Oleh:

Hilman Hidayat

 

            Ketika media cetak mendapat pukulan telak atas kehadiran radio pada 1909, media cetak bertahan. Kemudian pada 1939 disaat siaran TV mengudara yang berlanjut sampai saat ini, media cetak masih tahan, meski agak kelimpungan.

            Nah, pada era teknologi informasi seperti saat ini bagai hantaman yang ketiga bagi media cetak. Bahkan Bill Gates pada awal 2000 sudah memberikan sinyal datangnya era kematian surat kabar dan media cetak lainnya. Runtuhkah eksistensi media cetak ?

            Sejumlah diskusi para praktisi dan akademisi jurnalistik masih menyimpulkan media cetak tidak akan pernah mati meski teknologi informasi berkembang terus. Hanya saja kesimpulan itu sedikit goyah. Setidaknya, kegamangan itu tercermin dalam rapat kerja Serikat Pekerja Pesr (SPS) yang dihadiri oleh pemilik surat kabar, seperti Jacob Oetama, H. Sukamdani S. Gitosarjono, Dahlan Iskan, Leo Batubara, Soemandi M. Wonohito, Fikri Jufri, Parni Hadi, serta tokoh pers nasional lainnya, menyiratkan kekhawatiran mendasar akan masa depan media cetak.

            Dalam pendebatan dan diskusi di SPS dalam rangkaian Hari Pers Nasional di Bandung pekan ini, tersirat secara jelas betapa paniknya para penerbit pers.

            Betapa tidak, oplah surat kabar tak bergerak alias stagnan. Bahkan kelompok Jawa Pos mendeklarasikan 20 surat kabarnya telah mati. Sementara yang lain ‘berdarah-darah’ karena ditinggalkan pembaca dan pemasang iklan.

            Panik! Itu kesan yang terlihat dari para pengusaha pers. Surat kabar sekaliber Kompas pun, seperti diungkapkan Jacon Oetama, menilai media cetak belum pernah mengahadapi tantangan yang  begitu besar, kecuali sekarang ini.

            Dia mengingatkan bahwa dunia sedang berubah secara cepat karena revolusi teknologi. Kemajuan teknologi informasi telah membuat posisi media cetak tersudutkan, jauh diluar perkiraan.

            Masyarakat bisa mengakses berita kapan pun dan dimana pun secara gratis. Lantas kemana peran loper, agen, percetakan, tukang kertas, dan lain-lainnya. Inilah perubahan yang harus diterima industri pers.

            Menekominfo Sofyan Djalil mengungkapkan kemajuan terknologi informasi tidak bisa ditahan lagi akan memengaruhi media cetak secara mendalam.

            Berita gratis berseleweran dan masyarakat bertanya kenapa pula harus menunggu esok atau minggu depan. Apalagi jika dianggap mengapa harus membayar bila berita itu bisa gratis dan seketika.

 

Solidaritas mati

Sebagian pelaku usaha yang hadir dalam Rakernas SPS itu sudah tahu jawabannya, yaitu

penurunan minat masyarakat atas produk media cetak akan terus terjadi dan secara kompetisi akan membuat media cetak gugur satu per satu.

            Bahkan Dahlan Iskan dari Jawa Pos Group dengan lantang meminta Leo Batubara, Ketua Komisi Pengaduan Masyarakat dan Penegakan Etika Pers, Dewan Pers, jangan mengampanye-kan kepada kalangan investor atau pengusaha pers bahwa masih ada celah pembaca di Indonesia.

            Hitungannya, oplah media cetak 2005 sekitar 7 juta eksemplar, sementara hitungan Unesco seharusnya di Indonesia mencapai 22 Juta.

            Jumlah ini sesuai rasio penduduk hanya saja, harus diingat angka Unesco itu tidak bisa dijadikan dasar untuk menerbitkan pers baru atau untuk bertahan jika medianya sakit karena kenyataan lapangan berbeda.

            Bahkan seorang pengelola media lainnya dengan sewot mengatakan dominasi koran kaya dan jaringan yang luas telah menjadi penyebab runtuhnya koran yang lebih kecil. Caranya dengan dumping harga eceran dan pembajakan wartawan.

            Malahan sejumlah agen pun mendapat ancaman agar tidak mengedarkan surat kabar atau media cetak musuhnya atau media cetak baru meski sama-sama anggota SPS. “Tidak ada solidaritas dan etika bisnis di sini” teriak salah satu seorang peserta.

            Soemadi M. Wonohito, Direktur Utama Penerbit Kedaulatan Rakyat (KR) Yogyakarta, menjelaskan masa romantik solidaritas dan etika bisnis di media cetak telah lama mati. “Buktinya ketika 90 wartawan KR dirampok oleh penerbitan koran baru di Yogya pada 1989 dan saya dipermalukan berbulan-bulan oleh rekan penerbitan koran lain pada 2002, mana ada solidaritas dari anggota SPS untuk saling membantu,” tanyanya.

            Lebih baik, ungkapnya, pemilik modal membuat sarang burung waler saja atau usaha lain dari pada mendirikan surat kabar.

            Namun H. Sukamdani S. Gitosardjono dari kelompok penerbit bisnis Indonesia, mengatakan sekuat apapun kompetesi dan tekanan dalam bisnis media cetak, pengelola yang mengetahui celah dan peluang bisnis akan tetap eksis dan berkembang.

            “Kembangkan media cetak sebagai bisnis, sementara aspek idelismenya yaitu surat kabar tersebut harus bermanfaat secara positif bagi lingkungan, negara dan bangsa-bangsanya” katanya.

            Lantas bagaimana masa depan media cetak di Indonesia akankah mati? Belum tentu. Jacob mengungkapkan ada tiga hal penting yang harus dicermati pengelola media cetak, yaitu kualitas wartawan, kemampuan media menggunakan kacamata lain dalam melihat peluang, serta kuatnya riset media.

            Saya yakin dengan pendekatan komperhensif dan konteksual ini media cetak masih mempunyai masa depan.

Sumber : Bisnis Indonesia, 10 Desember 2006

 

Kembali