Keberaksaraan Media Virtual
Oleh:
Rovi’i
Dengan pergaulan yang luas, Atmoko terbiasa mengontak teman-temannya via surel, sms, chatting, mailist, Facebook, Twitter, dan telepon sambungan langsung jarak jauh. Lantas, apakah Atmoko masih punya akar budaya Jawa tempat lahirnya dulu, atau budaya Sunda tempat
dia dibesarkan? Ataukah Atmoko kini sudah mengglobal dan menjadi warga metropolitan? Ilustrasi tadi setidaknya memberi gambaran bahwa bentuk-bentuk variatif media seolah tak bisa dihindarkan dari kehidupan bermasyarakat sehari-hari. Dengan begitu keberaksaraan, sadar, dan memahami cara kerja perangkat digital sudah jadi keharusan.
Pergeseran budaya dari tradisional menuju modern seolah terbentuk oleh peralatan elektronik berbasis tekhologi informasi. Berbeda dengan dulu, saat ini mungkin orang lebih familiar bertanya nomor telefon a tau PIN saat berkenalan. Selebihnya bisa kenal lebih jauh lewat virtual. Pertanyaan, dari manakah realitas (media) virtual dilahirkan? Penulis kira salah satuja wabannya, bahwa cyberspace-lab yang melahirkan keadaan virtual.
Ketika memasuki keadaan virtual, maka seseorang telah menjadi manusia digital yang sesungguhnya. Apalagi di belantara maya, si pengguna cukup memasuki area log in dan berakhir log out, maka bisa dipastikan keberadaannya dikendalikan oleh sistem. Pernahkah kita bertanya, bagaimana sistem mengatur itu semua? Hal pertama dalam cyberspace ialah bekerjanya sistem HTTP (Hypertext Transfer Protocol). Kemudian HTTP ini digunakan oleh World Wide Web (WWW).
Setelah itu, HTTP menghasilkan pesan yang sudah diformat lalu dikirimkan dari server ke klien. Cara menerapkannya, ketika kita mengetik suatu alamat atau URL pada internet browser. Maka web browser akan mengirimkan perintah HTTP, lalu ke web server. Web server kemudian akan menerima perintah tadi dan melakukan aktivitas sesuai dengan perintah yang diminta oleh kita (misalnya akses ke Google, Yahoo, Youtube ).
Dengan demikian, di era media virtual dalam artian "dunia tidak nyata," ruang publik diciptakan oleh mereka-mereka (pencipta Google, pencipta HTTP, pencipta Facebook, dan lain-lain) yang punya keahlian tertentu. Hingga akhirnya masyarakat seperti kitalah yang menjadi objek para pencipta ruang publik tadi. Berkat seringnya komunikasi dengan sesama pengguna komputer berplatform internet, maka di situlah mula-mula terbentuk komunitas virtual.
Persoalan media virtual selalu berkaitan antarproses produksi dan konsumen digital. Nah, masyarakat sekarang sudah menciptakan budaya (kebiasaan) konsumen digital. Meminjam bahasanya Adorno dan Horkheimer (1979) perihal industri budaya virtual, tidak lepas dari ekonomi, politik, dan produksi kapitalis. Jika realitas virtual ini dipetakan secara melebar, maka kita akan menemukan berbagai ranah realitas yang ada di dalamnya: cyber science (mikro observasi), cyber social (telekonferensi), cyber economy (finansial virtual), cyber medical (rontgen), dan 1ainnya.
Penulis pikir, ruang sosial maya memberikan perspektif baru dalam memahami perkembangan media teknologi. Tidak hanya satu persepektif, ruang itu juga berguna untuk mengeksplorasi dan menyalurkan segala informasinya tanpa memperhatikan batasan-batasan ruang dunia nyata. Pada batas ruang nyata, kita membutuhkan barang-barang elektronik media baru guna mendapatkan informasi. Sedangkan di rnang virtual, pengguna bisa mengumpulkan banyak informasi dari berbagai sumber, tentu dalam waktu singkat.
Dari penjabaran di atas, ada beberapa hal yang patut kita sadari bersama. Pertama, lenyapnya katagori sosial dan batas sosial di kenyataan sehari-hari oleh yang namanya virtualitas
media dan informasi. Kedua, jaringan informasi seolah transparan sehingga tak ada lagi kategori-kategori moral yang mengikatnya. Kesemuanya hampir berputar bebas dalam cyberspace, dari satu teritorial alam nyata ke territorial lain melalui jaring-jaring digital. Ketiga, dengan cyberspace kebutuhan manusia dapat diperoleh secara instan. Bahkan di era global sekarang, kita selalu berhubungan dengan teknologi informasi. Dengan begitu pengetahuan manusia terus berkembang, hal itu mendorong kita untuk terus melek dunia infomasi.
Pada intinya, kesemuanya itu kembali kepada diri kita sendiri, sebagai pengguna dan penikmat cyberspace. Akankah sikap sadar dan kritis terus ada, atau hanya pasrah. Sudah saatnya keberaksaraan di media virtual dibarengi kekritisan saat berhadapan dengan media yang serba virtual.
Sumber : Pikiran Rakyat, 9 November 2013