Setelah tamat membaca otobiografi, biografi, dan  buku-buku Bung Karno kuputuskan untuk mengunjungi situsnya di Banceuy  Kota Bandung, tempat beliau dipenjara. 

Situs itu berada di tengah-tengah deretan  pertokoan yang menjejer di sepanjang Jalan  Banceuy, kalau tidak ada plang akan sulit membedakan mana toko dan mana situs bersejarah itu. Pintu masuknya pun bukan dari arah depan jalan raya akan tetapi harus melipir ke belakang memakai jalan kecil yang ada di gang sempit. Melalui pintu belakang—istilah “pintu  belakang” memang sering ditempuh banyak orang untuk memudahkan urusan—barulah kita bisa memasuki area situs itu.   

Aku diterima  oleh seorang panjaga yang sudah berusia setengah abad lebih dan menjelaskan sebentar tentang situs itu.  Pengetahuan  tentang sejarah Bung Karno  ala kadarnya bahkan  banyak  mitosnya dari pada fakta. Sempat pula aku diperlihatkan  sebuah foto di HP-nya yang menurut pengakuannya dia jepret  sendiri,  foto itu berisi gambar seberkeas asap yang menurutnya itu adalah tanda kedatangan Bung Karno. Yang tentu saja kuapreasiasi dan  memperlihatkan  wajah serius menanggapinya dan dia tampak senang ada yang mempercayai ceritanya kemudian berkata, “Pada malam-malam tertentu dia suka datang ke sini”

Segera saya minta ditinggalkan sendirinian kemudian menekung di depan patung itu dan saya tatap wajahnya, lama kelamaan wajahanya itu tersenyum dengan senyum khas Bung Karno yang mampu meruntuhkan hati setiap wanita.  

Akhirnya seolah dia bicara dengan nada yang lirih dan getir: Saya hanya patung yang beku dan dingin, tidak memiliki ruh.  Mestinya ruh, pikiran, dan semangat saya menjalar di seluruh tubuh negeri ini terutama di kalangan muda. Saya ingin ngajerit maratan langit ngoceak maratan jagat, ingin mengatakan bahwa Indonesia yang kalian lihat hari ini adalah bukan Indonesia yang saya cita-citakan. Akan tetapi ruh saya, semangat saya, spirit saya  dipenjara di jeruji besi ini dan tidak pernah bisa keluar dari patung saya ini. Penjara yang sekarang ini lebih menyakitkan daripada penjara yang saya alami dahulu. Saya khawatir  generasi yang akan datang tidak akan mempunya ruh keindonesiaan.  Kalau pun generasi yang akan datang ingin menjadi generasi rajawali harus keluar dari cangkang keindonesiaan yang sekarang ini.

Aku disadarkan oleh suara adzan yang cukup keras dari masjid agung.  Tidak terasa hampir dua jam termenung. Sebelum pulang aku minta penjaga untuk mngambil gambarku, maka aku dekap patung Bung Karno erat-erat. Seolah-olah patung itu   berbisik kepadaku, ”Aku titipkan Indonesia kepadamu.”

Kembali