Oleh:

Dian R Basuki

Pengamat Masalah Sains

 

Sekitar dua tahun yang lalu, di AS terbit buku berjudul Unscientific America: How Scientific Illiteracy Threatens Our Future. Karya bersama Sheril Kirshenbaum dan Chris Mooney ini menyediakan ilustrasi mengenai kecemasan mereka terhadap tingkat literasi sains bangsa Amerika. Ketertinggalan warga AS dalam literasi sains dibandingkan dengan sejumlah negara, seperti Korea Selatan dan Singapura, dalam pandangan Kirshenbaum dan Mooney, merupakan ancaman bagi masa depan Amerika.

Terdapat sejumlah definisi literasi sains. Salah satunya disumbangkan oleh Organization for Economic Co-Operation and Development (OECD). Menurut lembaga ini, scientific literacy adalah kapasitas untuk menggunakan pengetahuan ilmiah, untuk mengidentifikasi persoalan, dan menarik kesimpulan berbasis bukti dalam rangka memahami dan membantu membuat keputusan mengenai natural world dan perubahan-perubahan yang dibuat terhadap dunia tersebut melalui kegiatan manusia".

Definisi itulah yang dipakai OECD sebagai rujukan dalam pengembangan Programme for International Student Assessment (PISA). Program ini ditujukan untuk menilai tingkat literasi siswa sekolah menengah di negara-negara yang tergabung dalam OECD maupun tidak secara sukarela. Setiap tiga tahun sekali, sejak 2000, OECD menerbitkan laporan mengenai tingkat literasi tersebut. Pengukuran terakhir dilakukan pada 2012, dan hasilnya akan diterbitkan tahun ini. Secara umum, literasi sains berarti pemahaman yang luas mengenai konsep-konsep dasar sains. Kita tidak perlu mampu mendiagnosis pasien untuk mengapresiasi pentingnya kemajuan medis, atau mampu menghitung orbit stasiun angkasa luar untuk memahami perannya dalam eksplorasi angkasa luar.

Warga yang literat (literate) secara keilmuan memiliki fakta dan kosakata yang memadai untuk memahami konteks informasi yang diterima. John Miller (2007), Direktur International Center for the Advancement of Scientific Literacy, saat melakukan riset terhadap publik AS, menggunakan pengertian yang lebih praktis: Apabila kita dapat memahami isu-isu ilmiah yang dipublikasikan di majalah umum dan surat kabar, apabila kita mampu membaca laporan tentang lubang ozon sama mudahnya seperti membaca berita sepak bola, kita literat secara keilmuan. Dalam risetnya, Miller meminta respondennya memahami artikel dan berita sains yang diterbitkan di harian The New York Times.

Hasil riset Miller memang pantas membuat Kirshenbaum dan Mooney khawatir. Akademisi tersebut menyatakan hanya sekitar 28 persen warga dewasa AS dapat dikualifikasikan sebagai scientifically literate. Hasil pengukuran OECD untuk siswa sekolah menengah seakan memperkuat kekhawatiran tersebut. Hasil tes PISA tahun 2009, untuk bidang sains, AS menempati urutan ke-23 di antara 65 negara responden. Skor yang dicapai AS hanya 502, berbeda tipis dengan rata-rata internasional, yakni 500.

Lantas, bagaimana dengan kita Indonesia mengikuti survei OECD sejak pertama kali PISA diadakan. Untuk tahun 2000, Indonesia menempati urutan ke-39 untuk matematika dan ke-38 untuk sains dengan jumlah negara peserta studi sebanyak 41. Tahun 2003, dari 40 negara peserta, Indonesia menempati posisi ke-38 untuk kedua bidang pengetahuan. Pada 2006, dari 57 negara peserta, Indonesia herada pada urutan ke-50. Dan untuk tahun2009, Indonesia menempati posisi ke-61 untuk matematika dan 57 untuk sains dari 65 negara.

Posisi Indonesia tertinggal jauh dari negara-negara Asia. Korea Selatan, dan kemudian Cina, menempati posisi teratas dalam beberapa kesempatan survei PISA. Negeri Ginseng ini berebut tempat teratas dengan Finlandia, dan kemudian dengan Shanghai-Cina dan Singapura, serta meninggalkan negara-negara Barat yang dianggap maju, seperti AS, Jerman, Inggris, atau Francis.

Inggris pernah melakukan survei terhadap warganya dan menemukan hasil yang juga mencemaskan. Dalam hasil survei tahun 1988, yang dipublikasikan di majalah Nature, diketahui bahwa, meskipun kebanyakan warga Inggris mengatakan sangat berminat terhadap sains, ternyata lebih dari 30 persen responden waktu itu masih meyakini bahwa matahari mengelilingi bumi. Para ilmuwan Inggris ketika itu menggambarkan situasi tersebut sebagai "defisit pengetahuan".

Banyak negara yang memandang literasi sains sebagai unsur yang sangat penting untuk masa depan bangsa dan meraih kesejahteraan bersama (laporan Royal Society Inggris, 1985). Cina dan Korea Selatan meletakkan pengembangan literasi sains sebagai strategi jangka panjang yang harus direncanakan dan dijalankan secara sistematis. Korea Selatan, yang menempati posisi atas dalam tes PISA, mengembangkan visi baru mengenai literasi sains. Kerangka kerja literasi sains Korea mencakup lima dimensi yang saling terkait, yakni content knowledge, habits of mind, character and values, science as human endeavor and metacognition, serta self-direction (Kyunghee Choi, et al.). Cina mengembangkan Rencana 15 Tahun untuk peningkatan literasi sains masyarakatnya dan sudah dimulai sejak 2006.

Mengapa literasi sains (dan dapat ditambahkan teknologi) sedemikian penting bagi banyak bangsa? Banyak argumen diajukan. Namun, melihat pengalaman dan upaya-upaya yang dilakukan berbagai bangsa, secara umum dapat diringkaskan sebagai berikut:

Pertama, argumen praktis. Orang membutuhkan pemahaman mengenai sains dan teknologi untuk menjalani kehidupan sehari-hari di dalam masyarakat yang kehidupannya diwarnai oleh sains dan teknologi.

Kedua, argumen demokratis. Orang memerlukan pemahaman mengenai sains dan teknologi untuk dapat berpartisipasi dalam berbagai isu yang terkait dengan sains—kompleks  yang dihadapi oleh warga demokrasi modern.

Ketiga, argumen kultural. Sains adalah bagian dari warisan kultural manusia dan sangat mempengaruhi pandangan kita tentang dunia serta tempat manusia di dalamnya. Setiap orang di antara kita dapat berkontribusi bagi pengembangan pengetahuan maupun bagi pemeliharaan alam tempat kita hidup.

            Keempat, argumen ekonomi. Tenaga kerja yang literat secara keilmuan merupakan kebutuhan untuk mengembangkan ekonomi. Sains dan teknologi semakin mengambil peran penting dalam kemajuan ekonomi dan pembangunan.     

Dengan argumen-argumen tersebut, pertanyaannya ialah: bagaimana Indonesia meletakkan literasi sains dalam kerangka besar pembangunan manusianya?

Sumber: Koran Tempo, 31 Maret 2013

Kembali