Penjualan E-Book Kalahkan Buku
Oleh:
Yeyen Rostiyani
Dunia industri buku tampaknya harus bersiap-siap menghadapi revolusi membaca. Jika sebelumnya buku fisik atau p-book (paper based book) menjadi raja, tren itu berubah menjadi e-book. Tren ini terlihat dari pengumuman yang dibuat laman Amazon pada pada 26 Desember lalu.
Amazon mengumumkan bahwa untuk pertama kalinya volume penjualan ebook-nya melampaui buku fisik. Sedangkan perangkat lunak untuk membaca e-book bernama Kindle, menjadi hadiah Natal yang laris manis di Amerika Serikat (AS). Saking banyaknya pesanan, Amazon bahkan mencatat rekor volume perjualan satu hari yang terbanyak dalam sejarah sejak Amazon berdiri. Pada Natal, lewat Kindle, pembeli di Amazon membeli lebih banyak e-book dibanding buku fisik.
"Kami sangat berterima kasih kepada para pelanggan karena mejadikan Kindle sebagai barang yang banyak menjadi hadiah dalam sejarah kami," kata Jeff Bezos, pendiri sekaligus CEO laman Amazon, dalam pernyataannya yang dikutip People's Daily.
Puncaknya terjadi pada 4 Desember, ketika para pembeli dari segala penjuru dunia memesan 9,5 juta barang. Ini berarti terjadi pemesanan 110 barang per detik.
Selama musim liburan akhir tahun ini Amazon mengirimkan pesanan ke 178 negara. Pesanan terakhir dilakukan seorang pelanggan Amazon Prima di Seattle. Ia memesan Kindle pukul13.43 waktu setempat pada 24 Desember dan menerimanya pada 16.57 pada hari yang sama.
Menurut penelitian yang dikumpulkan PC Magazine, industri penerbitan buku di Asia, Eropa, dan Afrika, kini masuk ke dalam kelompok "industri tradisional". Perkembangannya dipengaruhi secara kuat dari pertumbuhan Internet.
Meningkatnya e-book, toko buku online, dan sumber buku elektronik sedikit banyak mendongkrak vitalitas industri buku biasa. Namun ini mejadi pisau bermata dua ketika konflik antara penerbit e-book dan penerbit buku bisa terjadi.
Maritime Communications Partner (MCP), sebuah kelompok penerbit papan atas, baru-baru ini mengumumkan akan menunda peluncuran e-book. Hal ini dilakukan agar harga buku fisik dapat bertahan untuk sementara. Strategi penjualan ini membidik Amazon yang biasa menjual e-book secara pukul rata pada harga 9,99 dolar AS.
Namun perlu diakui, bahwa memang ada sejumlah hambatan bagi ekspansi penjualan e-book. Pertama, tak semua orang mengenal e-book ini. Survei menunjukkan, 50 persen warga Spanyol belum pernah mendengar e-book.
Kedua, perangkat lunak untuk membaca e-book harganya relatif mahal. Di AS sendiri harganya bisa ratusan dolar AS. Namun, jika harganya diturunkan menjadi 100 dolar dan ini mungkin saja terjadi pembeliannya diyakini bakal melonjak tajam. Ketiga, pembaca masih terus berharap agar harga e-book bisa turun. Hal lainnya ada keterbatasan bacaan versi e-book.
Jadi, apakah revolusi membaca memang menghadang kita? Jawabannya tergantung persepsi Anda. Namun, tak ada salahnya industri cetak mempersiapkan strategi menghadapi gempuran e-book.
Sumber : Republika, 30 Desember 2009