Oleh:

Hemat Dwi Nuryanto

 

            Kementrian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) berusaha memanfaatkan seoptimal mungkin kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk melayani proses pendidikan. Optimalisasi layanan pendidikan bisa berhasil dengan baik antara lain dengan menerapkan sistem buku teks terbuka atau bisa juga disebut Buku Sekolah Elektronik 2.0 (BSE2.0).

Hingga saat ini, siswa sekolah dan mahasiswa tetap dihadang persoalan pengadaan buku teks. Sistem buku teks terbuka bisa mengatasi masalah tersebut karena harganya sangat murah bahkan gratis. Selain itu, sistem tersebut bisa memfasilitasi siswa dan guru untuk mengedit atau melakukan pengayaan dan mengerjakan soal-soal langsung dalam buku tersebut. Content buku teks terbuka yang terdiri atas teks, gambar, audio, dan multimedia, dengan format standar SCORM dapat di update secara kontinu dengan fasilitas content authoring. Buku teks terbuka tersebut bisa diperoleh secara online atau offline dengan cara menyewa.

Eksistensi media sosial dan pendekatan inovatif untuk pembelajaran online dan kolaboratif akan mewarnai sistem pendidikan global. Tren dunia menunjukkan, sistem Open Course Ware (OCW), Flat World Knowledge, dan University of the People telah mereduksi biaya pendidikan hingga menjadi semakin murah. Searah dengan itu, sebaliknya Pemerintah Indonesia memberikan perhatian dan insentif yang besar kepada anak negeri yang telah menciptakan aplikasi pembelajaran online dan kolaboratif dengan platform terbuka dan telah terbukti mendapat kunjungan dalam jumlah besar. Seperti Crayonpedia.

Di masa mendatang, negeri ini sangat membutuhkan model pembelajaran online seperti yang dilakukan oleh Flat World Knowledge. Merupakan model yang berkelanjutan dan menawarkan textbook dan materi studi gratis. Juga dengan sifat Creative Common. Sekadar catatan, buku-buku Flat World Knowledge ditulis penulis ahli yang sangat berkompeten dan umumnya memegang gelar akademis yang tinggi atau memiliki pengalaman praktis dalam bidangnya.

Pemerintah menyatakan, jumlah BSE konvensional yang bisa diunduh telah mencapai jumlah yang cukup (sekitar 250 buku). Namun program tersebut belum efektif dan banyak kelemahan mendasar, antara lain belum tersedianya lembar kerja siswa (LKS) untuk mengerjakan tugas sekolah atau karya tulis.

Oleh karena itu, diperlukan system buku teks terbuka atau BSE 2.0 yang bersifat dinamis dan kolaboratif serta berkembang dan bersenyawa dengan kaedah Wikinomics dan kedigdayaan search engine. Sistem buku teks terbuka semakin ideal jika pemerintah menempuh kebijakan yang progresif yakni pengadaan komputer tablet untuk siswa sekolah. Sebaiknya perangkat komputer tablet itu diproduksi oleh BUMN seperti PT INTI atau LEN lalu dibanderol dengan aplikasi dan konten lokal.

Prospek dan filosofi buku teks sekolah dan kuliah di negeri ini mestinya dirancang searah dengan fenomena Wikinomics serta ditandai oleh semangat jaringan sosial yang saling terbuka, saling berbagi dan berkonsultasi, dan saling bekerja cerdas secara global (global smart working). Apalagi dengah didukung sistem yang luar biasa pada komputer tablet yakni kemampuannya yang bersifat searchability, interaktivitas, portabilitas, dan adaptif dengan jejaring sosial. Selain itu, dengan buku teks terbuka lewat komputer tablet bisa dilakukan studi ekskursi yang praktis dan menawan atau praktik lapangan berupa kunjungan virtual tiga dimensi. Seperti kunjungan  ke museum dengan pemandu elektronik yang bisa menerangkan secara baik tentang koleksi di museum tersebut.

Prospek buku teks terbuka bisa mereduksi biaya sekolah secara signifikan dan mampu mendongkrak motivasi belajar siswa. Sistern buku teks terbuka akan optimnal jika ekosistem pendidikan ditransformasikan terlebih dahulu dengan prinsip broadband economy dan teknologi internet yang ditandai berkembangnya sistem berbasis jejaring sosial juga diwarnai teknologi yang memungkinkan berjalannya aplikasi web seperti aplikasi desktop, berkembangnya teknologi multimedia baik audio dan video streaming, dan lain-lain. Transformasi itu akan melahirkan sistem di sekolah yang memanfaatkan kemajuan internet secara optimal. Dengan demikian, siswa dan guru bisa mengedit atau mengisi halaman buku teks untuk keperluannya masing-masing. Guru bisa melakukan pengayaan materi pada setiap bab buku. Begitu pula siswa

bisa mengerjakan soal-soal LKS langsung dalam bukunya masing-masing. Semua itu bisa berlangsung dengan baik jika portal sekolah menyediakan layanan pembelajaran seperti  e-Academic, e-Leaming Management, e-Authoring & Learning, e-Library, dan layanan administrasi. Layanan tersebut akan meningkatkan kinerja guru. Wadah guru yang sudah ada, yaitu kelompok kerja guru (KKG) dan musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) bisa terartikulasi secara baik. Sistem itu membuat aktivitas guru di KKG/ MGMP sangat memungkinkan membuat materi ajar secara kolaboratif dan efektif. Sistem juga membantu jejaring kerja untuk peningkatan profesionalitas guru berkelanjutan.

Janganlah kita cuma mengagumi karya bangsa lain terkait dengan sistem pembelajaran online seperti Connexions. Mestinya kita mengembangkan dengan wahana serupa hasil karya anak negeri sehingga bisa berkembang seperti Connexions yang penggunanya mencapai 850.000 setiap bulannya dengan traffic lebih dari 50 persen berasal dari luar Amerika Serikat. Connexions membebaskan biaya dan bersifat creative commons serta memberi keleluasaan bagi pengajar dan siswa untuk mengubah atau menulis ulang teks yang ada di buku hasil download tersebut, dengan catatan tetap menghargai sang penulis asli. Bandingkan Connexions dengan konten pendidikan generik gratis dan kolaboratif yang eksis di negeri ini yakni Crayonpedia yang pada 2010 dikunjungi lebih dari 1,5 juta unique visitor dengan hampir 200 juta hits. Bahkan, Crayonpedia sebagai situs yang berisi materi ajar lebih banyak dikunjungi dibandingkan dengan situs lain milik Kementerian Pendidikan Nasional yang telah menyedot biaya besar.

Sumber : Pikiran Rakyat, 30 Mei 2011

Kembali