ajaib" untuk melengkapi sebutan revolusioner.
Amazon melakukannya ketika memperkenalkan Kindle, alat baca buku elektronik (e-book reader) pada tahun 2007. Begitu juga dengan CEO Apple (almarhum) Steve Jobs menggunakan kosa kata yang sama saat memperkenalkan temuan anyarnya, iPad, sebuah komputer tablet yang bisa juga berfungsi ganda sebagai pembaca elektronik (e-reader).
Namun, dari beberapa penilaian, ada beberapa gadget dan temuan teknologi yang dianggap memberi dampak luar biasa terhadap kehidupan umat manusia, bahkan dalam beberapa hal bisa mengubah dunia. Berikut beberapa gadget yang dianggap mampu mengubah dunia.
Mesin Cetak
Sebagai gadget (gawai), mesin cetak terlalu besar utntuk masuk ke saku Anda. Namun, mesin cetak telah merevolusi literatur dalam cara yang sama. Sekitar tahun 1450, tukang emas asal Jerman, Johannes Gutenburg, menciptakan mesin cetak, mesin seukuran meja yang dimodelkan dari mesin pemeras anggur. Temuannya menggunakan ribuan huruf yang terbuat dari logam untuk menyalin tulisan secara cepat dan murah. Mesin cetak Gutenburg bukan hanya telah membuka jalan bagi reformasi Protestan dan Pencerahan, tetapi juga menjadi dasar bagi sistem penyalinan tulisan hingga sekarang.
Kamera "point-and-shoot"
Melalui produk bernama Kodak, George Eastman mengenalkan fotografi kepada publik pada 1888. Untuk pertama kalinya, setiap orang bisa mengabadikan gambar secara riil. Dengan kemunculan kamera digital satu abad kemudian, fotografi telah menjadi bagian kehidupan di mana-mana. Saat ini, hampir setiap ponsel selain fungsi utamanya sebagai alat komunikasi verbal dilengkapi kamera. Biaya merekam gambar pun jadi lebih murah.
Radio
Ketika Guglielmo Marconi mematenkan sistem pesawat pengirim dan penerima telegram radio di tahun 1901, ia membayangkan itu sebagai cara bagi kapal untuk berkomunikasi nirkabel (tanap kabel) antara satu kapal dan kapal lainnya. Akan tetapi, pada tahun 1920, siaran regular musik dan berita menjadi booming, mengantarkan era baru media massa. Dari monitor bayi hingga radar militer, radio sekarang tertanam kuat dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan memanfaatkan gelombang radio akhirnya diterapkan pada semua bentuk jaringan nirkabel, dari ponsel hingga Wi-Fi.
Televisi
Hampir 20 tahun setelah radio mengguncang lanskap hiburan, siaran televisi mengirimkan "gempa" lain di tahun 1930-an dan 1940-an. Televisi mengubah segalanya dari cara orang mendapatkan berita mereka hingga bagaimana memasang iklan. Meskipun dipersalahkan karena dianggap sebagai media penyebar budaya negatif, terutama menyangkut gaya hidup dan meningkatnya aksi kekerasan sosial, televisi tetap memainkan peran signifikan terhadap perubahan dunia. Pada kenyataannya, sebagian besar waktu terjaga kita dihabiskan di depan layar televisi. Tahun lalu, sebuah laporan Nielson memperkirakan, orang Amerika menonton rata-rata lebih dari 5 jam sehari. Consumer Electronics Association (CEA) baru-baru ini memperkirakan, meski dilanda resesi, kepemilikan highdefinition TV (televise devinisi tinggi/HD TV) di rumah tangga AS telah naik dua kali lipat dalam dua tahun terakhir.
"Personal computer" (PC)
Pada awal kehadirannya, komputer tidaklah seperti yang kita lihat sekarang. Komputer awal punya ukuran raksasa, komponennya nyaris menghabiskan satu ruangan penuh dengan harga luar biasa mahal. Komputer rumah baru tersedia pada 1970-an, tetapi baru benar-benar dilepas ke pasaran pada 1981 lewat PC IBM dengan harga sekitar 1.600 dolar AS. Sejak itu, PC menjadi lebih kecil dan lebih kuat dan mereka telah membuka jalan bagi terciptanya laptop, netbook, smartbook, smartphone, dan komputasi mobile lainnya. Komputer juga menjadi pembuka bagi masuknya ke dunia internet.
Telefon pintar ("smartphone")
Dalam evolusinya, setiap gadget cenderung mengarah ke minimalisasi alias pengecilan ukuran, tetapi dengan fungsi yang lebih maksimal dan bersifat mobil. Begitu juga dengan kehadiran telefon pintar (smartphone), memungkinkan pengguna telefon bisa berkomunikasi dengan gawai yang lebih kecil dan mobil, bisa berselancar di web, mengirim pos-el, dan menjalankan berbagai aplikasi dari ponsel mereka.
Seperti halnya PC, IBM memimpin pada smartphone pertama di dunia, memperkenalkan "Simon" pada tahun 1993. Beratnya di lebih dari satu pound atau setara dengan setengah kilogram, Simon menawarkan layar sentuh keyboard, pos-el dan kemampuan faks, serta fungsi seperti kalender dan buku alamat. Harganya mencapai 900 dolar AS. Sepanjang dekade 1990-an, ponsel pintar berevolusi menjadi lebih kecil dan murah. Pada dekade pertarna abad ke-21, produk seperti Treos, Blackberry, dan iPhone telah menjadi nama-nama yang populer.
Entah itu pesan teks, jejaring sosial atau Googling jawaban di Malam Trivia, keterhubungan konstan, dan serbamudah telah diberikan di era smartphone. Pew Internet & American Life Project memperkirakan, pada setiap hari-hari biasa, hampir seperlima dari warga Amerika menggunakan internet pada perangkat mobile seperti smartphone dan laptop. Semua kenyamanan yang dapat membuat ponsel tradisional menjadi bagian dari masa lalu alias jadul. Menurut Pyramid Research, pada tahun 2014, 6o persen dari handset baru yang dijual di AS akan menjadi smartphone.
"E-reader" (pembaca elektronik)
"Sebagai pendatang baru, e-reader memiliki potensi besar untuk mengubah cara kita mengonsumsi media," kata Dan Schechter, Wakil Presiden Media dan Hiburan di LEK, lembaga konsultasi, kepada Tech News Daily.
Studi terakhir L.E.K menemukan hampir setengah dari orang yang membeli ereader mengaku membaca koran, buku, dan majalah lebih banyak daripada yang seharusnya mereka miliki. E-reader juga menawarkan kesempatan untuk membuat membaca lebih interaktif. Salah satu ereader adalah Kindle.
Amazon dan Apple bukanlah satu-satunya pihak yang memprediksi bahwa digitalisasi buku akan membawa perubahan besar. Penulis dan jurnalis Steven Johnson menempatkan Kindle sebagai perangkat yang bakal mendorong kehidupan masa depan tanpa kertas. "Saya tahu bahwa migrasi buku ke dunia digital tidaklah sederhana. Namun, migrasi itu akan mengubah cara kita dalam hal membaca, menulis, dan menjual buku dengan cara yang lebih dalam," kata Johnson dalam The Wall Street Journal edisi April 2009.
Memang, baru sekitar 10 persen orang saat ini menggunakan e-reader. Namun, menurut Dan Schehcter, ini masih produk generasi pertama dan sudah terlihat besarnya peningkatan permintaan. "Ini hal yang cukup menarik dan mereka menjual seperti kacang goreng."
Sumber : Pikiran Rakyat, 10 Januari 2012