Oleh:

S. Sahala Tua Saragih

 

Awal abad ke-21 merupakan masa sangat suram bagi industri media massa cetak di negara-negara maju, terutama Amerika Serikat dan Inggris. Banyak koran, majalah, dan tabloid ternama yang telah berumur lebih dari setahun, bahkan lebih dari 100 tahun, "MPP" (mati pelan-pelan). Penyebabnya jelas, krisis ekonomi yang tak kunjung teratasi pemerintah negara masing-masing. Aliran dana melalui iklan sumber utama pemasukan uang terus merosot tajam. Harga kertas juga terus naik. Akhirnya dengan resmi mereka menghentikan operasi media cetak, lalu beralih ke media massa online (dalam jaringan/daring). Biaya operasional jenis media massa terbaru ini tentu jauh di bawah biaya operasinal media konvensional (media cetak).

Setelah tragedi industri media cetak di negara-negara raksasa tersebut, banyak pihak di negeri ini yang memprakirakan nasib yang sama akan menimpa industri media cetak kita. Kini kita sudah memasuki tahun ke-13 pada abad 21 dan milenim ketiga. Kita patut bersyukur, ternyata kekhawatiran mereka itu  paling tidak hingga detik ini tak terbukti. Iklan masih terus mengalir deras ke media cetak meskipun tak sebesar iklan yang masuk ke media elektronik (terutama televisi). Jumlah iklan yang terpasang di media daring ternyata masih jauh di bawah media konvensional. Fenomena ini menggambarkan betapa masih besarnya kepercayaan para pemasang iklan terhadap media konvensional. Ini mengindikasikan bahwa jumlah khalayak media konvensional (media cetak dan elektronik) masih jauh lebih banyak daripada khalayak media daring.

Kini jumlah media daring di republik ini terus tumbuh subur secara kuantitatif bagai jamur pada musim hujan. Hampir semua perusahaan media konvensional juga mengoperasikan media daring. Akan tetapi banyak sekali warga masyarakat masih tetap lebih mengandalkan media konvensional (termasuk koran harian) sebagai sumber utama pemenuhan kebutuhan akan informasi (bukan hanya berita aktual), baik yang berlangganan maupun yang membelinya secara

eceran.

Kita tak tahu dengan pasti bagaimana perekonomian negara kita pada masa mendatang. Kita pun tak bisa memprakirakan harga kertas. Hal yang kita ketahui pasti, sebuah media akan terus hidup bila ia sanggup memenuhi kebutuhan khalayaknya akan informasi (dalam arti luas). Selama jumlah khalayak sebuah media tetap besar, maka selama itu pula aliran iklan akan terus  deras.

Nah, agar para pemasang iklan tetap setia beriklan di media konvensional, terutama media cetak harian, para ujung tombak (wartawan) tentu menjadi faktor atau pihak paling penentu. Artinya, agar media cetak terus hidup subur, maka bagian (divisi) redaksi harus memiliki pasukan (wartawan) yang benar-benar memiliki etos kerja yang sangat baik. Di tangan para wartawan profesional saja media cetak akan terhindar dari kematian pelan-pelan.

Sebagai pembaca setia minimal lima koran dan tabloid harian, termasuk pelanggan setia "PR" sejak tahun 1973, melalui forum ini penulis mengajukan beberapa saran dan harapan. Pertama, penyajian berita investigative media cetak harian secara rutin perlu sekali menyajikan hasil penyelisikan wartawannya. Untuk ini jajaran redaksi harus memilik tim kecil wartawan yang benar-benar intelligent atau cerdas, bernyali besar, dan sungguh-sungguh bersikap profesional. Untuk ini pasukan elite wartawan tersebut harus rajin mencari para pembocor rahasia (pengungkap kasus) di sektor dan lembaga manapun. Mereka harus mampu membongkar kasus-kasus yang merugikan warga masyarakat khususnya dan negara kita umumnya.

Kedua, eksklusivisme. Para wartawan media cetak harus memiliki semangat eksklusivisme. Artinya mereka harus berlomba-lomba membuat berita eksklusif. Berita tersebut hanya ada di medianya. Terus terang, kita sangat prihatin melihat banyak wartawan muda kini yang justru berlomba-lomba melakukan kloning berita laporan. Akibatnya, banyak berita yang persis sama di berbagai media. Ini tentu merugikan khalayak yang berlangganan beberapa media cetak. Para wartawan masa kini perlu meniru semangat eksklusivisme yang dimiliki para wartawan ''jaman baheula", dan segera membunuh semangat ''kloningisme".

Ketiga, tidak berpartai politik. Semua pemilik dan pekerja media cetak, terutama para wartawan, seharusnya tidak menjadi pengurus atau anggota atau simpatisan partai politik. Ini sangat penting agar media cetak tidak disalahgunakan untuk kepentingan parpol, baik secara terang-terangan maupun secara sembunyi-sembunyi. Dengan kata lain, media cetak harus benar-benar independen, sehingga khalayak pembacanya tetap setia kepada media cetak tersebut.

Keempat, meningkatkan informasi pendidikan. Media cetak harian perlu terus meningkatkan informasi pendidikan, terutama pendidikan tinggi, dan di sisi lain mengurangi berita hiburan atau infotainment (tentang artis). Sesungguhnya banyak sekali penemuan yang sangat bagus para ilmuwan (dosen) dan para peneliti di luar perguruan tinggi. Namun sayang sekali para wartawan tak berniat meliputnya. Rubrik resensi buku (termasuk ke dalam informasi pendidikan) seyogianya juga perlu ditingkatkan jumlah dan frekuensinya.

Kelima, gaji wartawan. Agar para wartawan tidak sibuk berburu penghasilan tambahan. Yang pasti memerosotkan profesionalisme mereka, pemilik perusahaan media cetak harus mau dan mampu menggaji wartawan secara rasional, layak, dan memadai. Wartawan yang sudah bekerja tetap selama tiga puluh tahun, sangatlah pantas diberi gaji minimal Rp 5 juta - Rp 10 juta per bulan. Tak dapat disanggah, kecil-besarnya gaji tetap wartawan niscaya berkorelasi atau berpengaruh langsung terhadap etos kerja atau kualitas profesionalisme mereka.

Kini dan kelak bukan masanya lagi wartawan diperlakukan pemilik media sebagai pekerja yang patut dibelaskasihani. Pemilik media cetak dan pihak manajemen di semua tingkat harus berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan segenap jajaran wartawan,  bekerja keras untuk memajukan media yang bersangkutan. Mereka sekalian harus bahu-membahu untuk mencegah kematian media cetak mereka sendiri. Selamat ulang tahun ke-47, "PR"!

Sumber : Pikiran Rakyat, 25 Maret 2013

Kembali