Masyarakat Literasi Indonesia

Apa sih yang kamu harapkan dari universitas?

Banyak yang terhenyak membaca hasil survei yang dilakukan di salah satu kota besar yang menyimpulkan bahwa 20 persen mahasiswa serius untuk melakukan bunuh diri dan 30,5 persen mengalami depresi. Faktor penyebab utamanya adalah karena mereka bingung atau galau menghadapi kelulusan—mau  ke mana atau bekerja apa setelah lulus dari kuliah.[1] Ditambah kenyataan bahwa setiap tahun pengangguran sarjana terus bertambah bahkan terbanyak.[2] 

Mayoritas remaja memasuki perguruan tinggi atau menghadapi masa depan  dengan tidak memiliki tujuan yang jelas. Mereka hanya terbawa euporia oleh teman atau hanya menunaikan obsesi orang tua. Pokoknya kuliah!

Mereka memasuki perguruan tinggi hanya untuk mendapatkan selembar ijasah sebagi jaminan masa depan—yang  ternyata semakin hari semakin tidak berharga. Di masa depan yang  diutamakan  adalah kapasitas bukan hanya identitas.

Mereka mengahadapi masa depan seperti menghadapi hantu—menakutkan, penuh mitos, takhayul, hoaks; antisains—karena  tidak memiliki pengetahuan yang cukup apalagi memiliki rencana yang jelas tentang masa depan yang akan dilaluinya.  

Faktor penyebab kegalauan itu  adalah karena mereka minim dengan pengetahuan, sebagai akibat dari tidak memiliki tradisi literasi, sehingga tidak bisa melihat—apalagi  menciptakan—peluang. Padahal pengetahuan adalah kekuatan (knowledge is power). Pengetahuan adalah bekal yang pasti untuk mengarungi masa depan. Tapi,  supaya pengetahuan fungsional atau menjadi kekuatan diperlukan kecerdasan literasi untuk mengelolanya.

Mestinya dalam usia perkembangan mereka sudah memiliki road map kehidupan yang jelas untuk menuju masa depan. 

Terpanggil untuk ikut  serta dalam menyelematkan masa depan anak bangsa,  kami menyelenggarakan Akademi Kecerdasat Literasi  (AKAL).

Apa Itu AKAL ?     

AKAL (Akademi Kecerdasan Literasi) adalah bimbingan untuk mengasah kecerdasan literasi dengan menyinergikan—dengan kekuatan edukasi dan enkulturasi (pembudayaan)—seluruh  dimensi literasi (intelektual, emosional, dan spiritual) supaya kamu menjadi pribadi mahardika—rasional, mandiri, dan moderat. 

Dengan penuh kesadaran peserta langsung dibenturkan dengan realitas (learning by doing) untuk memahami dan ikut merasakan langsung kehidupan nyata,  bukan hanya menghafal dari buku, kelas dan perpustakaan. Data dan informasi yang didapat diproses (diurai, dianalisis, direkontruksi) untuk menemukan solusi menurut talenta (daya cipta) masing-masing peserta. Semua dilakukan dengan  menyenangkan tetapi terukur.

Kami menerapkan konsepsi pendidikan Ki Hadjar Dewantara (manusia merdeka). Setiap individu lahir dengan kodrat atau talentanya sendiri yang unik. Kami membimbing (mengemong) talenta itu supaya tumbuh, berkembang dan berbuah. Kami tidak akan memaksa ikan untuk naik pohon atau elang untuk menyelam. 

 

Mengapa harus masuk AKAL?

Karena dengan AKAL  kamu akan menjadi pribadi mahardika dengan memiliki sikap seperti ini: Mampu belajar mandiri (karena memiliki tradisi literasi), bisa mengambil keputusan secara objektif yang didasarkan kepada fakta dan data, tidak bersikap apriori dan tidak memberikan penilain terhadap sesuatu sebelum mengetahui keadaanya dengan baik dan akurat, gemar berdiskusi dan proaktif dalam mengembangkan wacana atau ide bukan debat kusir, menyenangi hal-hal baru dan menikmati tantangan serta perubahan, lapang dada dan toleran dalam perdebatan, melahirkan gagasa-gagasan baru, dan memiliki proyeksi yang jelas untuk masa depan.

 

Apa Keuntungannya?

Setelah masuk AKAL kamu akan merasa terarah melangkah ke masa depan.  dengan berpegang pada road map (peta jalan kehidupan) yang dibuat oleh kamu sendiri. Pandai membuat concept note karya rintisan (start-up) untuk proyeksi masa depan. 

Alumni yang melanjutkan ke perguruan tinggi/universitas tetap difasilitasi berkomunikasi untuk  konsultasi dan bimbingan dengan fasilitator dan mentor tentang karir, beasiswa luar negeri, practical work, dll.   

Alumni yang ingin langsung berkarya atau sudah punya usaha rintisan (start-up) akan difasilitasi bergabung dengan workshop (bengkel kerja) perusahaan inovatif untuk mendapatkan bimbingan (coaching) dari para pakar.

 

Peserta

Jumlah peserta dibatasi hanya 20 orang setiap angkatan dengan batas usia minimal 18 tahun. Pelatihan dilaksanakan bila kuota telah terpenuhi.

 

Fasilitator

Fasilitator  terdiri dari  ilmuwan (inventor dan inovator yang panten-patennya sudah dindustrialisasi), konsultan, dan praktisi yang telah berpengalaman di tingkat nasional dan internasional. Fasilitator menyelenggarakan coaching bagi peserta yang sudah memiliki karya rintisan (start-up). Berikut beberapa fasilitator utama kami:

 

Anto Tri Sugiarto, Ph.D.

Peraih Masuda Award dari Asosiasi Electrostatic of Japan.  Adhicipta REkayasa PII Engineering Award. Gold Award Sustainable PII Engineering Award. Paten Inovasi Award dari LIPI.  Inovator yang produktif. Beberapa patennya sudah dipabrikasi serta diterapkan di industri dalam dan luar negeri. Hasil inovasinya diterapakan dalam berbagai bidang: perikanan, pertanian, sanitasi, lingkungan, dan bidang industri lainnya.  

 

Bogi Soedjatmiko, Ph.D.

Sangat berpengalaman  sebagai fasilitator Kompetisi Karya Ilmiah Remaja, Young Inventor, dan mendampingi para ilmuwan dan inventor muda untuk mengikuti festival tingkat internasional  ke Amerika Serikat. Sekarang menjadi Direktur Utama Sebuah Perusahaan di Jawa Barat

 

Suherman, M.Si.  

Satu-satunya orang Indonesia peraih medali emas CONSAL Award, pustakawan berprestasi terbaik tingkat ASEAN. Penulis, Analis Data dan Dokumentasi Ilmiah.  Aktivitas AKAL sepenuhnya ada di bawah asuhan beliau.

 

Materi 

Dengan memahami Realitas Keindonesiaan—yang lalu, hari ini, dan yang akan datang—peserta  akan dibimbing untuk membangun mimpi atau Visi pribadi yang jelas dengan berpedoman pada Konsep Diri yang integral terutama dengan menguasai Menajemen Pikiran.  Mimpi bisa diraih dengan membangun Karakter Literasi (informasi, sains, dan media) sebagaimana kita pelajari dari orang-orang besar.  Itu semua harus tertuang dalam Road Map kehidupan. Itulah materi-materi kecerdasan literasi yang akan menjadi bekal untuk melangkah terarah ke masa depan. 

 

Pelaksanaan

Pelatihan dilaksanakan selama 2 hari 1 malam. Teori 25%, praktek 75%. Peserta dibebaskan dari menghafal dan mencatat kecuali pada saat pembuatan Concept Note karya rintisan (start up) yang dituangkan dalam bentuk narasi, mind mapping, dan infografis.

 

Tempat

Pelatihan  dilaksankan di Integrated Smart Farming Outdoor Workshop yang berlokasi di Desa Pamalayan, Kaki Gunung Cikuray, Garut, Jawa Barat.

 

Investasi

Investasi sebesaar Rp 2.500.000 per peserta.  

 

Kerja Sama

AKAL siap berkolaborasi dan bersinergi dengan perusahaan, organisasi, dan kelembagaan lainnya, terutama lembaga pendidikan, berupa in-house training atau bootcamp.      


[1] Kompas.com, 12/10/2019

[2] Data bisa dilihat dari hasil survei Badan Pusat Stasitik daerah maupun nasional yang bertebaran di internet.

Kembali