Oleh:

Edy Purwo Saputro

 

            Flavian dan Gurrea (2009), dalam artikel yang berjudul “Users Motivations and Attitude wards the Online Press”, dimuat Journal of Consumer Marketing, Vol 26 No 3 hal 164-174 menegaskan bahwa motivasi dan sikap pembaca terhadap pers online sangatlah terkait dengan perilaku melek internet. Fakta ini membenarkan argument bahwa perkembangan teknologi yang didukung revolusi internet memengaruhi semua rutinitas kehidupan, baik bagi dunia industri maupun individual (Huang dan Yang; 2008).

Terkait ini, industrialisasi pers tak bisa mengelak dari fenomena yang berkembang. Inovasi untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dan antisipasi persaingan juga merupakan tuntutan dalam industri pers. Oleh karena itu, Koran edisi online menjadi acuan yang tidak bisa ditawar lagi. Bahkan, kini e-paper juga menjadi kewajiban untuk disajikan kepada pembacanya. Jadi, media pers dituntut menyajikan e-paper sebagai salah satu versi meski edisi online juga telah disajikan selain edisi cetak yang terbit tiap hari. Lalu, bagaimana nasib edisi cetak?

Kebutuhan terhadap internet tampaknya semakin tidak terbendung dan masyarakat kian antusias mengikuti perkembangan internet. Bahkan, kini masyarakat juga semakin terbiasa dan akrab dengan era internet. Hal ini akhirnya memungkinkan masyarakan kian melek internet. Selain itu, tarif internet kian_murah dan kecepatan koneksi kian lancar. Semua ini jelas berpengaruh bagi daya jual semua produk lewat internet, termasuk daya tarik pers online dan e-paper.·

Artikel Chen dan Corkindale (2008) yang berjudul "Towardsan Understanding of the Behavioral Intention to Use Online News Services An Exploratory Study", dimuat di Internet Research, Vol 18 No 3 hal 286-312. Temuan mereka dalam tulisan itu memperkuat argumen tentang adanya sejumlah faktor yang mendorong seseorang untuk membaca edisi online dan atau e-paper.

 

Peran internet

Menurut Budi Raharjo (2001), beberapa hal menyebabkan jaringan teknologi internet popular sebagai media komunikasi data. Pertama, cakupannya yang luas dan mampu menjangkau dunia. Kedua, implementasinya relatif lebih murah dibanding menggunakan jaringan atau fasilitas lainnya. Misalnya, menggunakan value added network (VAN) sendiri.

Untuk menjadi bagian dari internet, cukuplah dengan hanya menghubungkan sistem pada koneksi internet terdekat, misalnya, menggunakan value Internet Service Provider. Bandingkan jika memakai VAN, maka harus menggelar jaringan sendiri dan cukup mahal. Terkait hal ini, maka internet sebagai basis media online dan e-paper sangat memungkinkan karena harganya yang semakin murah, distribusi yang lebih luas, serta real time online.

Ketiga, teknologi internet bersifat terbuka (open standard) sehingga tak tergantung kepada satu vendor tertentu. Keempat, penggunaan web browser mempercepat pengembangan/ peluncuran aplikasi dan mengurangi learning curve dari pengguna. Kelima, teknologi internet memungkinkan konvergensi berbagai aplikasi menjadi satu. Sebagai contoh, kini dimungkinkan mengirimkan data, suara, dan bahkan gambar melalui internet tanpa ada lagi batasan waktu, tempat, dan kondisi.

Oleh karena itu, beralasan jika kini semakin berkembang citizen journalism sehingga masyarakat bukan lagi sekedar obyek, tapi juga subyek dari pemberitaan. Artinya, edisi online dan e-paper memungkinkan publik untuk melakukan citizen journalism secara real time online meski juga harus didukung dengan kontrol internal agar sajian beritanya layak.

Allen dan Johson (2009), dalam artikelnya yang berjudul "Preserving Digital Local News", menegaskan, media pers edisi cetakan memiliki kelemahan untuk kepentingan arsip perpustakaan, misalnya, terkait kualitas kertas, tinta, dan jumlah halaman setiap edisi. Media digital atau e-paper menjadi alternatif yang baik. Tidak saja terkait pengarsipan, tapi juga lebih efisien jika diukur dalam kapasitas penyimpanan gudang. Artinya, media digital atau e-paper tak butuh gudang luas untuk penyimpanan karena bisa disimpan dalam media internet. Dan, siapa saja, kapan saja, dan di mana saja bisa melihat lagi dengan sekali klik.

 

Transformasi media

Transformasi media menjadi pelajaran berharga tentang revolusi dan evolusi pers, mulai edisi cetak ke edisi online dan e-paper. Hal ini telah digambarkan Alves (2001) dalam artikelnya berjudul "The future on Online Journalism Mediamorphism or Mediacide?" dimuat The Journal of Policy, Regulation and Strategy for Telecommunications, Vol 3 No 1 hal 63-72. Artinya, transformasi dari industri pers merupakan konsekuensi dari kemajuan teknologi. Oleh karena itu, tuntutan penyesuaian menjadi pilihan wajib yang tak bisa lagi dihindari, termasuk yang dialami industri pers kini.

Di sisi lain, perubaham permintaan konsumen juga menjadi konsekuensi yang mendukung transformasi industri media pers. Identifikasi fenomena ini bisa dilihat dari temuan riset Flavian dan Gurrea (2006) dalam artikelnya "The Choice of Digital Newspapers Influence of Readers Goals and User Experience", dimuat Internet Research, Vol 16 No 3 hal 231-247.

Dari fenomena yang ada, termasuk juga transformasi cyber society akibat tarif internet yang semakin murah, maka tidak ada salahnya jika semua media pers dituntut untuk juga menerbitkan edisi online dan edisi e-paper. Hal ini, secara tidak langsung mematikan edisi cetak karena bagaimanapun juga konsumen bisa dibedakan menjadi dua, yaitu high touch dan high tech (Saputro, 2009). Mereka yang high touch tetap butuh edisi cetak dan yang high tech semakin akrab dengan edisi online, termasuk edisi e-paper. Artinya, realitas transformasi industri

media telah terjadi. Dan, industrialisasi media harus melihat kasus ini dengan cermat untuk bisa tetap bertahan dan memenangkan persaingan.

Sumber: Republika,  9 Februari  2012

Kembali