Oleh:

Kenneth Rogoff

Guru Besar Ekonomi Dan Kebijakan Publik Pada Harvard University

Mantan Ekonomi Kepala Pada Dana Moneter Internasional.

 

Kearifan konvensional saat ini mengatakan bahwa kebangkitan India dan Cina bakal menjadi faktor tunggal paling besar dalam mendorong peningkatan kerja dan pengupahan abad ke-21 ini. Pekerja dengan upah yang tinggi di negara-negara kaya bakal menyaksikan semakin terkurasnya daya saing mereka oleh pekerja-pekerja yang kapabel dan bekerja keras di Asia, Amerika Latin, dan mungkin bahkan pada suatu hari juga di Afrika.

Inilah kisah menarik penuh drama manusia dan kekuasaan politik. Tapi saya hertanya-tanya apakah, bahkan dalam waktu beberapa dekade yang akan datang ini, suatu faktor lainnya akan membawa pengaruh yang bahkan lebih besar dengan meningkatnya secara berlipat ganda aplikasi inteligensi buatan.

Pintu masuk saya ke dunia inteligensi buatan ini sempit sekali permainan catur yang sudah berusia lebih dari 500 tahun itu. Anda mungkin tidak peduli sedikit pun terhadap catur, yang dianggap sebagai puncak olahraga intelektual. Perkembangan yang mencengangkan di dunia catur selama dekade terakhir masih banyak menarik perhatian.

Catur sudah lama merupakan center piece penelitian di bidang inteligensi buatan. Walaupun liku-liku catur pada prinsipnya dapat dipecahkan, kompleksitas komputasi permainan ini hampir tidak bisa dipahami. Mungkin sedikit dilebihkan kalau dikatakan lebih banyak langkah terdapat dalam permainan catur daripada atom di jagat raya.

Selama kurun yang lama, abad ke-20, para programmer jelas tidak berhasil merancang komputer catur yang mampu bersaing melawan manusia yang brilian. Kemampuan intuisi, visualisasi, dan prioritasisasi manusia dengan mudah mengalahkan pendekatan kekuatan instingtif semata komputer. Kemampuan komputer berangsur-angsur ditingkatkan, tapi ia tampaknya masih inferior dibanding manusia dengan otak yang cemerlang. Atau begitulah yang kita kira.

Kemudian, pada 1997, dalam apa yang pasti akan dikenang sebagai tonggak bersejarah dalam kehidupan manusia modern komputer "Deep Blue" IBM mencengangkan dunia ketika ia mengalahkan juara dunia Garry Kasparov. Kasparov, yang mungkin lebih tercengang daripada siapa pun, yakin bahwa tim IBM yang menangani komputer tersebut pasti telah melakukan penipuan. Dengan sarkastis ia mengatakan kepada para wartawan bahwa ia rasa "tangan Tuhan" membimbing lawan bertandingnya.

Tapi tim IBM tidak melakukan penipuan. Sebaliknya, melalui kombinasi perangkat lunak yang canggih dan kemampuan paralel komputer yang massif, mereka berhasil merancang entitas berbasis silicon yang mampu melakukan langkah-langkah yang begitu indah dan halus, sehingga membuat grand master catur di seluruh dunia (termasuk saya) terkagum-kagum.

Sejak 1997, komputer tidak hanya semakin canggih sampai pada titik di mana programmer komputer tidak lagi menganggap manusia sebagai tantangan berat yang dengan mudah bisa mereka kalahkan.

Cuma permainan, kata Anda? Mungkin, tapi baiklah saya beri tahu ini saya, pemain catur profesional 30 tahun yang lalu (saya pernah mewakili Amerika Serikat dalam putaran kejuaraan catur internasional), merasa mampu menebak kepribadian seseorang dengan melihat bagaimana mereka bermain catur, bahkan pemain amatir pun. Sampai beberapa waktu yang lalu, saya dengan pasti bisa membedakan antara komputer dan manusia sebagai lawan pertandingan.

Sekarang segalanya sudah berubah secepat kilat. Mesin sekarang bisa disetel meniru manusia pemain catur yang terkenal termasuk kelemahan-kelemahannya begitu cermat, sehingga hanya mata jeli seorang ahli (dan kadang-kadang mata jeli komputer lainnya) yang bisa membedakannya.

            Lebih dari setengah abad yang lalu, god father inteligensi buatan, Alan Turing, mengatakan fungsi otak dapat seluruhnya direduksi ke dalam matematika dan bahwa, pada suatu hari, komputer akan menandingi inteligensi manusia. Ia mengatakan puncak bukti inteligensi buatan akan bakal tiba jika seorang manusia interrogator tidak lagi mampu mengenali bahwa ia sedang berbicara dengan komputer.

Apa yang dikenal sebagai "tes Turing" merupakan Mangkuk Suci riset inteligensi buatan. Bagi saya, permainan catur merupakan semacam percakapan. Dari sudut pandang saya, program-program komputer yang sekarang mudah diperoleh di mana-mana itu sudah mendekati kemampuan memenuhi tes Turing tersebut.

Setelah beberapa kali bermain game catur di Internet, saya tidak bisa dengan mudah mengenali bedanya. Benar, komputer saat ini belum berkembang ke level Halsang computer dalam film 2001 A Space Odyssey garapan Stanley Kubrick apalagi makhluk droid mirip Arnold Schwarzenegger dalam film Terminator. Tapi level yang telah dicapai komputer sudah cukup mengerikan.

What’s next? Saya jelas tidak merasa aman sebagai guru besar ekonomi! Saya tidak ragu bahwa pada suatu waktu nanti pada abad ini orang bakal bisa membeli pocket professor, guru besar dalam bentuk saku mungkin lengkap dengan citra-citra holografis semudah orang membeli komputer catur Kasparov dalam bentuk saku saat ini.

Marilah kita kembali ke India dan Cina. Globalisasi berjalan dengan laju yang cepat selama kurun lama abad yang lalu, dan dengan laju yang sangat cepat dalam dua dekade terakhir abad tersebut. Bukti banyak menunjukkan bahwa perubahan teknologi merupakan pendorong yang lebih kuat dalam pola pengupahan global daripada perdagangan. Artinya, teknologi, bukan perdagangan, adalah pendorong utama ekonomi abad ke-20 (sudah tentu ke duanya berinteraksi, di mana perdagangan membantu menyebarkan dan merangsang teknologi, tapi ini Cuma persoalan semantik).

Yakinkah kita bahwa perkembangannya bakal berubah dalam abad ini? Atau akankah inteligensi buatan menggantikan mantra outsourcing dan migrasi industri manufaktur? Pemain catur sudah tahu jawabannya.

Sumber : Koran Tempo, 20 September 2010

Kembali