Oleh:

Hafidz Azhar

 

Seiring perkembangan zaman, kata digital ini kemudian menjadi sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dengan lajunya arus teknologi, dan selalu disandarkan pada istilah lain. Seperti, kamus digital, koran digital, Alquran digital atau ada digital-digital lain yang terus bermunculan. Salah satunya ialah "rekayasa digital".

Jika saja rekayasa digital masuk pada kebudayaan virtual, maka hal ini pun bisa dikaitkan dengan maraknya era informasi. Castells (1996) mengungkapkan, bahwa di era revolusi informasi muncul apa yang ia sebut sebagai kebudayaan virtual riil, yaitu satu sistem dimana realitas itu sendiri sepenuhnya tercakup, sepenuhnya masuk dalam setting citra maya, di dunia fantasi, yang di dalamnya tampilan tidak hanya ada di layar tempat dikomunikasikannya berbagai pengalaman, namun mereka menjadi pengalaman itu sendiri (Ritzer &Goodman, 2008).

Dalam media internet, rekayasa digital banyak kita jumpai. Seperti pada informasi jejaring sosial yang sedang ramai-ramainya dikunjungi orang. Apalagi, internet kini menjadi media informasi era kedua pula. Informasi yang dikemas dalam jurnalisme daring sudah mulai dirasakan para peminat jejaring. Situs-situs terkemuka menyajikan berita-berita hangat berupa gambar-gambar atau video yang berisikan tentang ilmu pengetahuan, fenomena-fenomena alam, kejadian di masyarakat dan lain sebagainya. Namun adakalanya, dari informasi yang kita dapatkan, tidak semua yang disajikan dengan seratus persen teruji kebenarannya. Seperti kejadian cahaya di atas Kabah, yang terjadi pada tahun 2010 silam, dengan menimbulkan banyak perdebatan para ahli telematika. Ada lagi, tentang video-video UFO yang sampai saat ini masih juga membingungkan. Kemudian gambar-gambar (foto) artis yang terlihat tidak senonoh, semua kejadian itu pada akhirnya merupakan hasil dari rekayasa digital.

Perangkat-perangkat digital hingga sekarang muncul dalam tahap akut. Pasalnya, si pembuat perangkat ingin membuktikan bahwa dunia mampu direkayasa sedemikian rupa dalam proses digitalisasi. Sehingga terlihat seperti dunia yang senyatanya. Oleh karenanya, bagi sebagian orang yang berperan dalam dunia digital, tidak akan bisa dilepaskan dari dunia maya. Kata "dunia maya" menunjukkan bahwa realitas sesungguhnya diciptakan oleh imajinasi. Maka

dari itu, istilah "dunia maya" sangat pantas disandingkan bersamaan dengan para jawara digital.

Efek dari digitalisasi yang berujung pada frame rekayasa digital, kadangkala merubah orang menjadi tidak produktif. Semisal online game, yang di antaranya diminati anak-anak dan remaja. Hal ini menyebabkan perubahan kondisi prilaku yang signifikan bagi para remaja itu sendiri. Karena terlalu banyak menghabiskan waktu di hadapan komputer, akhirnya timbul kemalasan untuk melakukan sesuatu. Kemudian bisa berdampak pada kerusakan moral juga.

 

Kepekaan digital

Apa yang sedang terjadi di era digital saat ini, bukan satu-satunya yang bisa memperbaiki pola hidup kita di masa depan. Pertanyaannya, apakah kita akan menganggap buruk terhadap proses digitalisasi, atau kita berusaha memainkan peran untuk meningkatkan kepekaan terhadap teknologi? Yang jelas, kepekaan merupakan kunci nomor satu untuk kita gunakfm sekarang. Maksudnya, perangkat digital yang ada dihadapan kita tidak sepantasnya juga kita abaikan. Akan tetapi, ada baiknya juga agar kita belajar untuk melihat di balik semua itu. Ini sama halnya yang dilakukan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika dalam rekayasa digital accelerograph pada tahun 2007. Tujuannya, untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia teknisi geofisika dan mengembangkan serta merekayasa accelerograph digital (bmkg:go.id).

Hasil penjajakan saya terhadap Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, sebenarnya ingin membuktikan bahwa teknologi atau digitalisasi bisa kita manfaatkan untuk kebutuhan orang banyak. Sebatas itu bisa menghindari kerusakan akal pikiran manusia. Seperti yang sudah diungkapkan, rekayasa digital memiliki fungsi positif yang di dalamnya menciptakan para teknisi digital. Kendati pun jalan satu-satunya melakukan penjelajahan terhadap pola rekayasa digital ialah dengan memberikan pengarahan. Seperti yang dilakukan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika dalam merekayasa accelerograph. Salah-salah, jika tidak diberikan suatu pembelajaran-pengarahan, ditakutkan akan menimbulkan dehumanisasi.

Sumber : Pikiran Rakyat, 4 November 2013

Kembali