Oleh:

Dian R. Basuki

Peminat Masalah Sains

 

Di manakah kaum cendekia kita? Ketika hari-hari kita didominasi oleh hiruk-pikuk  perpolitikan, saat kepemimpinan kita tidak menunjukkan ketegaran, di manakah kaum cendekia, yang sanggup membawa pencerahan bagi kita? Jagat keseharian kita sudah jenuh oleh segala keramaian itu, dan kaum cendekia seolah tak bersuara. Masyarakat kehilangan cahaya suar.

Suara itu, kalaupun masih ada, lamat-lamat terdengar lantaran sebagian mereka telah tergoda oleh kekuasaan. Pada mulanya, cendekia selalu terpesona oleh ide. Andai pun ia seorang empu dalam bidang tertentu, otoritas intelektualnya berkembang melampaui batas-batas bidang yang semula ia kuasai. Ia akan menjumpai dan menyapa publik yang lebih luas dan lebih beragam dengan pikiran yang lebih lapang dan lebih dalam.

Tapi kursi kekuasaan memang senantiasa menggoda. Sebagian cendekia tergiur untuk mencicipinya karena alasan yang berbeda. Pertama-tama, tentu, alasan idealis, yakni demi mewujudkan gagasan dan pikirimnya. Kekuasaan, lantaran itu, menjadi tantangan untuk menguji

apakah ide-ide para cendekia ini berhasil dalam tataran praktis.

Tentu saja dibutuhkan upaya keras untuk mengubah ide menjadi praksis, yang menggerakkan masyarakat untuk berubah. Di sinilah, ketika politik berarti praktek negosiasi, kompromi dan mungkin "penyerahan diri",  konflik internal dalam diri cendekia tak terhindarkan lagi. Bergabung dengan sebuah rezim penguasa, atau elite politik dan rezim, bukanlah pilihan yang selalu tepat lantaran watak rezim yang lebih berpikir perihal apa yang terjangkau di depan mata.

Sebagian cendekia tergiur untuk mencicipi kekuasaan karena alasan pragmatis, ingin menikmati bagaimana rasanya berkuasa sesuatu yang mungkin sebelumnya menjadi sasaran kritiknya. Berkuasa, mengatur orang agar mengikuti kemauannya, menyimpan daya tarik sendiri

sesuatu yang kerap ditampik, tak diakui, oleh para cendekia.

Dengan bergabung ke dalam rezim penguasa, menjadi bagian elite politik dan partai, apakah mereka telah mengingkari posisinya sebagai kaum cendekia? Ya, bila meminjam pengertian Julien Benda, yang menafikan tujuan-tujuan praktis dan mencari kegembiraan dalam mengolah seni atau ilmu atau renungan metafisika. Pendeknya, dalam memiliki harta yang bukan duniawi, mereka berkata dengan caranya masing-masing: "Kerajaanku tidak di dunia ini."

Mohammad Hatta adalah contoh cendekia yang berkuasa, dan kemudian tersingkir, yang

tidak menafikan habitat asalnya, yang tak mengingkari posisi awalnya karena ia bukanlah seorang partisan. Ketika seorang cendekia berubah menjadi partisan, apalagi pengagung kekuasaan, sesungguhnya ia telah melucuti pakaiannya sendiri. Soekarno muda adalah cendekia yang tangguh, namun sayang, di masa tua, kekuasaan telah memerangkapnya.Tan Malaka adalah

tipe lain, yang lebih bergerak di luar kekuasaan, yang tak sempat membentuk masyarakat sesuai dengan ide-idenya.

Menjadi cendekia yang asketis tidak tergoda oleh kekuasaan dan alasan pragmatis lain adalah jalan yang terjal. Orang-orang seperti Soedjatmoko, Kuntowijoyo, dan Sartono Kartodirdjo sanggup berpuasa untuk tak berkuasa. Mereka sanggup tetap berdiri di luar pagar kekuasaan untuk mengamati gerak masyarakat dan menyalakan api suar agar masyarakat tidak tersesat jalan. Mereka menawarkan pikiran dengan cara pikir yang mungkin tak terpikirkan oleh banyak orang.

 Di manakah orang-orang seperti mereka kini? Sebagian anak muda yang cerdas kini terjebak oleh pesona kuasa. Sebagian menjadi anggota think tank partai politik karena pengaruh internalnya sungguh menggiurkan. Sebagian lagi mendirikan institusi yang berhenti sebagai penelusur situasi politik dan pemasar kepentingan politik. Yang lain muncul, di berbagai media sebagai "pembaca peta politik". Panggung media adalah sejenis pesona lain yang tak kalah menggodanya. Sungguh sayang, mereka gagal meletakkan kecerdasan intelektualnya dalam konteks yang jauh lebih luas dan berjangkauan ke depan.

Mereka yang pernah disebut-sebut sebagai intelektual muda ini gagal menyalakan api suar, yang memandu masyarakat, karena sibuk mengurus "yang saat ini" daripada "yang kini dan yang nanti". Mereka gagal mencerahkan masyarakatnya karena silau oleh berbagai pesona kuasa.

Mereka mungkin tak ingat, atau tak setuju dengan, nasihat. Albert Camus: "Sebaiknya para cendekiawan memang tidak perlu banyak bicara. Selain hanya akan membuat mereka lelah, akan menyebabkan mereka berhenti berpikir."

Namun, dalam keadaan memaksa, kata Camus, mereka tidak boleh ragu-ragu menentukan sikap. Perang Spanyol, kamp konsentrasi Hitler, kamp konsentrasi Stalin, dan Perang Hungaria adalah beberapa keadaan yang memaksa. Namun, kata Camus lagi, "Mereka perlu berhati-hati agar pilihannya tidak dicemari oleh propaganda sepihak atau tipu daya licik, serta tidak perlu lagi memperhitungkan keuntungan pribadi dalam membela kebebasan."

Apa yang terjadi akhir-akhir ini menunjukkan bahwa kita tengah menghadapi kemampatan dalam berpikir, perdebatan kita tentang segala yang praksis telah sampai ke titik jenuh dan melingkar-lingkar di lingkungan elite politik, kering dari perdebatan yang fundamental dan mencerahkan. Semua itu menunjukkan bahwa tidak semua kekuasaan memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi bangsa ini.

Dan, ketidakmampuan yang selalu hadir dalam tubuh banyak bangsa untuk mengatasi persoalan politik, ekonomi, dan kepemimpinan memperlihatkan pentingnya peran kaum cendekia. Tapi, bila kaum cendekia tak bersuara karena terperangkap dalam pesona kekuasaan, sanggupkah mereka melontarkan api suar yang tinggi dan mencerahkan masyarakatnya?

Sumber : Koran Tempo, 7 Februari 2010

Kembali