“Jikalau pada hari ini malaikat bertanya: dimanakah Garuda Indonesia yang sepuluh tahun yang lalu pada tanggal 17 Agustus 1945 mulai terbang menempuh angkasa yang penuh mendung dan taufan dan gledek itu?” (Soekarno, Dibawah Bendera Revolusi 2: 221)

 

Bung Karno menjuluki bangsa Indonesia dengan sebutan Rajawali.  Ya,  burung yang  gagah perkasa  penghuni  bumi nusantara. Ia selalu terbang melayang tinggi di angkasa mengangkangi awan menapaki cakrawala.  Sayapnya yang membentang kokoh seolah ingin merengkuh  dunia. Matanya yang tajam menghunjam ke bumi siap mengawasi setiap gerak gerik musuh yang berani memasuki wilayah NKRI. Paruh yang tajam bagaikan tombak  siap  mencabik dan mengoyak musuh yang berani penetrasi kedaulatan dalam negeri. Cakarnya yang  bagaikan terbuat dari baja siap mencengkram dan mencakar para pengkhianat bangsa yang coba-coba  untuk menjual dan menggadaikan kekayaan bangsa kepada bangsa  lain.

Akan tetapi, sejak kepergianmu Bung Karno, sang rajawali diburu beramai-ramai, dijebak, diperangkap, dan ditangkap kemudian dijebloskan kedalam sangkar sehingga kini tidak berdaya. Sayapnya tidak bisa lagi membentang merentang cakrawala karena penuh dengan kutu-kutu imperialisme dan ditelikung bahkan sebagian bulunya yang indah megah dicabuti dan dijual untuk memuaskan hawa nafsu para penguasa negeri yang tak punya harga diri.  Paruhnya taka lagi tajam karena setiap hari disuguhi makanan dan minuman siap saji yang dibuat bu kan dari hasil bumi sendiri akan tetapi diimpor dari luar negeri yang oleh  mereka sendiri disebutnya  junk food alias  makanan sampah yang merusak kesehatan. Matanya tidak lagi tajam menghujam karena setiap saat disilaukan oleh berbagai tayangan murahan melalui televisi yang mengajak kepada budaya hedonisme yang  membutakan hati dan menumpulkan akal. Kukunya tidak kuat lagi untuk mencengkarm, mencakar, dan mencabik-cabik musuh karena sudah lama digergaji dan diamputasi oleh para pencuri dan pencoleng negeri untuk mengeruk perut bumi ibu pertiwi yang hasilnya diobral ke lauar negeri. Karena sudah terlalu lama rajawali berada dalam kurungan, maka akhirnya kini sang rajawali lupa bahwa dirinya adalah rajawali.

Kini Sang rajawali tak bisa lagi memekik menggetarkan dan memekakkan telinga dunia karena kerongkongannya tersumbat oleh lendir hedonisme  dan kerikil materialisme. Sang rajawali memiliki kepribadian yang terbelah sehingga tidak bisa mengangkat dan menegakkan kepalanya. Sang Rajawali sudah lama dididik dan dilatih supaya memiliki kepribadian burung beo yang hanya bersuara  menirukan suara tuannya. Sang rajawali kini menjadi burung dara sebagai simbol perdamaian akan tetapi diam-diam dijadikan santapatan lezat di meja makan para cukong dan bohir kaya yang sedang memperjual belikan Indonesia. Mentalitas sang rajawali telah dikikis sehingga menjadi seekor emprit yang mengais-ngais makan dari sisa-sisa rampokan panin raya kekayaan nusantara. Sang Rajawali kini senang bersembunyi di kegelapan malam seperti burung hantu yang silau dengan matahari. Ia gemetar bila bertandang dan bertanding di tengah hiruk pikuk kehidupan gemerlap siang. Ia  hanya berani keluar manakala hari sudah gelap dan yang lain tengah beristirahat. Para pemimpin yang diamanahai untuk mengurus rajawali ternyata banyak yang berkhianat sehingga Sang Rajawali kini diternak seperti ayam ras yang daging dan telurnya diperjualbelikan di pasar bebas demi memenuhi nafsu serakah para elit yang hanya mementingkan diri sendiri dan konco-konconya yang tega kepada rakyatnya

Karena ketidakbecusan para pemimpin mengelola negeri ini maka kekayaan alam yang dimiliki tidak sebanding dengan kemakmuran rakyatnya. Orang pandai mengatakan bahwa  Indonesia sedang  terkena kutukan sumber daya alam atau paradoks keberlimpahan.  Indonesia yang kaya akan sumber daya alam, terutama sumber daya non-terbarukan seperti mineral dan bahan bakar, cenderung mengalami pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat dan wujud pembangunan yang lebih buruk ketimbang negara-negara yang sumber daya alamnya langka

(bersambung).

Kembali