Konspirasi Literasi-1: Proyek Global
Literasi telah menjadi program global (SDGs) dan telah dijadikan program prioritas oleh Bappenas dengan nama ‘Literasi untuk kesejahteraan” yang juga dijadikan tagline oleh Perpustakaan Nasional RI.
Sebelum menjadi program banyak sekali hasil riset dirilis oleh lembaga global terutama UNESCO atau lembaga turunannya. Yang sangat terkenal adalah indeks literasi yang dibuat oleh PISA yang menempatkan Indonesia berada diurutan kedua dari bawah. Serta hoaks indeks baca Indonesia 0,001 yang katanya dari UNESCO juga. Sampai hari ini saya belum menemukan bagaimana formulasi ideks baca yang digunakan itu. Sepanjang saya jadi iktvitas literasi belum pernah dilibatkan dalam penelitian mereka. Kita tidak tahu Indonesia yang sebelah mana yang diteliti. Siswa sekolah apa yang dijadikan sample. Sebenarnya semua itu bisa diatur untuk rasionalisasi kepentingan mereka
Literasi telah menjadi program dan akhirnya proyek global. Dan tentu saja mereka sudah memiliki formulasi untuk soslusinya yang mustahil gratisan.
Mestinya kita selalu hati-hati menerima hasil-hasil survei itu, karena mereka melakukan survei bukan iseng akan tetapi pasti ada motif-motif tertentu. Begitu isu muncul sudah punya solusinya. Ibarat bikin penyakit atau wabah karena ingin jualan obat atau vaksin. Itu hanya akal-akala neo kolonialme dan imperialisme saja untuk menciptakan proyek.
Mestinya kita antisipatif dan mencoba membuat formulasi dan inovasi sendiri. Jangan membebek saja terhadap apa yang ditawarkan oleh mereka. Yang namanya imperialis sampai kapan pun yang dipikirkannya tentu saja mengeruk keuntungan. Ingat kata Soekarno, “imperialisme tidak pernah mati, hanya berganti bulu.”
Mungkin Anda tidak percaya kepada konspirasi. Ya, tersesah saja. Tidak percaya kepada konspirasi itu juga merupakan salah satu hasil konspirasi supaya proyek berjalan mulus.