Kematian Media Cetak
Oleh:
Christovita Wiloto
Sekitar 20 tahun lagi, media cetak akan mati. Ramalan itu pasti memanaskan telinga banyak pemilik dan pekerja di industri media cetak termasuk para jurnalisnya. Bill Gates pernah membuat prediksi bahwa Internet akan menyatukan dunia, menjadi pemimpin industri media di masa depan dan media cetak akan mati. Karena itu, tak heran kalau perdebatan sengit soal itu terjadi pada diskusi yang digelar di Jakarta beberapa waktu lalu.
Terlepas dari berbagai perdebatan yang ada kita sadari bahwa, mungkin kita-kita yang saat ini sedang berdebat, mungkin juga tidak pernah menikmati masa-masa itu. Karena selain sebagian dari kita saat itu sudah masuk dalam kategori usia nonproduktif, atau bahkan mungkin sebagian dari kita sudah tiada.
Yang menikmati masa 2020-2026 itu , adalah anak-anak kita yang saat ini baru lahir alias balita sampai yang kini di bangku SMP. Mereka jugalah yang akan mengelola media-media dengan paradigma yang jauh berbeda dengan kita saat ini. Mereka adalah generasi yang sangat akrab dengan teknologi dunia maya tanpa batas yang sangat menarik dan interaktif.
Namun, bukan berarti saat itu koran, majalah, dan tabloid akan mati. Mereka akan tetap hidup, namun tidak perlu di-print, alias dicetak. Hanya kalau memang user menginginkannya media-media itu dapat dicetak, bahkan berulang-ulang.
Ini harnpir mirip dengan fenomena studio cuci cetak foto, yang saat ini mulai tampak berguguran semenjak teknologi foto digital marak. Setiap orang tetap akan mendokumentasikan aktifitasnya, bahkan lebih sering dari sebelumnya, hanya soal cetak mencetak bukan merupakan keharusan, tergantung kebutuhan. Jadi fenomena ini sebetulnya tidak perlu merisaukan rekan-rekan pemilik dan pekerja di industri media cetak termasuk para jurnalisnya.
Gaya hidup & teknologi
Tak perlu menunggu 2020, saat ini pun kecanggihnya teknologi komunikasi sudah tampak. Melalui bantuan satelit, stasiun televisi dapat menyiarkan peristiwa secara langsung dari tempat kejadian. Kita juga mudah sekali mengakses informasi apa pun melalui Internet dengan search engine yang semakin canggih.
Teknologi seluler pun berlomba dengan fitur-fitur tercanggihnya dengan biaya yang makin murah. Kini dikenal ada telepon generasi ketiga (3G), W-CDMA (wideband code division multiple access), HSDPA( high-speed downlink packet access) dan seterusnya. Jadi telepon genggam dapat berfungsi sebagai televisi, kita pun bisa melihat lawan bicara kita.
Bahkan saat World Cup 2010 nanti, jika kita tidak sempat menonton pertandingan kesebelasan kesayangan kita, dengan call and replay, operator telepon akan mengirimi kita telepon dan tayangan ulang terjadinya goal hanya dalam tempo satu menit, setelah gol terjadi, belum lagi tayangan-tayangan real time lainnya.
Tidak lama lagi nomor seluler kita pun akan berfungsi layaknya alamat e-mail, lebih dari sekadar push atau pull e-mail seperti yang sudah marak saat ini. Setiap detik, kita bisa mendapatkan informasi apa pun, dan dari mana pun.
Dengan semua kecanggihan teknologi itu, media cetak yang untuk mendapatkannya kita harus bayar akan terasa mahal, dan kuno. Apalagi, jika harga kertas terus melambung. Yang juga perlu diingat adalah, media cetak perlu percetakan, armada distribusi, dan sebagainya. Media cetak juga membutuhkan senjang waktu tertentu untuk menyampaikan informasi ke publik. Struktur manajemen media.
Arus informasi sudah sedemikian lebar terbuka melalui banyak media, keterlambatan sedikit saja akan berakibat fatal pada media cetak. Konsumen akan beralih ke media lain untuk mendapatkan informasi itu baik ketelevisi, radio, Internet, atau media elektronik lain.
Saat ini media koran dan majalah di luar negeri mengalami pertumbuhan pelanggan digital yang sangat pesat, jauh melebihi pertumbuhan pelanggan tradisional cetak. Salah satu alasannya adalah pelanggan tidak mau ketinggalan berita saat mereka tidak berada di rumah atau kantor, tempat loper biasa mengirim berita.
Informasi, saat ini secara faktual sudah tak sulit dicari. Kecuali informasi militer atau intelijen yang memang bersifat rahasia. Informasilah yang akan membanjiri publik. Dan, konsumen yang kian cerdas akan memilah mana informasi yang dibutuhkannya, dan mana informasi sampah yang harus dibuang.
Kini teknologi memberi pilihan on cetak yang gemuk dan sangat terbatas sirkulasinya, memang kerap menyulitkannya untuk bergerak cepat. Padahal, sekali lagi, publik yang kini kian mobile membutuhkan akses informasi secara akurat, cepat, dan murah. Demand information, lebih demokratis, publik yang akan memilih sendiri berita apa yang mereka perlukan, dan tidak ikut saja menu yang secara standar ditampilkan oleh media. Publik pun tidak bisa terus menerus didikte media, hal ini sudah mulai diterapkan beberapa stasiun televisi Indonesia, dengan memberi kesempatan publik memilih berita apa yang akan disajikan.
Manusia global juga cenderung lebih efektif dan efisien mengelola waktu dan ruang. Itu pulalah yang menjadi alasan kenapa media cetak yang tebal dan berat, serta memenuhi storage, diperkirakan semakin tak disukai.
Demikian pula media komunitas pun akan berkembang menjadi media yang berbasis Internet, karena ada kecenderungan kian banyak orang yang ingin berkomunikasi dan butuh informasi dengan komunitasnya. Walau, dalam skala tertentu, pergaulan antar komunitas itu akan terkendala bahasa. Hanya saja, kini sudah semakin banyak orang yang menguasai lebih dari
dua atau tiga bahasa sekaligus.
Yang menarik, kini ada kecenderungan sumber informasi dan publik sudah kian dekat. Nyaris tanpa jarak. Sehingga tidak diperlukan mediator, kecuali alat atau sarana sebagai media komunikasi. Media-media baik cetak maupun elektronik kini selalu mencantumkan alamat e-mail para wartawannya, ke depan alamat e-mail narasumber pun menjadi kebutuhan untuk dicantumkan, sehingga publik akan dengan mudah berinteraksi dengan narasumbernya. Selain itu dengan blog setiap narasumber dengan mudah menjangkau publiknya.
Yang juga penting adalah, pemasang iklan pun kelak besar kemungkinan akan lebih menyukai media berbasis Internet. Karena mampu menjangkau pasar yang amat luas dengan biaya yang jauh lebih murah. Selain itu akan banyak tumbuh media elektronik yang sangat kredibel. Karena sekali lagi kredibiltas tetap menjadi kunci dalam dunia media.
Apakah ini juga akan terjadi di Indonesia? Jawabannya ya! Media cetak yang mungkin masih bisa bertahan 15-20 tahun mendatang adalah media cetak gratis yang lebih berfungsi sebagai newsletter dan probisnis, media komunitas di pedalaman, atau strategic report, yaitu laporan-laporan strategis yang benar-benar eksklusif.
Berhentilah berdebat, mulailah mengatur strategi dengan mempersiapkan anak-anak kita. Kesadaran untuk memahami fenomena masa depan ini harus dimiliki Indonesia, agar Indonesia jangan terus menerus jadi underdog. Namun, justru mampu memanfaatkan sebaik-baiknya momentum perubahan paradigma ini, agar kita yang kini tertinggal akan menjadi terkemuka di kemudian hari.
Sumber : Bisnis Indonesia, 2 Juli 2006