Sains Dasar
Oleh:
L WILARDJO
Guru Besar Fisika UK Satya Wacana
Untunglah masih ada Terry Mart dan Bambang Hidayat. Mereka getol mengingatkan betapa pentingnya penelitian dasar dan betapa terbelakangnya kita di bidang ini.
Selama September 2011, Terry dua kali menurunkan artikel tentang penelitian dasar (Kompas, 5/9 dan 24/9). Sebelumnya, Bambang melalui komunikasi pribadi dengan teman-temannya menunjukkan keterpurukan kita. Pembandingnya tidak usah G-7 atau BRICS, bahkan di tingkat ASEAN saja kita keteteran.
Abdus Salam, fisikawan (asal) Pakistan yang bersama dengan Steven Weinberg dan Sheldon Glashow menerima Hadiah Nobel untuk teori elektro lemah (1979), menyarankan agar negara- negara yang sedang berkembang membangun infrastruktur sains yang kuat dulu sebelum bergiat dalam penelitian dan pengembangan teknologi. Tanpa infrastruktur sains yang kokoh, alih teknologi pun akan gagal, apalagi inovasi dan kreasi teknologi yang asli dalam negeri
Pendidikan sains
Kunci pembangunan infrastruktur sains tidak terletak pada kecanggihan alat-alat laboratorium, tetapi pada sumber daya manusianya. Untuk mencetak saintis harus ada pendidikan sains yang baik. Usaha yang dilakukan Yohanes Surya melalui Institut Surya dan Olimpiade Fisika Internasional patut diacungi jempol. Namun, itu saja tidak cukup. Seharusnya di setiap kabupaten/kota ada satu SMA yang setara dengan A-level (advanced level, aras maju) di Inggris atau VWO (voorbereidend wetenschappelijk onderwijs, pengajaran persiapan masuk perguruan tinggi) di Belanda, atau yang memakai kurikulum baccalaureate seperti Perancis dan Swiss.
Rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) terkesan hanya mementingkan status "wah" dengan perpustakaan dan laboratorium bagus serta ruang kelas yang dilengkapi laptop dan proyektor LCD. Namun, program pendidikannya? Mutu dan dedikasi gurunya? RSBI lebih tampak sebagai proyek etalase mahal.
Yang (pernah) menerapkan kurikulum baccalaureate Swiss setahu saya hanya sekolah internasional di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan. SMA Karangturi, Semarang, menjalankan program A-level. Itu pun hanya satu kelas kecil, yang dibiayai oleh orangtua salah satu siswa.
Strategis tetapi murah
Tentu kita harus pandai-pandai memilih penelitian sains dasar yang strategis, tetapi tidak memerlukan dana sangat besar. Penelitian dasar eksperimental berskala besar, seperti yang dilakukan di CERN (Geneva) atau di Fermilab (Batavia), sampai negara bangkrut pun mustahil dapat kita lakukan.
Kita hanya dapat menebeng dengan mengikutsertakan ilmuwan kita yang terbaik dalam penelitian di sana. Setelah proyek adipembentur adimenghantar (superconducting supercollider) di Texas gagal total, bahkan Amerika Serikat pun menebeng di CERN. Boson-boson elektro lemah yang diramalkan Salam dan Weinberg ditemukan tahun 1983 oleh Carlo Rubbia dan Simon van der Meer di CERN.
Boleh jadi perburuan zarah Higgs akan dimenangi Eropa lagi. Kalau hendak berlomba, sudah bagus apabila kita berani melawan Vietnam saja
Fisika strata satu
Di S-1 sains/teknik di UK Satya Wacana, Fisika diusahakan setara dengan undergraduate program di Universitas Illinois (Urbana-Champaign). Jadi, arasnya seperti di universitas-universitas the big ten di Amerika Barat-Tengah. Buku teksnya ialah University Physics susunan Freedman dan Young, yang setebal bantal anak balita.
Kelihatannya kami belum dapat mencapai aras kesulitan buku tersebut dan meliputnya dari "alif' sampai "ya''. Masih jauh dari aras anak-anak SMA yang dipersiapkan Yohanes Surya untuk olimpiade fisika.
Sumber : Kompas, 30 September 2011