Inilah yang dirasakna Claire Handscombe saat membaca tulisan di layar monitor, sulit berkomitmen. Seperti pada kebanyakan pengelana dunia maya, ia mengklik tulisan pada jejaring sosial, dari Tufts University penulis Proust and the Squid: The Story and Science of the Reading Brain, satu dari sederet penulis yang menyuarakan keemasan itu. "Saya khawatir cara membaca di permukaan setiap harinya memengaruhi kita ketika kita harus membaca dengan proses yang lebih dalam kata dia.

Pada sisi lain, pemahaman info yang lebih dalam tampaknya menjadi kelebihan media cetak.  Pada bukunya, Words Onscreen: The Fate of Reading in a Digital World, guru besar linguistik Naomi Baron mengadakan penelitian tentang  preferensi membaca pada 300 mahasiswa AS.

Ada lagi pada penelitian di Indiana University 2012, psikolog Karin James menguji anak-anak berusia lima tahun yang belum tahu cara membaca atau menulis. Anak-anak itu diminta membuat sebuah huruf atau bentuk dengan satu dari tiga cara. Meteka boleh mengetik di komputer, atau menggambar di lembar kosong, atau mengikuti bentuk dengan bantuan titik-titik. Ketika anak-anak itu menggambar bebas, scan MRI bekerja. Hasilnya, saat tes dilakukan ada aktivasi pada banyak tempat di otak. Hasil scan ini lalu diasosiasikan dengan kegiatan membaca dan menulis pada orang dewasa. Sebagai pembanding, pada metode yang lain tak menunjukan Aktivasi seperti itu di otak.

 

Jalan damai

Tak ingin kehilangan hal-hal baik dari membaca buku, Maryanne Wolf mempraktekkan upaya kembali meraih kemampuan yang hilang itu. Ia kembali membaca novel di malam hari, untuk memberi jarak ruang dan waktu dengan layar monitor kesayangannya. "Sungguh sulit pada malam kedua” katanya. Wolf meneruskan upayanya hingga menyelesaikan novel itu dalam dua minggu. "Pada akhir dua minggu itu, saya merasa pulih, siap menikmati buku” ujar dia. Dan, ia membaca lagi.

Suara damai untuk dua media ini dilontarkan  Tom Chatfield, seorang penulis Inggris, saat bercerita tentang pengalamannya 'membaca' bersama anaknya yang berusia 18 bulan di harian  Guardian belum lama ini. 'Membaca', maksud Chatfield 'melihat'. Enam bulan terakhir, si balita tak lagi cuma melihat. "Dia mulai memerhatikan beberapa huruf dan angka,” kata penulis buku-buku digital dari Inggris itu. Si bocah menyebut huruf besar Y dengan 'yak' pada gambar di pintu kamarnya, K 'kanguru’ dan seterusnya.

Meski sehari-hari bekerja di seputar media digital, Chatfield mengaku tak bisa membayangkan mengajari sang anak membaca di rumah tanpa buku, pensil atau kertas secara fisik. Tapi, "Saya tak bisa membayangkan membatasinya dari dunia tanpa batas yang bisa diberikan oleh layar monitor computer” ujar dia.

Bapak muda ini berharap bisa membuat sang anak belajar memanfaatkan keduanya secara maksimal. Mengetik, mengopi, membuat sketsa, catatan, secara tepat sesuai yang dia butuhkan untuk merumuskan gagasannya.

Sumber : Republika, Selasa, 14 Juli 2015

 

Kembali