Kalau Anda masuk ke toko buku yang sangat terkenal di Indonesia, pasti langsung disuguhi novel-novel terjemahan—terutama dari Barat—yang  tampilan di display utama dengan  judul-judulnya sangat menarik. Karya sastra dari Barat makin membanjiri bahkan sudah berupa invasi kebudayaan.  

Beberapa tahun yang lalu saya dikagetkan dengan antrian para pencinta novel Harry Potter yang sampai mengular. Bukan hanya di Indonesia ternyata. Tentu saja ini efek dari media massa, film,  dan media sosial yang ikut bermain dalam marketing novel ini. Padahal di Amerika novel tersebut dianjurkan untuk tidak dibaca karena isinya banyak mengandung klenik. Dapat pelajaran apakah kita dengan novel-novel itu? Apakah hanya sekedar hiburan atau dengan dalih untuk meningkatkan minat baca atau kebiasaan membaca?

Salah satu cara yang sangat halus untuk melakukan penjajahan budaya adalah melalui sastra. Pada tahun 1930 pada Kongres Taman Siswa, Ki Hadjar Dewantara sudah mewanti-wanti supaya kita berhati-hati dengan novel-novel Barat karena “roman-roman Barat umumnya merusak perasaan kesucian serta menjauhkan mereka daripada jiwa kebangsaannya.”  

Tentu saja ada juga pesan moral yang baik—yang  umumnya bertema kebaikan menang  melawan kebatilan—akan  tetapi yang jauh lebih  banyak adalah pesan-pesan budaya, terutama gaya hidup bebas dan berpikir bebas, yang dominan mewarnai narasi. Novel-novel itu menjadi alat westerinisasi generasi muda Indonesia. Kalau misi ini berhasil, dan memang sudah berhsil, maka masyarakat kita akan tetap jumud dan tergantung pada Barat. Masihkan kita peduli membangun kemandirian bangsa?

Kembali