Buku Cetak di Simpang Jalan
Oleh:
Atep Kurnia
Dua bulan berturut-turut kita diingatkan untuk selalu menaruh perhatian pada buku. Pertama pada bulan April. Pada bulan ini ada peringatan Hari Buku Sedunia (World Book Day). Selanjutnya bulan Mei. Pada bulan ini kembali kita diingatkan pada peran pustaka. Sebab, pada bulan ini di tingkat nasional, kita memperingati Hari Buku Nasional yang jatuh pada tanggal 17 Mei.
Hari St George di Catalonia sejak abad pertengahan diyakini sebagai muasal perayaan Hari Buku Sedunia. Setangkai atau sebuket mawar diberikan para pria kepada kekasihnya pada perayaan tersebut.
Selanjutnya, para pedagang buku merekayasanya untuk menghormati pengarang Don Quixote, Miguel de Cervantes, yang meninggal dunia pada tanggal 23 April. Ini berlangsung sejak tahun 1923. Dua tahun kemudian, para perempuan memberikan buku sebagai hadiah, pengganti mawar yang diterimanya.
Akhirnya, pada 1995, UNESCO memutuskan tanggal 23 April sebagai Hari Buku Sedunia. Di tingkat nasional, Presiden Megawati Soekarno Putri mencanangkan 17 Mei sebagai Hari Buku Nasional pada tahun 2002. Dengan demikian, lengkap sudah kebanggaan pencinta buku terhadap apresiasi yang diberikan dunia dan negara atas eksistensi pustaka.
Akan tetapi, perkembangan dunia pustaka bukan tanpa masalah. Sebab, kini pustaka cetak ditantang dunia maya (virtual), yakni dengan hadirnya buku elektronik (e-book).Akibatnya, timbul polemik yang tidak berkesudahan akankah eksistensi buku cetak tergeser?
Untuk membaca fenomena ini, saya pikir ada baiknya kita menengok sejarah, bagaimana mulanya buku elektronik ditemukan orang dan bagaimana perkembangannya. Namun, yang paling penting adalah bagaimana kita menyikapi fenomena ini. Untuk menyikapinya, saya becermin pada pendapat ahli semiotik Italia, Umberto Eco.
Meruyaknya buku elektronik
Buku elektronik adalah buku yang dibuat dalam format elektronik. "Jenis buku ini mula-mula dirintis melalui Proyek Gutenberg (Gutenberg Project) pada tahun 1971. Penggagasnya Michael Hart, mahasiswa Univerty of Illinois, Amerika Serikat. Proyek ini bermaksud membangun perpustakaan digital yang dapat diakses gratis oleh siapa pun. Buku-buku yang dijadikan proyek adalah buku-buku berstatus milik publik (public domain), seperti karya Shakespeare dan Edgar Allan Poe.
Selanjutnya, penerbit Random House menerbitkan,The Random House's Electronic Thesaurus tahun 1981. Buku ini merupakan buku elektronik komersial pertama di dunia. Lalu pada tahun 2000, Stephen King membuat gebrakan. Ia lebih memopulerkan buku elektronik dengan jalan menerbitkan Riding the Bullet dan The Plant.
Di Indonesia, buku elektronik dirintis oleh penerbit Mizan. Pada tahun 2001, Mizan mengunggah Wasiat Sufi Imam Khomeini dalam bentuk elektronik yang dapat diakses secara gratis. Yang paling terkini adalah diluncurkannya buku sekolah elektronik (BSE) pada 20 Agustus 2008 oleh Departemen Pendidikan Nasional. Maksud proyek ini memberikan buku murah kepada siswa dengan jalan membeli hak cipta buku pelajaran dan menjadikannya buku elektronik.
Di balik itu semua, ada sejumlah pertimbangan yang menyebabkan orang memilih buku elektronik, di antaranya orang tidak perlu mencari buku ke toko, cukup mengunduhnya di internet, baik yang berbayar maupun yang cuma-cuma. Buku elektronik dapat dengan mudah disimpan, dibawa, digandakan, diarsipkan, dan dikoleksi sebagai perpustakaan digital.
Akan tetapi, tentu buku elektronik pun bersyarat. Buku elektronik memerlukan perangkat membacanya, yakni komputer atau perkakas pembacanya (e-book reader), seperti Kindle yang dikeluarkan Amazon. Selain itu, yang terpenting juga adalah adanya akses internet. Bila tidak ada itu, apalah artinya buku elektronik.
Tantangan Eco
Jawaban terbaik dari pertanyaan apakah buku elektronik dapat menggantikan buku cetak, saya pikir, adalah kita harus membaca tulisan Eco. Pria berkacamata tebal dan ahli abad pertengahan ini menyampaikan ceramah saat pembukaan kembali Bibliotheca Alexandria di Kota Alexandria, Mesir, l November 2003. Saat itu ia menyampaikan ceramah berjudul "Vegetal and Mineral Memory the Future of Books".
Di tengah wacana "ajalnya buku cetak'' ia menyatakan bahwa buku cetak masih mempunyai masa depan. Sebab, munculnya buku elektronik hanyalah contoh lain dari ketakutan-ketakutan masa lalu, seperti ketika tulisan dan buku cetak ditemukan. Ketika itu muncul kekhawatiran tulisan menggantikan ingatan. Seperti juga ketakutan penemuan sepeda motor menggantikan sepeda kayuh.
Poin kedua, ia mengajukan dua pertanyaan untuk memperjelas masalahnya apakah buku cetak akan musnah secara fisik atau musnah secara obyek virtual belaka?
Ditinjau dari sisi fisiknya, menurut pengarang novel The Name of the Rose ini, buku cetak tidak akan tergantikan, bukan hanya bagi kesusastraan, melainkan juga bidang lain yang harus membaca secara teliti bukan hanya untuk memperoleh informasi, melainkan juga untuk menafsir atau berefleksi.
Cara baca di komputer atau e-book reader tidak sama dengan membaca buku cetak. Eco mengumpamakan cara orang mempelajari program komputer. Dia mengatakan, mungkin saja ada program visual yang menjelaskan secara baik bagaimana mencetak dan menjilid buku. Namun, untuk mendapatkan bagaimana instruksi untuk menulis, atau menggunakan sebuah program komputer, tetap saja butuh buku panduan cetak.
Selain itu, dibandingkan dengan komputer, buku cetak mempunyai keunggulan lain. Buku cetak tidak akan menyebabkan radiasi pada mata setelah lama membaca. Buku cetak tidak memerlukan daya listrik sehingga bila suatu ketika jauh berada di pelosok, kita akan nyaman membaca buku dibandingkan dengan komputer yang memerlukan colokan listrik atau baterai.
Sebagai kesimpulan, Eco yakin bahwa ketakutan akan "ajalnya buku cetak'' secara fisik tidak hanya tertuju pada buku cetak, tetapi juga pada umumnya materi cetak. Dengan demikian, menurut dia, bila ada sangka dengan komputer bisa mengurangi penebangan pohon, itu hanya isapan semata. Justru, komputer mendorong produksi materi cetak. Sebab, menurut Eco, komputer menciptakan mode baru dalam memproduksi dan menyebarkan dokumen cetak. Untuk membaca kembali sebuah teks dan memperbaikinya dengan selayaknya, orang harus mencetaknya lebih dahulu, kemudian mengoreksi lagi dikomputer, dan mencetak lagi. Saya sungguh tidak habis pikir bila ada orang yang mampu menulis sebuah teks beratus-ratus halaman
dan mengoreksinya dengan baik tanpa mencetaknya lagi beberapa kali.
Bagi yang mencintai buku cetak, tak perlu risau akan "musnahnya buku cetak''. Bukankah majalah Newsweek edisi 26 November 2007 menurunkan berita utama, Books Aren't Dead, They're Just Going Digital.
Sumber : Kompas, 1 Juni 2009